Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) secara terbuka meminta warga Iran untuk memberikan informasi atau keahlian khusus, sebuah langkah yang diambil di tengah eskalasi ketegangan dan proses negosiasi nuklir yang alot antara Washington dan Teheran. Permintaan ini, yang diumumkan pada Selasa (24/2/2026) melalui media sosial berbahasa Farsi, menggarisbawahi upaya Washington untuk mengumpulkan intelijen di tengah dinamika geopolitik yang kompleks di Timur Tengah.
Melalui unggahan di platform X, CIA menyatakan kesiapannya untuk menjalin komunikasi dengan warga sipil Iran. Pesan tersebut berbunyi, “CIA dapat mendengar suara Anda dan ingin membantu Anda. Berikut adalah panduan yang diperlukan tentang cara menghubungi kami secara virtual dengan aman.” Unggahan ini disertai video instruksional berdurasi lebih dari dua menit yang merinci prosedur kontak tanpa terdeteksi.
Strategi Pengumpulan Intelijen di Era Digital
Untuk menjaga keamanan sumber informasi, CIA menyarankan penggunaan Virtual Private Network (VPN) atau jaringan Tor. Peringatan juga diberikan kepada warga agar menghindari penggunaan komputer perusahaan atau telepon kantor saat berkomunikasi, menekankan pentingnya anonimitas dalam operasi intelijen.
Latar Belakang Negosiasi Nuklir dan Tuntutan Washington
Langkah CIA ini terjadi menjelang putaran negosiasi ketiga antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Kamis (26/2/2026) di Jenewa, Swiss, dengan mediasi Oman. Sebelumnya, kedua negara telah menyelesaikan dua putaran pembicaraan yang bertujuan mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklir Iran, menggantikan perjanjian yang dibatalkan oleh mantan Presiden Donald Trump.
Washington berulang kali menyerukan penghentian pengayaan uranium oleh Iran. Selain itu, AS juga menuntut penghentian program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Dua tuntutan terakhir ini secara konsisten ditolak oleh Teheran, yang menganggapnya sebagai pelanggaran kedaulatan teritorial dan hak pertahanan diri.
Postur Militer AS dan Ancaman Deterensi
Di tengah ketegangan diplomatik, Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militer signifikan ke Timur Tengah. Penempatan dua kapal induk, lebih dari selusin kapal perang lainnya, sejumlah besar pesawat tempur, dan aset strategis lainnya ke wilayah tersebut merupakan bagian dari strategi deterensi Washington. Mantan Presiden Trump, yang memimpin pengerahan ini, berulang kali mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan baru.
Analisis mengenai strategi komunikasi dan pengumpulan intelijen ini didasarkan pada pernyataan resmi Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) yang dirilis pada 24 Februari 2026, serta laporan media mengenai dinamika negosiasi nuklir dan postur militer di kawasan.