dok. APC Pandur II Ceko. (credit: CS92 via commons.wikimedia.org)

Jakarta, Militer.or.id – BUMN bidang alat pertahanan PT Pindad menggandeng Czechoslovak Group (CSG) mengenalkan sebuah kendaraan tempur terbarunya berjenis panser hasil kerja sama dengan Negara Ceko tersebut.

Panser ini merupakan hasil pengembangan Panser Steyr Pandur II 8×8 produksi perusahaan pertahanan asal Ceko, Czechoslovak Group (CSG).

General Manager Special Vehicle, PT Pindad Agus Edy Suprihanto di Jakarta, Kamis, 8/11/2018 mengatakan hingga kini, panser terbaik yang diproduksi Pindad adalah APS-3 Anoa yang merupakan panser 6×6 alias enam roda saja.

“Panser 8×8, memiliki karakteristik yang berbeda dengan panser 6×6, khususnya dalam pengembangan untuk memasang canon kaliber 105. Kelebihan panser ini mampu `berenang’ layaknya kendaraan amphibi sekaligus mempunyai kemampuan mobilitas yang tinggi (high mobility),” kata Edy Suprihanto.

Menurut dia, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Ceko untuk memproduksi panser 8×8, sehingga diharapkan tidak hanya produksi, tapi juga alih teknologi bagi Pindad menjadi sangat penting khusunya dibidang kendaraan 8×8.

“Panser ini mampu bawa pasukan lebih dari 12 orang. Yang jelas untuk infanteri kaliber 30 mm itu yang pertama kali kita lakukan,” katanya disela-sela pameran industri pertahanan “Indo Defence 2018 Expo & Forum” di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, dirilis Antara.

Agus menyatakan, panser tersebut masih berupa purwarupa atau prototype saja dan belum diproduksi secara massal. Dia optimistis kalau perusahaan Pindad mampu memproduksi panser tersebut di dalam negeri dan diharapkan dapat dilakukan dalam waktu dekat.

Proses kerja sama antara CSG dengan pihak TNI telah terjalin sejak 2016 lalu. Pandur II 8×8 adalah satu di antara tiga produk CSG yang sudah dibeli TNI pada saat itu yang pembelian itu disertai dengan kesepakatan alih teknologi antara kedua negara.

“Dalam realisasinya kami joint production. Dari sisi kematangan desain sudah ada di pihak CSG. Untuk kebutuhan di Indonesi, Pindad produksinya di bawah supervisi dari pihak CSG. Kemudian navigasinya kita bisa saat ini untuk infantri menggunakan senjata kaliber 30 mm,” ujarnya.

Agus menambahkan, proses pembuatan panser tersebut membutuhkan waktu cukup lama karena untuk mendatangkan komponen utama bisa menghabiskan waktu sampai 9-11 bulan. Oleh karena itu, produksinya sangat bergantung pada pasokan atau “supply chance”.

Ini tahun pertama, tahun kedua akan lebih pendek lagi waktunya karena strategi ‘supply chance’ nya akan lebih mudah. Kita sudah pesan dua tahun misalnya untuk konsep produksi sehingga kemudahan untuk merakit ditahun kedua akan lebih cepat,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Operasional CSG Indonesia Ashar Sjarfi menyerahkan nama panser itu sepenuhnya kepada Pindad.

“Namanya belum diresmikan oleh Pindad, basisnya adalah Pandur II 8×8 dari Ceko yang sudah dikembangkan bersama Pindad dari 2016,” ujarnya.

Kami sangat menghargai pendapat anda. Bagaimanakah pendapat anda mengenai masalah ini? Tuliskanlah komentar anda di form komentar di bagian bawah halaman ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here