Ini Yang Dilakukan F-22 Saat Serangan di Suriah

Militer.or.id – Ini Yang Dilakukan F-22 Saat Serangan di Suriah.

Jet tempur siluman F-22 Raptor menembakkan rudal AIM-120 AMRAAM. © US Air Force via Wikimedia Commons

Militer.or.id – Komando Sentral Angkatan Udara AS telah mengubah akunnya tentang pesawat dan sistem rudal yang digunakan dalam serangan udara tanggal 14 April, menebarkan lebih banyak kebingungan dikalangan pengamat pertahanan, yang dilansir dari laman Air Force Times.

“F-22 Raptor memainkan peran integral selama serangan fajar Sabtu lalu di Suriah”, kata juru bicara Komando Pusat Angkatan Udara AS, Kapten Mark Graff menurut Air Force Times.

Pada pekan lalu, Kepala Staf Gabungan Letnan Jenderal Kenneth McKenzie mengatakan bahwa dikarenakan aset udara AS tidak memasuki zona pertahanan udara Suriah, maka F-22 tidak digunakan untuk mendampingi pesawat-pesawat pembom.

Dia juga melaporkan bahwa 2 pesawat pembom B-1B AS meluncurkan 19 rudal jelajah baru, JASSM-ER, pertama kalinya senjata bermasalah buatan Lockheed Martin memulai debutnya dalam pertempuran.

Namun, dalam jumpa pers pada hari Kamis, McKenzie mengoreksi akunnya, dimana dia mengatakan telah “salah bicara” tentang penggunaan rudal JASSM-ER, yang memiliki jangkauan 1.000+ km dan hulu ledak 450 kg. Yang sebenarnya adalah menggunakan JASSM standar, jelasnya.

HARUS BACA :  Analis AS: 6 Aspek Impresif dari Su-57 Rusia

Menurut Sputnik News, JASSM memiliki jangkauan operasional sekitar 370 km, dan pertama kalinya memasuki layanan pada tahun 2009, dibandingkan dengan JASSM-ER, yang baru disetujui untuk penggunaan tempur pada bulan Februari tahun ini.

Sementara itu mengenai F-22, menurut Kapten Graff bahwa jet tempur generasi kelima tersebut memang telah berpartisipasi dalam operasi serangan fajar, tetapi hanya secara tak langsung, untuk melindungi pasukan darat selama dan setelah serangan.

HARUS BACA :  Ponsel Huawei dan ZTE Dilarang Dijual di Pangkalan Militer AS

Menurut Kapten Graff, jet tempur siliman F-22 memiliki kemampuan generasi kelima yang unik sehingga menjadikannya sebagai satu-satunya pesawat yang cocok untuk beroperasi di dalam sistem pertahanan udara terpadu Suriah (IADS).

F-22 ini, katanya menawarkan Angkatan Udara sebuah opsi yang dapat menetralisir ancaman IADS terhadap pasukan dan instalasi AS di kawasan tersebut, memberikan dukungan udara pelindung bagi AS, koalisi dan mitra di lapangan.

HARUS BACA :  Gebrakan India, S-400 Dibayar dengan Rubel – Militer.or.id

Komentar Graff tentang penggunaan pesawat siluman F-22 untuk dukungan darat itu sendiri dibantah oleh pernyataan Letnan Jenderal McKenzie pada hari Kamis. Dia tidak mengkonfirmasi apakah pesawat tersebut digunakan atau tidak, McKenzie pun berkata bahwa para pejuang hanya digunakan sebagai bagian dari “paket terpadu” melindungi pesawat pembom.

“Tidak ada pesawat tempur lainnya yang menembus lebih jauh dimana B-1 secara aktual meluncurkan JASSM dan kembali”, katanya.

Tak jelas alasannya kenapa para pejabat Pentagon pada awalnya tidak mengungkapkan peran yang dimainkan oleh jet tempur F-22, dan apa yang menyebabkan laporan yang bertentangan mengenai penggunaannya. Dalam pengarahan setelah serangan, laporan media sebagian besar terbatas pada cerita tentang penggunaan F-15 dan F-16.

Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan penggunaan jet-jet tersebut dalam sebuah pengarahan pada hari Sabtu lalu, beberapa jam setelah dilakukannya serangan udara. Selain itu, beberapa media Rusia juga melaporkan penggunaan F-22 sebagai pesawat pendukung untuk B-1B.

HARUS BACA :  PM Hun Sen: Kamboja Takkan Dijadikan Pangkalan Militer Asing
HARUS BACA :  Rusia Sumbang 3 Batalion S-300PM ke Suriah – Militer.or.id

Menurut sumber-sumber media pertahanan AS, bagaimanapun, mengeluhkan bahwa sebagian besar informasi tentang penggunaan F-22 yang sekali lagi tersisa digaris tepi pertempuran.

AS, Inggris dan Prancis telah menembakkan lebih dari 100 rudal jelajah melalui laut dan udara yang diluncurkan ke Suriah pada Sabtu pagi, 14 April lalu. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, Suriah menggunakan sistem pertahanan udara era Soviet, termasuk sistem pertahanan udara Buk, S-125 dan S-200, untuk menetralisir serangan tersebut, menembak jatuh sekitar 70% dari rudal yang ditembakkan.

AS dan sekutunya memulai serangan 14 April menyusul dugaan serangan senjata kimia di Douma, Ghouta Timur yang segera dipersalahkan kepada Damaskus. Pejabat Suriah dan Rusia telah mencirikan ‘serangan kimia’ itu sebagai bendera palsu yang digunakan sebagai alasan untuk meluncurkan serangan yang dipimpin AS.

Rendy Raditya
Rendy Raditya
Menyebarkan berita berita Militer Indonesia dari media media mainstream Asia dan Indonesia. Mendambakan Kekuatan Militer Indonesia menjadi salah satu yang disegani kembali di kawasan.

Latest articles

Diremajakan Jadi Destroyer, AL Australia Pensiunkan Fregat Berudal

Diremajakan Jadi Destroyer, AL Australia Pensiunkan Fregat Berudal - Militer.or.id. Angkatan Laut Australia alias Royal Australian Navy telah mengadakan upacara pelepasan dua kapal perangnya...

Misi Operasional Pertama F-35 Inggris : Mondar Mandir Siprus – Suriah – Irak

Misi Operasional Pertama F-35 Inggris : Mondar Mandir Siprus - Suriah - Irak - Militer.or.id. Pejabat kementerian pertahanan Inggris mengkonfirmasi bahwa pesawat tempur terbaru...

Pesawat Angkatan Udara India Jatuh Lagi

Pesawat Angkatan Udara India Jatuh Lagi - Militer.or.id. Sebuah pesawat angkut militer milik Angkatan Udara India dilaporkan hilang dengan 13 awak dan penumpang diatasnya....

Bermasalah Terus, Serah Terima Kapal Selam Nuklir Yasen-M Rusia Mundur Lagi

Bermasalah Terus, Serah Terima Kapal Selam Nuklir Yasen-M Rusia Mundur Lagi - Militer.or.id. Untuk ke sekian kalinya, penyerahan kapal selam nuklir project 885-M Yasen...

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here