Duterte Kecam Latihan Militer di Laut China Selatan

ilustrasi: Destroyer USS John S McCain. (Navy Petty Officer 3rd Class James Vazquez)

Singapura, Militer.or.id – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengecam setiap latihan militer di Laut Filipina Barat yang merupakan bagian dari Laut China Selatan, yang disengketakan karena akan menciptakan gesekan dan provokasi terhadap China.

“Saya katakan China sudah memiliki dan Laut Filipina Barat sekarang ada di kendali mereka. Jadi mengapa Anda harus membuat gesekan dengan menggelar kegiatan militer di wilayah yang disengketakan itu,” ujar Rodrigo Duterte di sela-sela KTT ASEAN ke-33 di Singapura, Kamis,15/11/2018, dirilis Antara.

Duterte mengaku tidak keberatan semua orang pergi berperang. Namun Filipina akan menjadi yang pertama menderita apabila ada tembakan di situ.

HARUS BACA :  Upgrade Tu-22M3M Untuk Bawa Rudal Hipersonik

“Itu adalah satu-satunya kepentingan nasional saya di sana. Tidak ada yang lain,” ujar dia.

Filipina dan China memiliki klaim yang tumpang tindih di Laut China Selatan, bersama dengan Vietnam, Taiwan, Malaysia dan Brunei.

Sementara itu, Duterte akan melakukan yang terbaik untuk mendorong penyelesaian kode etik (COC) di Laut China Selatan.

HARUS BACA :  Militer Azerbaijan Uji Akurasi BTR-82A Buatan Rusia

Duterte mengatakan bahwa negara-negara lain harus menerima kenyataan bahwa China berada di perairan yang disengketakan.

“Semua negara baik itu Amerika Serikat harus menyadari bahwa China ada di sana. Jadi jika Anda terus menciptakan gesekan dan salah perhitungan, maka keadaan malah akan bertambah buruk,” ujar dia.

HARUS BACA :  Menko Polhukam dan Utusan Presiden Rusia Bahas Kerja Sama, Termasuk Su-35

China telah mengklaim hampir 90 persen dari Laut Cina Selatan yang disengketakan di tengah klaim dari beberapa negara seperti Filipina, Brunei, Malaysia, Taiwan dan Vietnam.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri, Jose Tavares optimis pembicaraan awal tentang kode etik di Laut China Selatan dapat diselesaikan pada 2019.

“Negara-negara anggota ASEAN telah menyepakati teks negosiasi tunggal untuk Laut China Selatan dan saat ini sedang dalam proses membaca pertama dari dokumen teks negosiasi tunggal itu,” ujar Jose Tavares.

Kesepakatan teks negosiasi tunggal itu menunjukkan bahwa negara-negara anggota ASEAN memiliki pandangan yang sama.

“Sehingga akan mempermudah proses negosiasi kepada China. Kami percaya bahwa proses negosiasi akan berjalan dengan lancar,” ujar Jose Tavares.

HARUS BACA :  Mutasi Jabatan 85 Pati TNI
HARUS BACA :  Upgrade Tu-22M3M Untuk Bawa Rudal Hipersonik

Rincian dalam rancangan negosiasi tunggal untuk Laut China Selatan itu sedang diselesaikan dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-33 dan Pertemuan Terkait di Singapura.

China dan 10 negara anggota ASEAN selama bertahun-tahun berusaha menyusun kode etik untuk mengatur perselisihan di Laut China Selatan. Namun proses menyamakan konsep dalam penyelesaian sengketa Laut China Selatan berjalan lambat.

“Negara-negara anggota ASEAN dan China sebelumnya masing-masing memiliki dokumen COC. Sehingga mereka memiliki pandangan yang berbeda satu sama lainnya,” kata dia.

Kami sangat menghargai pendapat anda. Bagaimanakah pendapat anda mengenai masalah ini? Tuliskanlah komentar anda di form komentar di bagian bawah halaman ini.

Rendy Raditya
Menyebarkan berita berita Militer Indonesia dari media media mainstream Asia dan Indonesia. Mendambakan Kekuatan Militer Indonesia menjadi salah satu yang disegani kembali di kawasan.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here