Internasional

Amerika Serikat dan Israel: Luncurkan Serangan Gabungan Skala Besar terhadap Lebih dari 1.000 Target di Iran

WASHINGTON DC – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) bersama Israel telah melancarkan operasi militer gabungan berskala besar di Iran, yang diberi sandi “Operation Epic Fury”, pada Senin, 02 Maret 2026. Operasi ini melibatkan pengerahan lebih dari 20 jenis sistem persenjataan canggih untuk menghantam lebih dari 1.000 target strategis di wilayah Iran. CENTCOM menyatakan bahwa pengerahan kekuatan militer kali ini merupakan yang terbesar di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir, menandai eskalasi signifikan dalam dinamika geopolitik regional.

Pengerahan Kekuatan Udara dan Darat dalam “Operation Epic Fury”

Dalam operasi ofensif ini, Amerika Serikat memobilisasi beragam aset tempur, mulai dari pesawat pengebom strategis hingga sistem rudal presisi tinggi. Komponen kekuatan udara mencakup pesawat pengebom siluman B-2 Spirit, jet tempur superioritas udara F-22 Raptor, jet tempur multiperan F-35 Lightning II, serta pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler. Selain itu, drone pengintai dan serang MQ-9 Reaper turut dikerahkan, bersama dengan sistem roket artileri mobilitas tinggi M142 HIMARS.

CENTCOM juga mengindikasikan adanya “kemampuan khusus yang tidak dapat disebutkan dalam daftar” yang turut berpartisipasi dalam misi tersebut. Laksamana Brad Cooper, Komandan CENTCOM, menegaskan bahwa seluruh matra angkatan bersenjata AS terlibat aktif, baik untuk melancarkan serangan maupun untuk memperkuat pertahanan instalasi sekutu di kawasan.

Kapabilitas Maritim dan Pertahanan Rudal Balistik

Di sektor maritim, dokumentasi yang dirilis CENTCOM menunjukkan kapal perusak rudal kelas Arleigh Burke, USS Thomas Hudner, meluncurkan rudal jelajah Tomahawk yang dikenal dengan kemampuan serangan presisi jarak jauhnya. Kapal perusak lainnya, USS Frank E Petersen Jr, terpantau menembakkan rentetan Standard Missiles, yang dirancang khusus untuk mencegat ancaman udara seperti pesawat tempur, rudal jelajah, dan drone.

Analisis Sistem Pertahanan Aegis dan Ancaman Asimetris

Michael Fabey, analis pertahanan dari Janes USA, menjelaskan bahwa penggunaan Standard Missile menggarisbawahi sifat dinamis pertempuran tersebut, di mana target bergerak menjadi prioritas. Fabey menambahkan, sistem tempur Aegis yang terintegrasi pada kapal perusak AS memang dirancang untuk menangkal rudal balistik. Pengalaman Amerika Serikat dalam menghadapi proksi Iran di Laut Merah pada tahun sebelumnya telah secara signifikan meningkatkan kapabilitas antisipasi mereka terhadap pola serangan drone yang kompleks, termasuk manuver melingkar atau melengkung.

Inovasi Senjata: Drone Kamikaze Lucas

Salah satu elemen baru yang disorot dalam operasi gabungan ini adalah pengenalan pesawat nirawak bunuh diri atau drone kamikaze bernama Low-cost unmanned combat attack system (Lucas). Senjata ini merupakan hasil rekayasa balik dari drone Shahed-136 milik Iran, yang dikembangkan oleh SpektreWorks. Lucas menandai evolusi dalam strategi perang asimetris, menawarkan kapabilitas serangan yang hemat biaya namun berpotensi merusak.

Dampak Strategis dan Respon Iran

Laporan awal mengindikasikan bahwa serangan gabungan AS dan Israel telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya, meskipun klaim ini masih memerlukan verifikasi independen. Sebagai respons, Iran melancarkan gelombang rudal balistik dan drone yang menargetkan markas-markas Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk fasilitas di Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar.

Michael Fabey memperingatkan bahwa Iran memiliki persediaan rudal yang sangat besar, mengindikasikan potensi konflik yang berkepanjangan. “Iran memiliki pasukan rudal yang besar, dan saya tidak menyangka mereka akan menggunakan semuanya secara langsung. Jadi, ini bisa berlangsung lama,” ujarnya, menyoroti kompleksitas dan potensi eskalasi jangka panjang di kawasan.

Analisis mengenai pengerahan militer dan dampak strategis ini didasarkan pada pernyataan resmi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang dirilis pada Minggu, 01 Maret 2026, serta analisis pakar pertahanan dari Janes USA.