Effendi Simbolon: MEF TNI Masih Tertatih-Tatih

Effendi Simbolon: MEF TNI Masih Tertatih-Tatih

Indo Defence 2018 telah resmi ditutup pada Sabtu (10/11/2018). Pameran ini digelar selama empat hari mulai 7 – 10 November 2018.

Anggota Komisi 1 DPR RI, Effendi Simbolon, mengatakan Minimum Essential Force (MEF) dalam pengadaan alutsista TNI membutuhkan dukungan anggaran yang sangat besar, namun harus diakui bahwa dukungan anggaran pertahanan kita masih sangat terbatas, sebagaimana dilansir dari laman Tangerang Online (10/ 11).

“Belum ada terobosan yang membuat kita kemudian bisa optimis, paling, ya, kebutuhan alutista-alutsista yang dasar yang bisa kita konsumsi ya, seperti peluru, senapan serbu, kemudian (panser) Anoa, ya, jenis-jenis sea rider, kapal-kapal juga, ya, pesawat, helikopter, masih sifatnya kombinasi antara yang kita impor dengan yang kita rakit di Indonesia. Jadi, ya memang masih sebatas itu, pengadaan alutsista belum ada yang bisa mengisi pasar domestik dalam negeri,” ujarnya di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (10/11/18).

DPR RI melihat itu semua sebagai hal yang wajar, mengingat keterbatasan anggaran pertahanan, terutama anggaran untuk produksi dalam negeri yang di produksi BUMNIS, diluar anggaran Kementerian Pertahanan (Kemhan).

Sudah pernah dicoba terobosan dengan pola kerjasama, namun lagi-lagi belum terlihat hasilnya.

“Mereka (BUMNIS) seharusnya mendapatkan dana alokasi yang cukup untuk membangun Industri Pertahanan di Indonesia, padahal Industri Pertahanan kita, hasil produksinya bagus-bagus,” terangnya.

Kesuksesan Panser Anoa buatan PT Pindad, senapan serbu SS2 yang juara dunia dalam lomba tembak AARM dan alutsista lainnya produksi dalam negeri sudah cukup menunjukkan bahwa alutsista produksi dalam negeri mampu bersaing dengan alutsista buatan luar negeri.

Menurutnya, kita mungkin bukan mengejar Industri Pertahanan dalam negeri yang kuat, karena kebijakan pemerintahan negara kita tidak mengarah ke sana.

Terkait medium tank “Harimau” hasil kerjasama Indonesia-Turki (Pindad dan FNSS), dikatakan, semua itu kembali lagi kepada kebijakan pemerintah.

Pemerintah dan DPR RI, kata dia, bukan tidak mengetahui persoalan yang dialami atas alutsista kita, namun dikarenakan industri dalam negeri belum kuat, sehingga mau tidak mau, harus melakukan impor alutsista dari Amerika Serikat, Rusia, China, Turki dan dari berbagai negara lainnya.

“Mengapa bisa begitu? Karena berpulang dari kebijakan negara. Kalau kebijakan negara (menyatakan) wah, dalam lima tahun kedepan, saya harus punya pesawat tempur, kapal perang, saya mau punya kapal selam, saya mau punya bahkan nuklir, itu pasti akan mengarah kesana seluruh kekuatan kita. Tapi kan, negara kita memilih untuk tidak kesana,” jelasnya.

“Jadi, bukan tidak mau atau tidak mampu, tapi pilihannya (pemerintah) tidak kesana. Minimum Essential Force (MEF) hingga saat ini, masih juga belum tercapai, karena masih berjalan tertatih-tatih. Hal itu disebabkan anggaran negara kita masih memprioritaskan diantaranya untuk bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Walaupun sebenarnya, masalah tersebut tidak akan ada habis-habisnya. Indonesia, sejak orde baru, semestinya bisa mendeklarasikan sebagai bangsa yang kuat dalam menyikapi stabilitas keamanan di kawasan atau Asean. Sekarang kan kita lebih cenderung sebagai negara yang memiliki bargaining position (dikawasan), tidak terlalu kuat, sebagaimana yang terjadi dulu (jaman orde baru),” katanya.

Photo: Medium Tank di Indo Defence 2018 (Kemhan)

Kami sangat menghargai pendapat anda. Bagaimanakah pendapat anda mengenai masalah ini? Tuliskanlah komentar anda di form komentar di bagian bawah halaman ini.

administrator
Menyebarkan berita berita <a><b>Militer Indonesia</b></a> dari media media mainstream Asia dan Indonesia. Mendambakan Kekuatan Militer Indonesia menjadi salah satu yang disegani kembali di kawasan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *