Meski Pasukan Khusus Terbaik di Dunia, Duvdevan Pernah Gagal Lakukan Misi

Meski Pasukan Khusus Terbaik di Dunia, Duvdevan Pernah Gagal Lakukan Misi

Paratroopers Reconnaissance in training (Foto : Flickr Israel Defense Forces Paratroopers Brigade Reconnaissance Batallion in Live Fire Drill)

Bukan Sayeret Matkal ataupun Mossad, atau unit Shayetet-13 milik Angkatan Laut Israel (mirip SEAL), atau unit 669 milik Angkatan Udara Israel atau YAMAM (mirip dengan SWAT), tapi Duvdevan – lah unit kontra terorisme dan penyelamatan sandera paling elite milik militer Israel.

Duvdevan atau yang artinya “Cherry” dalam bahasa Inggris, memiliki keunggulan dalam misi penyusupan mandiri, ahli dalam penyamaran dan beroperasi di daerah perkotaan atau pedesaan Palestina.

Anggota tim sangat ahli dalam berbagai kemampuan tempur, misi anti terorisme, gerilya, sniper, pertarungan jarak dekat, misi penangkapan dan eksekusi target tinggi, dan mahir menggunakan semua jenis persenjataan yang ada di dunia.

Duvdevan adalah tim terbaik dari yang terbaik, dan diklaim belum pernah menderita korban jiwa ‘akibat serangan musuh’ saat melaksanakan tugasnya sejak didirikan tahun 1987.

Namun bukannya tanpa cela, Duvdevan pernah melakukan misi yang menjadi bencana. Misi tersebut gagal bukan karena serangan musuh namun akibat tembakan dari teman sendiri.

Saat itu pukul 9 malam tanggal 26 Agustus 2000, tim pasukan operasi khusus Duvdevan meninggalkan pemukiman Shavei Shomron berangkat menuju sebuah rumah di desa Asira al-Shamaliya yang terletak di lereng Gunung Eival dekat Nablus. Mereka melaksanakan misi yang disebut Operasi Symphony of Life.

Menurut intelijen, target prioritas tinggi ada di rumah, Mahmoud Abu Hanoud, yang pada hari-hari sebelum intifada kedua dianggap sebagai anggota sayap bersenjata Hamas, dan bertanggung jawab atas kematian puluhan warga Israel.

Semuanya berjalan sesuai rencana sampai salah satu tim sniper di atas mendapati beberapa orang-orang bersenjata mengendap-endap di atap rumah. Tim sniper pun melepaskan beberapa tembakan yang merobohkan beberapa pria diatas rumah tersebut.

Ternyata tim sniper salah mengindetifikasi, orang-orang yang ditembak bukan orang Palestina, mereka adalah tim Duvdevan. Tiga anggota tim Duvdeva tewas di tempat dengan luka tembakan dibagian dada dan kepala.

Meski sudah berlalu 18 tahun, hingga kini operasi Symphony of Life tersebut masih menjadi trauma bagi anggota tim yang terlibat.

Haarets

Kami sangat menghargai pendapat anda. Bagaimanakah pendapat anda mengenai masalah ini? Tuliskanlah komentar anda di form komentar di bagian bawah halaman ini.

administrator
Menyebarkan berita berita <a><b>Militer Indonesia</b></a> dari media media mainstream Asia dan Indonesia. Mendambakan Kekuatan Militer Indonesia menjadi salah satu yang disegani kembali di kawasan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *