Militer.or.id – Benarkah Israel Menyerang Suriah ?.

F-16 Israel (IDF)

Beirut / Jerusalem – Israel menyerang sebuah lokasi militer di provinsi Hama, Suriah, Kamis pagi, 7//9/2017 ujar tentara Suriah.  Sebuah kelompok pemantau perang mengatakan target tersebut dikaitkan dengan pabrik produksi senjata kimia.

Serangan udara menewaskan dua tentara dan menyebabkan kerusakan di dekat kota Masyaf, kata sebuah pernyataan tentara Suriah yang dirilis Reuters. Ini memperingatkan “akan ada dampak berbahaya dari tindakan agresif terhadap keamanan dan stabilitas kawasan ini”.

Lembaga pemantau Hak Asasi Manusia di Suriah yang berkantor pusat di London mengatakan,  serangan tersebut dilakukan ke Scientific Studies and Research Centre, yang oleh sebuah badan di Amerika Serikat disebut sebagai produsen senjata kimia Suriah.

Serangan itu terjadi pagi hari, setelah penyidik PBB mengumumkan bahwa pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan gas racun sarin pada bulan April.

Namun, pemerintah Suriah membantah menggunakan senjata kimia. Pada tahun 2013 pemerintah Suriah berjanji untuk menyerahkan senjata kimia, yang menurutnya telah dilakukan.

Lembaga pemantau juga mengatakan bahwa serangan itu juga menyerang sebuah kamp militer di dekat pusat yang digunakan untuk menyimpan roket darat ke darat, di mana personil Iran dan sekutunya Hizbullah Lebanon, terlihat lebih dari satu kali di sana.

Kementerian luar negeri Suriah kemudian mengirim surat ke Dewan Keamanan PBB, melakukan protes menentang “agresi” Israel” dan mengatakan siapa pun yang menyerang lokasi militer Suriah, dianggap mendukung terorisme, lapor TV pemerintah Suriah.

Israel Menolak Berkomentar

Seorang juru bicara tentara Israel menolak membahas atau menangapi laporan serangan yang dituduhkan Suriah.

Media Israel sendiri belum bisa memastikan adanya serangan tersebut.

Militer Israel biasanya akan menunjukkan footage hasil serangan mereka atau melakukan keterangan pers. Namun kali ini menanggapi pun tidak. Ditambah lagi, Suriah tidak mendeskripsikan secara detil dan menunjukkan bukti dari serangan tersebut.

Seorang analis kepada haaretz.com mengatakan, jika Israel melakukan serangan ke fasilitas militer Suriah, sebenarnya mereka seperti menembak kakinya sendiri.

Menurut Zvi Bar’el koresponden Haaretz.com, jika benar Israel melakukan serangan pada hari Kamis, 7/9/2017, Israel sesunggunya sedang memperluas definisi tentang apa yang dianggapnya sebagai ancaman, hal itu akan memberi Iran sebuah alasan untuk meningkatkan kehadiran militernya dan menyebabkan Rusia memberlakukan zona larangan terbang di wilayah udara Suriah.

Scientific Studies and Research Center Suriah adalah nama kode untuk bagian industri senjata non konvensional Suriah. Lembaga tersebut, yang lebih dikenal dengan singkatan CERS, dipimpin oleh seorang jenderal Suriah. Dia juga bertanggung jawab atas pabrik senjata kimia Suriah, yang dilaporkan berada di tiga lokasi terpisah: Dua di dekat Damaskus dan yang ketiga dekat kota Masyaf, barat laut Suriah, hanya sekitar 70 kilometer dari pangkalan Angkatan Udara Rusia Khmeimim, Latakia.

Menurut laporan resmi Suriah, pesawat Israel menyerang CERS dari wilayah Lebanon pada Kamis pagi. Laporan tersebut tidak memberikan rincian kerusakan fasilitas dan apa yang terjadi. Namun sebuah pernyataan resmi mengatakan bahwa serangan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan moral anggota ISIS setelah mereka mengalami banyak korban jiwa yang serius dalam pertempuran di sekitar Deir ez-Zor. Menurut rezim Presiden Bashar Assad, Israel tidak hanya mendirikan ISIS, namun juga membantu operasinya baru-baru ini.

Tidak sepenuhnya jelas apa sebenarnya isi fasilitas itu, di mana mereka memproduksi rudal jarak jauh dan peluru artileri, serta membangun senjata kimia. Tapi jika Israel tahu tentang produksi semacam itu terjadi di sebuah pabrik, maka tidak diragukan lagi bahwa Amerika Serikat dan Rusia juga mengetahuinya.

Kita dapat mengasumsikan Israel menginformasikan Washington sebelum serangan dilakukan dan butuh menerima anggukan persetujuan yang diperlukan.

