Menlu Rusia: Barat Menyesal Tidak Bangun Pangkalan NATO di Krimea

Sistem rudal pertahanan udara jarak jauh S-400 Rusia. © Russian Federation MoD

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan, pada Rabu, bahwa Kekuatan Barat menyesali bahwa mereka tidak memiliki cukup waktu untuk membangun pangkalan angkatan laut NATO di Krimea sebelum referendum 2014, ketika orang-orang Krimea menyatakan keinginan mereka untuk menjadi Rusia.

“Saya mengerti bahwa beberapa rekan Barat kami sangat menyesal bahwa mereka gagal membangun pangkalan angkatan laut NATO di Krimea, tetapi tidak ada yang harus dilakukan: seperti jalannya sejarah, seperti kehendak rakyat Krimea,” kata Lavrov setelah melakukan pembicaraan dengan mitranya dari Swiss, Ignazio Cassis.

HARUS BACA :  Cemas Pasukan Iran Semakin Dekat, Netanyahu Datangi Putin

Dia mencatat bahwa referendum Krimea berlangsung sepenuhnya sesuai dengan prinsip penentuan nasib sendiri. Pengamat asing memantau proses referendum, meskipun mereka tidak mewakili pemerintah resmi. “Namun, mereka adalah orang-orang yang benar-benar ingin tahu apa yang sedang terjadi di sana, dan mereka menyatakan proses penentuan nasib sendiri menjadi hal yang sah, dan orang-orang Krimea telah memilih jalan bersatu kembali dengan Rusia,” tegas Menlu Rusia.

HARUS BACA :  Melihat Dari Dekat Jet Tempur Generasi Kelima Rusia
HARUS BACA :  Bakamla Selamatkan 12 Penumpang Speedboat Kemendes PDTT

“Akibatnya, Selat Kerch menjadi bagian dari wilayah perairan Rusia,” kata Lavrov.

Setelah kudeta di Ukraina pada bulan Februari 2014, para pejabat di Krimea dan Sevastopol menyelenggarakan referendum, di mana 96,77% warga Krimea dan 95,6% warga Sevastopol memilih untuk memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia. Delapan puluh persen dari populasi pemilih berpartisipasi dalam referendum. Presiden Rusia menandatangani kesepakatan reunifikasi pada 18 Maret 2014, di mana Dewan Federasi (majelis tinggi parlemen Rusia) meratifikasi pada 21 Maret. Meskipun hasil referendum, Kiev menolak mengakui Krimea sebagai bagian dari Rusia.

HARUS BACA :  Basarnas Masih Cari Black Box Lion Air JT 610 – Militer.or.id

Sumber: TASS

Kami sangat menghargai pendapat anda. Bagaimanakah pendapat anda mengenai masalah ini? Tuliskanlah komentar anda di form komentar di bagian bawah halaman ini.

Roy Prasetya
Roy Prasetyahttps://militer.or.id
NKRI adalah harga mati! Demikian menjadi prinsip hidup penulis lepas ini. Berminat terhadap segala macam teknologi militer sejak kelas 5 SD, ketika melihat pameran Indonesian Air Show 1996.

Latest articles

Diremajakan Jadi Destroyer, AL Australia Pensiunkan Fregat Berudal

Diremajakan Jadi Destroyer, AL Australia Pensiunkan Fregat Berudal - Militer.or.id. Angkatan Laut Australia alias Royal Australian Navy telah mengadakan upacara pelepasan dua kapal perangnya...

Misi Operasional Pertama F-35 Inggris : Mondar Mandir Siprus – Suriah – Irak

Misi Operasional Pertama F-35 Inggris : Mondar Mandir Siprus - Suriah - Irak - Militer.or.id. Pejabat kementerian pertahanan Inggris mengkonfirmasi bahwa pesawat tempur terbaru...

Pesawat Angkatan Udara India Jatuh Lagi

Pesawat Angkatan Udara India Jatuh Lagi - Militer.or.id. Sebuah pesawat angkut militer milik Angkatan Udara India dilaporkan hilang dengan 13 awak dan penumpang diatasnya....

Bermasalah Terus, Serah Terima Kapal Selam Nuklir Yasen-M Rusia Mundur Lagi

Bermasalah Terus, Serah Terima Kapal Selam Nuklir Yasen-M Rusia Mundur Lagi - Militer.or.id. Untuk ke sekian kalinya, penyerahan kapal selam nuklir project 885-M Yasen...

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here
HARUS BACA :  Su-35 dan Su-30SM Lebih Menarik Diakusisi