Internasional

Amerika Serikat: Kerahkan Dua Gugus Tempur Kapal Induk di Timur Tengah di Tengah Ketegangan Iran

Pada Februari 2026, Amerika Serikat secara signifikan meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan dua gugus tempur kapal induk, USS Gerald R Ford dan USS Abraham Lincoln, ke kawasan tersebut. Pengerahan ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat terkait program militer Iran dan perundingan diplomatik yang sedang berlangsung di Swiss. Sebagai respons, Iran menggelar latihan maritim di Selat Hormuz, menyoroti dinamika kekuatan strategis di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia.

Pengerahan Aset Strategis Amerika Serikat

BBC Verify mengonfirmasi pergerakan kapal induk kedua Amerika Serikat menuju Timur Tengah. USS Gerald R Ford, kapal perang terbesar di dunia, terpantau menyiarkan lokasinya selama 48 menit pada Rabu (18/2/2026) di Samudra Atlantik, lepas pantai Maroko, bergerak menuju Laut Mediterania. Ini adalah aktivasi sistem identifikasi otomatis (AIS) pertamanya pada tahun 2026.

Sebelumnya, pada Senin (16/2/2026), BBC Verify mengidentifikasi USS Abraham Lincoln melalui citra satelit yang diambil pada Sabtu (14/2/2026) di lepas pantai Oman, sekitar 700 km dari Iran. Kehadiran dua dari sebelas kapal induk Angkatan Laut AS ini menandai pengerahan militer besar-besaran di kawasan tersebut. Kedua kapal induk memimpin gugus tempur yang mencakup sejumlah kapal perusak bersenjata rudal kendali, dengan masing-masing kapal induk dioperasikan oleh lebih dari 5.600 personel dan membawa puluhan pesawat tempur.

Secara keseluruhan, BBC Verify telah melacak 12 kapal AS di Timur Tengah, termasuk USS Abraham Lincoln (kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz) dan tiga kapal perusak kelas Arleigh Burke yang membentuk satu gugus tempur. Selain itu, terdapat dua kapal perusak lain dengan kemampuan serangan rudal jarak jauh, tiga kapal khusus operasi tempur dekat pesisir yang ditempatkan di pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain, dua kapal perusak di Laut Tengah timur dekat pangkalan AS di Teluk Souda, dan satu kapal di Laut Merah.

Pengerahan ini juga didukung oleh pergerakan signifikan pesawat-pesawat AS ke pangkalan udara di Eropa dan Timur Tengah, meliputi jet tempur F-35 dan F-22, pesawat tanker pengisian bahan bakar KC-135 dan KC-46, serta pesawat komando dan pengawasan E-3 Sentry.

Respons Iran dan Latihan Militer

Menanggapi peningkatan kehadiran militer AS, Iran melakukan unjuk kekuatan. Pada Senin (16/2/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menggelar latihan maritim di Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial yang menghubungkan Teluk Oman dan Teluk Persia. Panglima IRGC, Letjen Mohammad Pakpour, dilaporkan memeriksa kapal-kapal angkatan laut dan menyaksikan peluncuran rudal dari salah satu kapal, menurut kantor berita Tasnim.

Selat Hormuz memiliki signifikansi strategis global sebagai titik transit sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Selain latihan IRGC, televisi Pemerintah Iran pada Kamis (19/2/2026) menyiarkan rekaman latihan gabungan di Laut Oman bersama Rusia, termasuk simulasi operasi penyelamatan kapal. Kantor berita Fars melaporkan bahwa unit operasional angkatan laut reguler Iran dan angkatan laut IRGC turut berpartisipasi dalam latihan tersebut.

Analisis Strategis dan Perbandingan Operasi Sebelumnya

Justin Crump, CEO perusahaan intelijen risiko Sibylline, menyatakan bahwa persiapan militer AS di Timur Tengah saat ini menunjukkan “kedalaman dan daya tahan yang lebih besar” dibandingkan manuver serupa menjelang penangkapan mantan presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Januari 2026, atau Operasi Midnight Hammer terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.

Operasi sebelumnya di Venezuela melibatkan satu gugus tempur kapal induk dan beberapa kapal perusak, dengan dukungan pangkalan darat AS di Karibia. Sementara itu, Operasi Midnight Hammer tahun lalu, yang menargetkan fasilitas nuklir di Fordo, Isfahan, dan Natanz, juga mengerahkan dua gugus tempur kapal induk, lima kapal perusak di Laut Tengah dan Laut Merah, serta tiga kapal tempur di Teluk. Namun, pesawat pembom siluman B2 yang digunakan dalam operasi tersebut lepas landas dari pangkalan udara AS di Missouri.

Crump menekankan bahwa penumpukan kapal perang dan pesawat AS, ditambah delapan pangkalan udara yang sudah ada di kawasan Timur Tengah, memungkinkan Washington untuk melakukan laju serangan intens dan berkelanjutan hingga sekitar 800 sortie per hari. Tujuan dari kapasitas ini adalah untuk membuat setiap respons Iran menjadi tidak efektif.

“Apa yang kita lihat bukan hanya persiapan serangan, melainkan pengerahan kekuatan yang lebih luas untuk tujuan pencegahan dan dapat diperbesar atau diperkecil sesuai kebutuhan,” kata Crump. “Ini memberi kedalaman dan daya tahan lebih besar dibanding paket kekuatan yang disusun untuk Venezuela ataupun Operasi Midnight Hammer tahun lalu. Pengerahan ini dirancang untuk menopang operasi berkepanjangan dan mengantisipasi seluruh kemungkinan respons terhadap aset AS di kawasan, termasuk Israel.”

Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada citra satelit dari BBC Verify dan Sentinel 2 milik Eropa, data pelacakan kapal MarineTraffic, serta pernyataan resmi dari kantor berita yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (Tasnim dan Fars) yang dirilis pada Februari 2026.