Ini bukan serangan udara Israel yang diduga pertama di wilayah Suriah, tentu saja. Tapi waktunya cukup menarik. Ini terjadi setelah Rusia mengancam akan memveto resolusi Dewan Keamanan PBB apapun yang menggambarkan Hizbullah sebagai organisasi teroris, dan dalam waktu singkat setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Sochi – sebuah pertemuan yang mana Netanyahu pulang tanpa komitmen dari Rusia untuk mewujudkan penarikan mundur Iran dari tanah Suriah.

Seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Rusia telah membuat komitmen bahwa kepentingan keamanan Israel tidak akan dilukai sebagai hasil pembentukan zona de-eskalasi di Suriah.

Namun interpretasi Rusia tentang arti merugikan kepentingan keamanan Israel tidak harus sama dengan definisi Israel. Mengingat bahwa kehadiran pasukan Hizbullah di Suriah dipandang sebagai ancaman bagi Israel, apalagi kehadiran pasukan pro-Iran yang ditempatkan di dekat perbatasan timur Israel di Dataran Tinggi Golan, dan juga di daerah dekat Daraa di Suriah selatan ?

Pada saat yang sama, Rusia – yang dengan sendirinya tidak mendefinisikan Hizbullah sebagai organisasi teroris – akan merasa sulit untuk memaksa pasukan kelompok tersebut keluar dari Lebanon. Itu terutama karena posisi Iran yang menganggap Hizbullah sebagai fondasi penting untuk melestarikan pengaruhnya di Lebanon dan sebagai kekuatan taktis penting dalam perang Suriah. Tidak seperti di Lebanon, di mana Iran membutuhkan Hizbullah untuk memaksa tangan pemerintah Lebanon bila diperlukan, pengaruh Iran terhadap rezim Assad bersifat langsung dan tidak memerlukan perantara.

Rusia, yang telah bertindak untuk membatasi kebebasan operasi Iran di Suriah, mengakui bahwa pihaknya harus mengkoordinasikan tindakannya dengan Iran jika mereka ingin memenuhi aspirasinya untuk menstabilkan pemerintahan Assad.

Pelajaran Aleppo

Rusia telah mengambil pelajarannya dari Aleppo, ketika diperkirakan dapat menerapkan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada akhir tahun lalu tanpa berkoordinasi dengan Iran – dan kemudian menyadari bahwa milisi Syi’ah dan Hizbullah mencegah tentara pemberontak menaiki bus yang dimaksudkan untuk membawa mereka keluar kota, atas perintah Iran.

Penjelasan Iran adalah bahwa karena Teheran bukanlah mitra kesepakatan tersebut, hal itu tidak diwajibkan olehnya. Sejak kejadian itu Rusia menghindari perundingan soal Suriah, baik lokal maupun internasional, tanpa adanya partisipasi Iran.

Serangan terhadap fasilitas senjata tersebut, terutama yang diduga memproduksi senjata kimia, tampaknya merupakan tindakan yang seharusnya tidak menimbulkan respons agresif dari Rusia. Empat tahun yang lalu, Rusia meyakinkan Presiden Barack Obama pada saat-saat terakhir untuk tidak menyerang Suriah karena menggunakan senjata kimia di perang persediaan senjata kimianya ke Rusia. Rusia mungkin mencoba untuk membuktikan bahwa fasilitas tersebut tidak menghasilkan senjata semacam itu, namun itu diragukan dilakukan oleh Rusia karena akan menyulitkan dirinya sendiri.

Kesepakatan 2013 termasuk gas klorin juga, yang tentara Suriah masih terus memakainya.

Rusia juga memahami bahwa Israel diduga menyerang pabrik senjata kimia yang dicurigai, serupa dengan serangan rudal jelajah A.S. di Suriah setelah serangan senjata kimia di Khan Sheikhun pada bulan April, yang dianggap sebagai tindakan yang sah oleh masyarakat internasional.

Bahkan Rusia memastikan kembali pada 2013 bahwa mereka tidak akan keberatan dengan serangan terhadap pabrik senjata kimia jika PBB memutuskan langkah tersebut, dan jika terbukti Suriah menggunakan senjata tersebut.

Unsur baru dalam serangan terakhir – jika Israel benar-benar melakukan serangan semacam itu – adalah bahwa Israel sekarang mendefinisikan apa yang dilihatnya sebagai ancaman dalam arti yang jauh lebih luas.

Pertanyaannya adalah apakah Rusia akan menerima definisi ini sebagai bagian dari pandangan strategis Israel – yang menganggap Suriah sebagai negara musuh yang mengancam. Persetujuan Rusia untuk memperluas definisi tersebut dapat memberikan Israel persetujuan untuk serangan lainnya – seperti terhadap pangkalan Angkatan Udara Suriah, atau bahkan melawan pasukan darat Suriah, dengan argumen bahwa mereka dianggap sebagai ancaman.

Dan juga, jika sampai sekarang ada garis merah antara angkatan udara Rusia dan Israel, maka serangan kali ini dapat membuat Rusia, paling tidak menerapkan “disiplin udara” yang lebih ketat terhadap Israel. Jika ini terjadi, Rusia dapat menyatakan bahwa setiap pesawat asing yang memasuki wilayah udara Suriah akan dianggap sebagai sasaran yang sah untuk Angkatan Udara Rusia, kecuali untuk pesawat koalisi yang berperang melawan ISIS.

