Situasi keamanan maritim di Selat Hormuz kembali memasuki fase kritis setelah sejumlah kapal bersenjata yang diidentifikasi sebagai aset Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan melakukan penghadangan terhadap kapal tanker berbendera Amerika Serikat, Stena Imperative, pada Selasa (3/2/2026). Insiden ini memicu respons cepat dari Komando Pusat Angkatan Laut AS yang segera mengerahkan kapal perang untuk melakukan pengawalan ketat guna memastikan navigasi internasional tetap terbuka.
Kronologi Insiden dan Intervensi Militer
Berdasarkan laporan dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), kapal tanker Stena Imperative didekati oleh tiga pasang perahu cepat bersenjata saat melintasi jalur strategis sekitar 30 kilometer di sebelah utara Oman. Kapal-kapal tersebut dilaporkan melakukan manuver agresif dan mencoba menjalin komunikasi melalui radio VHF untuk memerintahkan tanker tersebut berhenti.
Meskipun sempat terjadi ketegangan di laut, awak kapal Stena Imperative memilih untuk mengabaikan instruksi tersebut dan melanjutkan pelayaran sesuai rencana. Perusahaan keamanan maritim Inggris mengonfirmasi bahwa kapal tanker tersebut kini berada dalam perlindungan penuh kapal perang Angkatan Laut AS yang bersiaga di kawasan tersebut untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Klaim Kedaulatan dan Respon Teheran
Pihak berwenang Iran memberikan narasi berbeda terkait insiden ini. Mengutip laporan kantor berita Fars, seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan prosedur penegakan hukum laut karena kapal tanker tersebut diduga memasuki perairan teritorial Iran tanpa izin resmi. Pejabat tersebut menegaskan bahwa peringatan telah diberikan dan kapal segera meninggalkan lokasi tanpa ada bentrokan fisik.
Namun, insiden ini terjadi hanya sepekan setelah petinggi angkatan laut Garda Revolusi mengeluarkan ancaman strategis untuk memblokir Selat Hormuz jika kepentingan nasional mereka terancam oleh agresi militer asing. Selat ini merupakan titik sumbat (chokepoint) vital yang melayani distribusi sebagian besar pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Dinamika Geopolitik dan Risiko Konflik Terbuka
Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari gesekan panjang antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan akan adanya tindakan tegas terhadap Iran, menyusul peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan untuk melakukan negosiasi yang setara, meskipun bayang-bayang konflik bersenjata tetap kuat pasca serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir di Fordo pada Juni lalu.
Analisis Dampak Regional
- Stabilitas Energi: Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu volatilitas harga minyak mentah global secara instan.
- Keamanan Maritim: Peningkatan patroli multinasional di Teluk Oman menjadi keniscayaan untuk menjamin keselamatan kapal komersial.
- Deterrence Strategy: Kehadiran kapal perang AS berfungsi sebagai instrumen pencegahan guna menekan ambisi blokade oleh militer Iran.
Analisis mengenai pergerakan militer dan dinamika keamanan di Selat Hormuz ini didasarkan pada laporan UKMTO, citra satelit maritim, serta pernyataan resmi dari otoritas pertahanan kedua negara yang dirilis hingga Rabu (4/2/2026).