Internasional

Amerika Serikat dan Iran Gelar Negosiasi Nuklir Langsung di Oman Pasca-Eskalasi Konflik Regional

Amerika Serikat (AS) dan Iran menggelar pertemuan tatap muka langsung di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2/2026), menandai upaya diplomatik krusial untuk meredakan ketegangan berkepanjangan terkait program nuklir Teheran. Negosiasi ini merupakan kontak langsung pertama antara kedua negara sejak eskalasi konflik bersenjata pada Juni 2025, yang memuncak dengan serangan udara AS terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran.

Latar Belakang dan Pilihan Lokasi Perundingan

Awalnya, pembicaraan dijadwalkan berlangsung di Istanbul, Turkiye, dengan melibatkan sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Qatar, dan Mesir. Namun, pada Selasa (3/2/2026), Iran secara mendadak mengajukan permintaan agar lokasi negosiasi dipindahkan ke Oman. Menurut tiga pejabat senior Iran, Teheran menolak format multilateral tersebut karena khawatir dianggap terpojok di hadapan negara-negara regional. “Jika terlalu banyak pihak yang hadir, kami akan tampak seperti dipaksa berunding dengan seluruh kawasan, bukan hanya AS,” ungkap salah satu pejabat kepada New York Times.

Permintaan ini disetujui oleh pihak AS, meskipun sempat memicu ketegangan. Negosiasi bahkan nyaris batal pada Rabu pagi (4/2/2026) setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengancam mundur jika AS bersikukuh memperluas topik pembicaraan di luar isu nuklir. Oman selama ini dikenal sebagai negara penengah yang netral dan tidak berpihak secara terbuka dalam konflik Timur Tengah. Muscat juga memiliki sejarah panjang menjadi lokasi mediasi antara Iran dan negara-negara Barat, termasuk negosiasi penting soal program nuklir Iran pada 2013 yang mengarah pada penandatanganan kesepakatan nuklir JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) pada 2015. “Terima kasih kepada saudara-saudara kami di Oman telah membuat seluruh pengaturan yang diperlukan,” tulis Araghchi dalam unggahan di media sosial.

Dinamika Negosiasi dan Agenda Utama

Menurut Ali Vaez, Direktur Program Iran di International Crisis Group, Iran berusaha menjaga kendali atas jalannya perundingan, termasuk soal lokasi dan format diskusi. “Mereka berpikir jika kita terlihat terlalu ingin mencapai kesepakatan, maka kita akan diintimidasi di meja perundingan,” ujar Vaez. “Oleh karena itu, kita harus menetapkan syarat sendiri: Di mana perundingan digelar, siapa yang hadir, dan seterusnya.”

Iran berhasil mendorong format negosiasi yang lebih terbatas dan tertutup. Negara-negara Arab serta Turkiye disebut sempat membujuk kedua pihak untuk tidak membatalkan pertemuan, mengingat pentingnya menjaga momentum diplomasi pasca-eskalasi konflik. Setelah melewati tarik ulur, kompromi pun tercapai. AS setuju untuk membatasi partisipasi hanya pada perwakilan kedua negara, sedangkan Iran menyepakati pertemuan langsung dengan utusan Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, dan penasihat senior Jared Kushner.

Fokus utama diskusi adalah program nuklir Iran. Namun, isu lain seperti rudal balistik dan dukungan terhadap kelompok militan tetap terbuka sebagai bagian dari kerangka kerja menuju kesepakatan lebih luas. “Pada akhirnya, Amerika Serikat selalu siap untuk terlibat dengan Iran,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada wartawan.

Konteks Regional dan Tekanan Domestik

Negosiasi ini berlangsung dalam situasi yang masih rapuh. Presiden Trump sebelumnya mengancam akan mengerahkan “armada besar” ke kawasan jika Iran tidak menghentikan pengayaan uranium dan dukungannya terhadap milisi regional. Iran menolak tuntutan tersebut, menyebutnya sebagai bentuk penyerahan diri, dan mengancam akan membalas dengan menyerang kepentingan militer AS dan Israel di kawasan.

Di sisi lain, kondisi dalam negeri Iran juga memanas. Menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Washington, sedikitnya 6.883 orang tewas dalam gelombang penindasan terhadap demonstrasi pada Januari 2026.

Analisis mengenai dinamika negosiasi ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran dan Amerika Serikat, serta laporan dari International Crisis Group dan Human Rights Activists News Agency yang dirilis pada Februari 2026.