Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan udara gabungan terhadap target di Iran pada Sabtu, 29 Februari 2026, memicu ledakan di ibu kota Teheran dan meningkatkan ketegangan di seluruh kawasan Teluk. Merespons situasi ini, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya untuk bertindak sebagai mediator antara Amerika Serikat dan Iran, mendesak semua pihak untuk mengedepankan jalur diplomasi.
Operasi Militer Gabungan dan Klaim Target
Serangan yang dilancarkan oleh militer AS dan Israel menargetkan sejumlah wilayah di Iran. Laporan lapangan mengindikasikan asap tebal mengepul di atas distrik Pasteur, Teheran, yang dikenal sebagai lokasi kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Otoritas Iran segera melakukan pengerahan keamanan besar-besaran di ibu kota pasca-serangan.
Pihak Amerika Serikat dan Israel menegaskan bahwa operasi ini menargetkan situs-situs militer dan merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan. Militer Israel juga mengeluarkan peringatan agar warga sipil Iran menjauhi infrastruktur militer demi menghindari potensi korban jiwa. Presiden AS saat itu mengumumkan operasi tempur AS di Iran, dengan tujuan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi.
Dinamika Eskalasi di Kawasan Teluk
Dampak serangan meluas ke seluruh wilayah Teluk, dengan ledakan keras dilaporkan terdengar di ibu kota Arab Saudi, Riyadh; ibu kota Bahrain, Manama; dan di seluruh ibu kota Qatar, Doha. Warga Abu Dhabi juga melaporkan mendengar ledakan keras di ibu kota Uni Emirat Arab, lokasi pangkalan militer AS.
Uni Emirat Arab menyatakan telah mencegat rudal Iran dan menegaskan haknya untuk membalas serangan tersebut. Kementerian Pertahanan Qatar juga mengaku telah mencegat beberapa serangan rudal yang menargetkan negara Teluk tersebut, sementara Kuwait dilaporkan terlibat dalam serangan yang datang. Yordania mengumumkan telah menembak jatuh dua rudal balistik yang menargetkan kerajaan mereka. Arab Saudi mengutuk serangan Iran yang menargetkan negara-negara tetangganya dalam sebuah pernyataan, namun tidak secara spesifik menyebutkan serangan terhadap wilayahnya sendiri.
Inisiatif Diplomatik Indonesia
Melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan memprioritaskan dialog serta diplomasi. Pemerintah Indonesia menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi dialog guna memulihkan kondisi keamanan yang kondusif. Jika disetujui oleh kedua belah pihak, Presiden Indonesia Prabowo Subianto siap untuk melakukan perjalanan ke Teheran untuk melaksanakan mediasi.
Analisis mengenai dinamika konflik dan inisiatif diplomatik ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, serta laporan dari berbagai kantor berita internasional dan kementerian pertahanan negara-negara yang terlibat.