Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam sebuah operasi militer gabungan berskala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap berbagai target strategis di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Jenazah Khamenei ditemukan di bawah reruntuhan kompleks kediamannya di Teheran setelah pengeboman intensif yang menghancurkan lokasi tersebut. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematiannya pada Minggu dini hari, menyusul laporan awal dari media Israel dan pengumuman resmi oleh Presiden Amerika Serikat.
Kematian Ayatollah Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak 1989, menandai pukulan paling signifikan terhadap struktur kekuasaan Republik Islam sejak Revolusi 1979. Peristiwa ini berpotensi memicu gejolak politik internal dan eskalasi ketegangan regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Operasi Epic Fury: Skala dan Target Serangan
Serangan yang menewaskan Khamenei merupakan bagian integral dari operasi militer masif yang dinamai “Operation Epic Fury”. Dalam rentang waktu 12 jam, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan sekitar 900 serangan udara presisi terhadap berbagai sasaran vital di Iran. Target-target tersebut mencakup pangkalan militer, fasilitas nuklir, sistem pertahanan udara, dan gedung-gedung pemerintahan di seluruh wilayah Iran.
Kompleks kediaman Khamenei di Teheran menjadi salah satu sasaran utama dalam gelombang serangan pembuka. Laporan menyebutkan bahwa tubuh Khamenei ditemukan terluka akibat pecahan proyektil di antara puing-puing bangunan yang hancur. Operasi ini disebut sebagai fase awal dari rangkaian serangan yang diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari.
Keterlibatan Amerika Serikat dan Israel
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian Khamenei melalui platform Truth Social, menyatakan, “Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, sudah mati.” Trump menambahkan bahwa ini adalah “kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.”
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menggambarkan operasi tersebut sebagai “operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah.” Hegseth juga menegaskan komitmen AS, “Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi kami akan mengakhirinya. Jika Anda membunuh atau mengancam warga Amerika di mana pun di dunia — seperti yang telah dilakukan Iran — maka kami akan memburu Anda, dan kami akan membunuh Anda.” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyatakan bahwa serangan gabungan akan berlanjut “selama diperlukan.”
Dampak Strategis Kematian Khamenei
Kematian Pemimpin Tertinggi Iran ini dianggap sebagai pukulan terberat terhadap rezim Iran sejak Revolusi 1979 yang membawa para Ayatollah berkuasa. Selain Khamenei, sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya juga dilaporkan tewas, termasuk kepala Garda Revolusi dan menteri pertahanan, bersama puluhan pemimpin rezim lainnya, yang secara signifikan melemahkan struktur kepemimpinan Iran.
Reaksi Domestik dan Diaspora Iran
Di dalam negeri Iran, ribuan warga dilaporkan turun ke jalan di Teheran dan kota-kota besar lainnya pada Sabtu malam, menuntut perubahan. Di Galleh Dar, Provinsi Fars, patung Khamenei ditumbangkan dan dibakar, mencerminkan sentimen anti-rezim yang meluas. Sebuah video yang beredar menunjukkan seseorang berkata, “Apakah aku sedang bermimpi? Selamat datang di dunia baru,” mengindikasikan harapan akan perubahan politik.
Di luar Iran, perayaan juga terjadi di sejumlah lokasi, termasuk di London utara yang dikenal sebagai “Little Tehran”, di mana warga Iran di pengasingan merayakan kabar kematian tersebut, menunjukkan polarisasi yang mendalam terkait rezim Iran.
Eskalasi Regional dan Respon Iran
Tidak lama setelah serangan gabungan AS-Israel, Iran melancarkan serangan balasan. Rudal dan drone ditembakkan ke pangkalan militer AS dan target sipil di lima negara Teluk. Laporan awal menunjukkan bahwa rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan Iron Dome Israel dan menghantam Tel Aviv, mengakibatkan satu korban jiwa dan melukai 20 orang.
Presiden Trump menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut. Dalam pidato video, ia menyatakan, “Saya katakan malam ini bahwa kebebasan Anda sudah di depan mata,” dan menambahkan bahwa pengeboman “yang berat dan presisi akan terus berlanjut tanpa gangguan sepanjang pekan ini atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan kami, PERDAMAIAN DI SELURUH TIMUR TENGAH DAN DUNIA!”
Analisis mengenai operasi militer ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat dan Israel, laporan intelijen publik, serta konfirmasi dari televisi pemerintah Iran yang dirilis pada Minggu, 01 Maret 2026.