Saving the United States

Dari perspektif Washington, Israel telah menarik chestnut-nya dari api. Setelah banyak laporan tentang penggunaan baru gas klorin oleh tentara Suriah, orang Amerika akan dipaksa untuk bertindak. Dan ini bisa menyebabkan hubungannya dengan Rusia memburuk lebih jauh lagi.

Tapi “pelayanan” yang diberikan Israel kepada Washington hanya menenggelamkannya lebih dalam ke arena Suriah. Kali ini, bukan hanya sebagai observer yang tertarik mengetuk pintu negara adidaya untuk mempromosikan kepentingan keamanannya sendiri, namun sebagai mitra aktif yang kehadiran militernya menambah komponen lain ke rangkaian kekuatan (yang sudah termasuk Rusia, Iran, Turki dan Suriah).

Namun elemen Israel bisa mengancam untuk merusak rencana Rusia. Misalnya, Iran, Turki dan Rusia akan membentuk zona keamanan di provinsi Idlib, di mana sebagian besar pasukan milisi Front Al-Shams (dahulu Nusra Front), yang berafiliasi dengan Al-Qaida, terkonsentrasi. Ini adalah wilayah di mana Iran dan Turki memiliki kepentingan yang berlawanan, meskipun keduanya tertarik pada gencatan senjata.

Turki ingin menggunakan wilayah ini sebagai basis strategis untuk operasi militer melawan wilayah Kurdi Suriah yang berbatasan dengan Turki. Iran melihat provinsi Idlib sebagai pos strategis untuk dijadikan basis penguasaan Suriah. Ketiga negara tersebut merencanakan serangan gabungan terhadap pusat pemberontak, jika Rusia tidak dapat menerapkan gencatan senjata sesuai model yang dibangun di provinsi-provinsi selatan Suriah.

Tampaknya Israel tidak memiliki kepentingan nyata di provinsi Idlib, kecuali kekhawatiran tentang ekspansi Iran dan menetap di sana. Namun pengambilalihan Idlib – seperti kampanye militer di Deir ez-Zor di Suriah tenggara, di mana ISIS terus mengalami kerugian – sedang mengarah ke persiapan saluran diplomatik untuk sebuah kesepakatan permanen.

Rusia berusaha untuk menunjukkan kontrol terhadap Idlib dan Deir ez-Zor pada akhir minggu depan, ketika perwakilan dari berbagai pihak dalam perang saudara Suriah dijadwalkan bertemu di ibu kota Kazakhstan, Astana. Rusia ingin menyajikan pengambilalihan tersebut sebagai bukti kemenangan total oleh rezim Suriah, sebuah kemenangan yang akan menghancurkan alat yang bisa digunakan kelompok oposisi untuk melakukan tekanan.

Pengawasan Suriah-Rusia terhadap kedua provinsi ini akan memperkuat asumsi kerja diplomatik bahwa Assad akan terus menjadi presiden Suriah, terutama karena penentang rezimnya di Eropa, Amerika Serikat dan Turki – dan bahkan Arab Saudi – telah benar-benar menarik tuntutan mereka untuk mendongkel Assad sebagai prasyarat untuk negosiasi apapun.

Hasil seperti itu akan mewajibkan Israel untuk menjadi mitra, meski hanya secara tidak langsung dalam proses pembentukan pemerintahan Suriah yang baru; dalam perdebatan mengenai status Iran dan Hizbullah di Suriah; dan bisa dijamin bahwa Rusia, dan bukan Amerika Serikat, yang dapat memberikan tanggapan atas ancaman yang mungkin timbul dari kesepakatan semacam itu.

Pedang bermata dua

Israel mungkin menyimpulkan bahwa semakin besar keterlibatan militernya di Suriah, baik melalui serangan sporadis atau dengan memperketat hubungan militernya dengan kelompok pemberontak, akan semakin memperkuat posisinya ketika saatnya untuk merumuskan penyelesaian politik.

Tapi pandangan seperti itu bisa menjadi pedang bermata dua. Ini akan memberi Iran alasan bagus untuk meningkatkan kehadiran militernya di Suriah; Rusia dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan koordinasi udara dengan Israel dan menyatakan wilayah udara Suriah merupakan zona larangan terbang; dan Hizbullah bisa mengubah Dataran Tinggi Golan menjadi front yang sah melawan Israel sebagai bagian dari keseimbangan pencegahannya dengan Israel.

Ada perbedaan besar antara kemampuan untuk menyerang sasaran tertentu dengan situasi permanen dari dua front yang bermusuhan, satu menghadapi Suriah dan yang kedua Lebanon – terutama ketika pendukung terpenting Israel, Amerika Serikat, tenggelam jauh di dalam dirinya sendiri dan tidak ingin campur tangan sama sekali. (reuters / haaretz.com).

Jangan lupa isi form komentar di bawah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here