Internasional

Amerika Serikat dan Israel Siagakan Operasi Militer Skala Besar Terhadap Iran di Kawasan Timur Tengah

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah laporan intelijen mengungkapkan persiapan Amerika Serikat (AS) untuk meluncurkan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran. Operasi gabungan yang melibatkan Israel ini diprediksi akan memiliki skala yang jauh lebih luas dibandingkan konfrontasi sebelumnya, menandai pergeseran signifikan dalam postur pertahanan Washington di kawasan tersebut.

Mobilisasi Kekuatan Udara dan Laut

Laporan strategis pada Rabu (18/2/2026) mengonfirmasi adanya pergerakan alutsista AS secara masif. Lebih dari 10 unit jet tempur siluman F-22 Raptor telah dikerahkan ke pangkalan-pangkalan di Timur Tengah. Kehadiran jet generasi kelima ini sering kali menjadi indikator awal operasi ofensif, serupa dengan pola yang terlihat sebelum Operasi Midnight Hammer.

Selain kekuatan udara, Angkatan Laut AS telah menginstruksikan kapal induk USS Gerald R. Ford untuk menuju perairan strategis di kawasan tersebut. Pengerahan gugus tugas kapal induk ini bertujuan untuk memperkuat daya getar (deterrence) sekaligus menyediakan platform peluncuran serangan jika negosiasi diplomatik menemui jalan buntu total.

Diplomasi di Ambang Batas Waktu

Meskipun mobilisasi militer terus meningkat, jalur komunikasi diplomatik masih diupayakan secara terbatas. Utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan telah menyelesaikan putaran kedua pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Namun, sumber diplomatik menyebutkan masih terdapat celah substansial dalam poin-poin kesepakatan yang diajukan.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menegaskan bahwa kesabaran Washington memiliki batas. Dalam pernyataannya, Vance menekankan bahwa Presiden Donald Trump tetap membuka opsi militer sebagai langkah terakhir jika Iran tidak memberikan konsesi yang signifikan dalam waktu dekat.

“Kami sangat ingin menyelesaikan masalah ini melalui negosiasi diplomatik, namun Presiden menaruh semua opsi di atas meja,” ujar Vance dalam keterangannya kepada media.

Analisis Eskalasi dan Proyeksi Konflik

Para analis pertahanan membandingkan potensi konflik ini dengan perang Iran-Israel berdurasi 12 hari pada Juni 2025. Operasi mendatang diperkirakan akan berlangsung selama berminggu-minggu dengan target infrastruktur strategis. Berikut adalah perbandingan skala operasi militer AS berdasarkan data historis dan proyeksi saat ini:

Jenis OperasiDurasi EstimasiSkala Kekuatan
Intervensi Venezuela1 HariTerbatas
Konflik Juni 202512 HariMenengah
Proyeksi Kampanye 2026Multi-MingguSangat Tinggi

Saat ini, Washington memberikan tenggat waktu dua minggu bagi Teheran untuk menyerahkan proposal teknis yang mendetail. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan ini diprediksi akan memicu serangan fisik, dengan probabilitas mencapai 90 persen menurut keterangan internal dari lingkaran penasihat kepresidenan AS.

Analisis mengenai pergerakan militer dan dinamika geopolitik ini didasarkan pada laporan investigasi media internasional, pemantauan aset strategis, serta pernyataan resmi dari pejabat Gedung Putih dan Departemen Pertahanan AS yang dirilis hingga 19 Februari 2026.