Lembaga pengawas antikorupsi global, Transparency International (TI), pada Selasa, 10 Februari 2026, merilis Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2025 yang menyoroti kemerosotan signifikan dalam upaya antikorupsi di berbagai negara demokrasi, termasuk Amerika Serikat. Laporan tersebut mengindikasikan bahwa skor IPK global telah mencapai level terendah dalam lebih dari satu dekade, memicu kekhawatiran serius terhadap integritas tata kelola pemerintahan di seluruh dunia.
Amerika Serikat, khususnya, mencatatkan skor terendah sepanjang sejarahnya dalam indeks tersebut, sebuah penurunan yang dikaitkan dengan perubahan kebijakan domestik dan luar negeri sejak kembalinya Presiden Donald Trump ke Gedung Putih awal tahun lalu. Penurunan ini mencerminkan tekanan yang meningkat terhadap lembaga-lembaga independen, mulai dari universitas hingga Federal Reserve, serta implikasi strategis terhadap posisi AS dalam diplomasi global.
Erosi Independensi dan Penegakan Hukum
Transparency International menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan yang dianggap menargetkan suara-suara independen dan melemahkan independensi peradilan di Amerika Serikat. Pembekuan sementara dan pelemahan penegakan Undang-Undang Praktik Korupsi Asing (Foreign Corrupt Practices Act/FCPA) dinilai sebagai indikasi toleransi terhadap praktik bisnis yang korup, berpotensi merusak standar etika internasional.
Selain itu, pengurangan bantuan luar negeri oleh pemerintahan AS disebut telah mengikis upaya antikorupsi global. Kebijakan ini berisiko menghambat kapasitas negara-negara berkembang dalam membangun institusi yang transparan dan akuntabel, menciptakan celah bagi praktik korupsi yang lebih luas.
Metodologi dan Tren Global
Indeks Persepsi Korupsi TI memberikan skor antara nol (sangat korup) dan 100 (sangat bersih), berdasarkan penilaian para ahli dan eksekutif bisnis dari berbagai sumber data, termasuk Forum Ekonomi Dunia dan Economist Intelligence Unit. Pada IPK 2025, Amerika Serikat turun ke peringkat 64, dengan laporan yang mencatat bahwa iklim politiknya telah memburuk selama lebih dari satu dekade.
Skor rata-rata global tercatat 42, level terendah dalam lebih dari 10 tahun terakhir. Mayoritas negara, yakni 122 dari 180 negara yang disurvei, mencatatkan skor di bawah 50, menunjukkan kegagalan kolektif dalam mengendalikan korupsi secara efektif. Fenomena ini menggarisbawahi tantangan struktural yang dihadapi oleh banyak pemerintahan dalam menjaga integritas publik.
Dampak pada Demokrasi dan Stabilitas Regional
Kasus di Amerika Serikat mencerminkan tren yang lebih luas di negara-negara demokrasi yang mengalami penurunan kinerja dalam memerangi korupsi. Meskipun negara-negara seperti Inggris dan Prancis masih berada di peringkat atas indeks, laporan TI mengindikasikan peningkatan risiko korupsi akibat melemahnya pengawasan independen, celah dalam perundang-undangan, dan penegakan hukum yang tidak memadai.
Laporan tersebut juga mencatat adanya tekanan pada sistem demokrasi, termasuk polarisasi politik yang kian tajam dan meningkatnya pengaruh uang swasta dalam pengambilan keputusan publik. Di Uni Eropa, Bulgaria dan Hongaria mencatatkan kinerja terburuk dengan skor masing-masing 40, menyoroti kerentanan internal dalam blok tersebut.
Pengecualian Positif dan Reformasi
Di tengah tren negatif, Denmark mempertahankan posisinya sebagai negara dengan skor tertinggi selama delapan tahun berturut-turut dengan 89 poin, menunjukkan komitmen kuat terhadap transparansi dan tata kelola yang baik. Sementara itu, Ukraina menunjukkan kemajuan signifikan dengan skor 36.
Meskipun pemerintah Presiden Volodymyr Zelensky menghadapi tuduhan korupsi terhadap lingkaran terdekatnya di tengah konflik dengan Rusia, Transparency International mencatat bahwa fakta terungkapnya skandal-skandal ini mengindikasikan keberhasilan arsitektur antikorupsi baru Ukraina. Ini menunjukkan bahwa transparansi dan akuntabilitas, bahkan di tengah krisis, dapat menjadi fondasi bagi reformasi yang berkelanjutan.
Analisis mengenai Indeks Persepsi Korupsi 2025 ini didasarkan pada laporan resmi Transparency International yang dirilis pada 10 Februari 2026.