Washington dan Tel Aviv melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Militer Amerika Serikat (AS) mengerahkan drone serang satu arah yang meniru teknologi pesawat nirawak Iran, sementara Israel melancarkan serangan rudal ke sejumlah titik vital di tujuh kota besar Iran. Presiden AS Donald Trump menamai operasi militer skala besar ini sebagai “Operation Epic Fury”, dengan tujuan untuk mengatasi ancaman dari Iran yang disebutnya bersenjata nuklir.
Pengembangan Drone Serang Satu Arah AS
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi penggunaan perdana drone serang satu arah, yang secara internal disebut sebagai drone kamikaze, dalam operasi militer terhadap Iran. Drone berbiaya rendah ini, yang dimodelkan berdasarkan drone Shahed milik Iran, dirancang untuk menabrakkan diri ke target. Centcom tidak merinci target spesifik dari serangan drone tersebut.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) telah mengumumkan pengerahan drone kamikaze ke Timur Tengah sebagai bagian dari Satuan Tugas Scorpion Strike. Pesawat nirawak ini dikembangkan oleh SpektreWorks, sebuah perusahaan pertahanan yang berbasis di Arizona, AS, menandai adaptasi taktik militer yang sebelumnya diasosiasikan dengan Teheran.
Operasi Militer Gabungan AS-Israel di Iran
Serangan yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Sabtu pagi dilaporkan mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat. Presiden Trump secara eksplisit menyatakan bahwa “Operation Epic Fury” diluncurkan untuk memastikan keamanan warga Amerika dari ancaman Iran yang ia klaim bersenjata nuklir.
Laporan dari kantor berita AFP dan sumber lainnya mengindikasikan bahwa rudal-rudal Israel menghantam titik-titik strategis di Teheran, termasuk kawasan Jalan Universitas dan Jomhouri. Selain ibu kota, ledakan besar juga dilaporkan mengguncang Isfahan, Tabriz, Karaj, Kermanshah, Qom, Ilam, hingga Provinsi Lorestan, menjadikan total sedikitnya tujuh kota di Iran sebagai sasaran serangan udara tersebut.
Dampak Strategis dan Respon Regional
Eskalasi militer ini menandai peningkatan signifikan dalam ketegangan geopolitik di Timur Tengah, berpotensi memicu respons balasan dan mengganggu stabilitas regional. Penggunaan drone serang satu arah oleh AS, yang meniru kapabilitas Iran, juga menunjukkan pergeseran dalam strategi perang asimetris di kawasan tersebut.
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada pernyataan resmi Komando Pusat AS (Centcom), pengumuman Kementerian Pertahanan AS (Pentagon), laporan dari Wall Street Journal, serta pemberitaan kantor berita AFP yang dirilis pada 28 Februari 2026.