Apakah Amerika Mengulang Sejarah Inggris Yang Tertidur?

Apakah Amerika Mengulang Sejarah Inggris Yang Tertidur?

Setelah Perang Dingin, orang Amerika berasumsi bahwa tidak ada negara lain yang bisa menandingi Amerika Serikat dalam kekuatan militer dan kepemimpinan teknologinya. Kenyataannya adalah bahwa program modernisasi pertahanan di Rusia dan China, serta kemajuan di Iran dan Korea Utara, mengancam akan menjadi lompat katak untuk melampuai Amerika.

Robert J. Samuelson, seorang kolumnis di The Washington Post dalam tulisannya di Independent Record Selasa 25 Desember 2018 dan dikutip JejakTapak mengatakan militer memainkan dua peran penting dalam mempertahankan tujuan internasional Amerika. Yang pertama adalah untuk mencegah agresi yang akan membahayakan kepentingan Amerika, karena musuh potensial percaya peluang mereka untuk menang tidak ada artinya.

Yang kedua adalah untuk bertarung  dan untuk memenangkan  perang guna melindungi kepentingan yang sama. Dalam kedua kasus itu, militer Amerika berada pada lintasan menurun.

“Tidak percaya? silakan baca laporan baru-baru ini dari Komisi Strategi Pertahanan Nasional yang dibuat oleh sekelompok ahli sipil dan pensiunan perwira militer atas permintaan kongres,” tulisnya.

Dalam laporan tersebut menurut Samuelson disebutkan Rusia dan China memiliki kemampuan serangan presisi, pertahanan udara terintegrasi, rudal jelajah dan balistik, perang cyber canggih dan kemampuan anti-satelit.

“Jika Amerika Serikat harus melawan Rusia dalam kontingensi Baltik atau China dalam perang melawan Taiwan, Amerika dapat menghadapi kekalahan militer yang menentukan. Amerika telah mencapai titik krisis keamanan nasional penuh.”

Keunggulan udara, yang diterima Amerika Serikat sejak Perang Dunia II, tidak lagi terjamin. Dan, tanpa kontrol dari langit, kapal dan tentara AS akan sangat rentan.

Tergelincirnya kekuatan militer Amerika, menurutnya setidaknya dikarenakan tiga faktor dengan hanya dua yang bisa Amerika bisa berupaya untuk mengubahnya.

Yang pertama adalah keputusan negara lain untuk memperkuat militer mereka, di mana Amerika tidak bisa mengubahnya. Yang kedua adalah sifat perang yang berubah-ubah, dengan munculnya perang cyber dan teknologi baru lainnya seperti satelit komunikasi dan sejenisnya serta yang ketiga pemotongan pengeluaran pertahanan yang tidak bijaksana. Dua hal yang terakhir ini menurut Samuelson Amerika bisa mengubahnya.

Dalam soal anggaran dia mengutip data dari tahun fiskal 2010 hingga 2015, pengeluaran pertahanan turun 26 persen, dari US$ 794 miliar (dalam dolar inflasi 2018) menjadi US$ 586 miliar. Jika tidak termasuk biaya Irak dan Afghanistan, penurunannya adalah 12 persen, dari US$ 612 miliar menjadi US$ 541 miliar pada tahun yang sama.

Pada tahun 1960, pertahanan adalah 52 persen dari pengeluaran federal dan 9 persen dari keseluruhan kegiatan ekonomi (produk domestik bruto). Pada 2017, angkanya hanya 15 persen dari pengeluaran dan 3 persen dari PDB.

Pengeluaran militer dalam persaingan yang tenang dengan kesejahteraan Amerika – Jaminan Sosial, Medicare, Medicaid, kupon makanan dan sejenisnya – yang sekarang mewakili sekitar 70 persen dari pengeluaran anggaran.

“Pentagon kalah telak. Program kesejahteraan memiliki konstituensi pemilih yang luas. Pertahanan lebih sedikit. Mereka memilih kesejahteraan, sementara bersikeras bahwa militer Amerika masih yang paling kuat di dunia. Ini merasionalisasi kelambanan pada pertahanan tetapi dengan mudah lupa bahwa margin superioritas militer telah secara dramatis menyusut,” tambahnya.

Sementara itu, musuh potensial terus mempersenjatai diri. Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan Amerika-China, kelompok pengawas lainnya yang dibentuk kongres  melaporkan bahwa China baru-baru ini memperkenalkan pesawat tempur siluman baru (J-20) dan rudal balistik serta jelajah yang tumbuh dan dapat menargetkan pangkalan Amerika termasuk kapal induk.

Demikian pula, Rusia pekan lalu mengklaim telah berhasil menguji coba rudal hipersonik yang ditanggung oleh kapal yang bergerak sekitar delapan kali kecepatan suara. Amerika Serikat dikatakan tidak memiliki pertahanan untuk melawannya.

Apa yang terjadi sekarang seperti mengulang sejarah periode sebelum Perang Dunia II, ketika Inggris, Prancis dan Amerika Serikat mengizinkan Hitler mempersenjatai kembali Jerman, mengubah keseimbangan kekuatan global. Kepuasan delusi mengingatkan buku John F. Kennedy yang berjudul “Why England Slept.” (Kenapa Inggris Tertidur).

“Ini bukan seruan untuk perang. Ini adalah panggilan untuk menghentikan banyak luka yang diderita sendiri. Kita perlu berhenti kekurangan dana militer, terutama pada penelitian dan perang cyber, bahkan jika itu berarti mengurangi  kesejahteraan. Kita perlu menjaga komitmen kita – penarikan Trump yang tiba-tiba dari Suriah merendahkan kata-kata kita. Dan kita perlu memperbaiki aliansi kita,” kata Samuelson lagi.

Untuk diketahui militer.or.id selalu mencuri berita dan tulisan dari web lain tanpa izin, tanpa menyebutkan sumber dan memundurkan waktu uplode.

Perang sedang berubah, dan menurut Samuelson Amerika perlu berubah menyesuaikan. “Kalau tidak, kita bisa hanyut dalam perang besar yang mustahil untuk menang. Tentunya kita tidak membutuhkan buku berjudul “Why America Slept.”

Kami sangat menghargai pendapat anda. Bagaimanakah pendapat anda mengenai masalah ini? Tuliskanlah komentar anda di form komentar di bagian bawah halaman ini.

administrator
Menyebarkan berita berita <a><b>Militer Indonesia</b></a> dari media media mainstream Asia dan Indonesia. Mendambakan Kekuatan Militer Indonesia menjadi salah satu yang disegani kembali di kawasan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *