Benarkah Rudal Hipersonik Tak Mungkin Dicegat & Mengubah Permainan?

Sejumlah negara terutama China, Rusia dan Amerika berlomba-lomba untuk membangun senjata hipersonik. Sebuah senjata yang diyakini tidak akan bisa diadang oleh sistem pertahanan udara manapun.

Secara mudah senjata hipersonik berarti bisa melakukan perjalanan minimal 5 Mach atau lima kali kecepatan suara

“Ketika kita berbicara tentang senjata hipersonik hari ini kita mengacu pada dua jenis tertentu,” jelas George Nacouzi, insinyur senior di organisasi riset dan analisis RAND.

Dua jenis tersebut adalah hypersonic glide vehicles (HGV) dan hypersonic cruise missiles (HCM). Menurut Nacouzi HGV diluncurkan pada rudal dan dilepaskan pada ketinggian sekitar 40km atau lebih tinggi. Kecepatan dan ketinggian awal ini memungkinkan mereka untuk meluncur dengan kecepatan hipersonik. Mereka dapat bermanuver selama lintasan sehingga sulit untuk diprediksi lokasi yang hendak dihantam.  Sedangkan HCM adalah rudal jelajah yang bisa mencapai kecepatan hipersonik.

Rincian tentang siapa yang saat ini memiliki akses ke persenjataan hipersonik agak kabur karena sifat teknologi yang sangat rahasia, tetapi Cina, Rusia dan Amerika semuanya diketahui sedang mengembangkan prototipe di daerah tersebut. Prancis dan Jepang juga dikabarkan mulai terjun ke teknologi tersebut.

“Laporan berita mengindikasikan bahwa China dan mungkin Rusia, mungkin telah menyebarkan senjata ini atau setidaknya akan segera memiliki senjata hipersonik,” kata Nacouzi. “Amerika belum memiliki senjata hipersonik operasional, tetapi tampaknya telah mencapai perkembangan senjata ini dengan cepat. Beberapa negara lain telah meneliti sistem hipersonik tetapi banyak yang mengklaim bahwa mereka hanya untuk penggunaan sipil. ”

HARUS BACA :  Batalkan Penjualan Senjata ke Arab Itu Bodoh, Hanya Untungkan Rusia dan China

Dengan kecepatan yang sangat tinggi, memang senjata ini akan menjadi sangat sulit untuk dicegat sistem pertahanan udara yang ada sekarang ini. Tidak hanya masalah kecepatan, tetapi juga kemampuan manuvernya.

Peneliti Royal United Services Institute (RUSI), Justin Bronk, sebagaimana dikutup Air Force Technology menjelaskan bahwa sistem pertahanan balistik bergantung pada fakta bahwa rudal, berdasarkan sifatnya, mengikuti lintasan balistik dan dapat diprediksi.

“Setelah Anda melapaskan hypersonic glide vehicles, dia mampu mengubah arah cukup signifikan, dan mengubah jalur penerbangannya,” tambahnya. “Anda kemudian melihat sesuatu yang tidak lagi mengikuti jalur yang dapat diprediksi.”

Bronk juga mengatakan selain dari sistem ground-based interceptor (GBI) yang belum terbukti yang sedang dikembangkan dengan biaya besar di Amerika, saat ini tidak ada kemampuan untuk mencegat bahkan ICBM standar.

Bronk menunjukkan bahwa di Amerika setidaknya, pertahanan rudal ICBM saat ini difokuskan pada melawan satu atau dua ICBM yang ditembakkan dari negara nakal seperti Korea Utara atau Iran, dan sistem GBI AS tidak akan mampu bertahan melawan serangan skala besar dari Rusia atau China meski tidak menggunakan rudal hipersonik.

Kemampuan Destruktif

Kemampuan destruktif senjata-senjata ini juga harus dipertimbangkan. Muatan nuklir dapat ditempatkan pada rudal hipersonik, yang berarti beberapa negara akan memiliki akses ke persenjataan nuklir yang dapat dengan mudah melewati sistem pertahanan. Tetapi bahkan jika misil ini tidak memiliki muatan, energi kinetik yang dilepaskan ketika tabrakan membuat senjata hipersonik bisa sangat merusak.

HARUS BACA :  Pesawat Tempur TNI AU Kembali ke Homebase

Ini membuat mereka sangat berbahaya bagi kapal, kata Bronk. “Jika Anda memiliki rudal hipersonik langsung menabrak buritan atau lambung, maka itu akan langsung menembus kapal. DF-21D China pada pada dasarnya dirancang sebagai pembunuh pembawa. Bahkan tanpa hulu ledak, jika itu datang secara signifikan di atas kecepatan 5 Mach dan berhasil mencapai dek kapal induk mungkin tidak akan menenggelamkannya, tapi itu pasti akan menjadi misi membunuh. ”

Tetapi tentu saja hal itu dalam hitungan teori. Karena menargetkan sesuatu yang spesifik seperti kapal induk yang sangat kompleks bukan hal yang gampang. Banyak tantangan pembangunan rudal hipersonik datang terutamaq dalam hal bagaimana mengendalikan rudal dengan baik agar mencapai tingkat akurasi tinggi.

Dengan rudal anti kapal antiersonik, misalnya, perbedaan panas antara bagian atas dan bawah rudal begitu kuat sehingga tubuh benar-benar berubah bentuk dalam penerbangan. Perbedaan ini membuat penargetan aerodinamis menjadi sangat sulit, dan merupakan salah satu tantangan rumit dan mahal yang sedang diatasi oleh Amerika, Rusia, dan China.

Mengubah Permainan

Kemajuan senjata hipersonik memiliki potensi untuk menggoyang keseimbangan kekuatan dalam pertempuran udara dan peperangan. Menurut Bronk ada kekhawatiran dalam industri militer dan pertahanan teknologi yang ada sekarang ini seperti radar pesawat anti-siluman canggih tidak akan mampu menghadapi ancaman masa depan.

HARUS BACA :  Trump Berharap Tak Ada Masalah dengan F-35 Turki

“Tapi jika Anda membawa masuk, misalnya, rudal jelajah hipersonik secara otomatis Anda memindahkan keseimbangan kekuatan.”

Tentu saja, jika lawan juga memiliki akses ke persenjataan hipersonik, itu membuat situasinya jauh lebih rumit. Seperti yang Nacouzi katakan, “senjata masa depan ini akan memudahkan lawan untuk berhasil menyerang target yang sebelumnya tidak dapat dijangkau karena pertahanan dan jangkauan. Baik siklus serangan dan waktu pertahanan akan dikompresi ”.

Hipersonik memiliki kemampuan untuk secara signifikan mengubah perang udara, tetapi tidak mungkin skenario ini akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat. Biaya ekstrem yang diperlukan untuk mengembangkan dan memproduksi senjata-senjata ini adalah penghalang signifikan bagi sebagian besar negara di seluruh dunia.

“Saya pikir ini adalah salah satu daerah di mana akan ada kesenjangan yang sangat besar. Ini akan tetap menjadi kemampuan negara-negara yang mampu masuk ke dalam permainan dan itu juga butuh waktu lama,” kata Bronk.

Dan karena sifat pengembangan senjata hipersonik yang sangat rahasiakita tidak mungkin melihat negara manapun yang menawarkan potensi operasional dari kemampuan hipersonik mereka.

Kami sangat menghargai pendapat anda. Bagaimanakah pendapat anda mengenai masalah ini? Tuliskanlah komentar anda di form komentar di bagian bawah halaman ini.

Nurul Tejehttps://www.militer.or.id
Sangat berminat kepada hal hal yang berbau alutsista Rusia dan Soviet. Mampu mendeskripsikan dengan baik pesawat pesawat tempur buatan Soviet dalam diskusi seru. Kontak jika mau ngopi bareng dan berbincang seru.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here