Internasional

Amerika Serikat: Kerahkan Jet Tempur F-22 ke Israel, Perkuat Postur Militer Hadapi Ancaman Iran

Amerika Serikat (AS) telah menempatkan jet tempur siluman F-22 Raptor di Israel, menandai kali pertama pesawat tempur canggih tersebut dioperasikan dari pangkalan Israel untuk misi tempur. Penempatan ini, yang terjadi pada pekan terakhir Februari 2026, bertujuan untuk memperkuat kapabilitas pertahanan Israel dan melindungi aset militer AS di Timur Tengah. Langkah ini juga merupakan bagian dari persiapan menghadapi potensi eskalasi dengan Iran, khususnya jika ancaman serangan terhadap program nuklir dan rudal Teheran direalisasikan.

Mantan pejabat senior AS, Dennis Ross, menyoroti signifikansi historis dari pengerahan ini, menyatakan bahwa pengoperasian pesawat tempur dari pangkalan Israel merupakan preseden baru dalam kerja sama militer kedua negara. Jet F-22 Raptor, yang dikenal dengan kemampuan siluman dan dominasi udaranya, juga dipersiapkan untuk operasi penyerangan, sebagaimana dilaporkan oleh Wall Street Journal.

Pergeseran Postur Militer Strategis

Pengerahan F-22 Raptor ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam postur militer AS di Timur Tengah, terutama pasca-penandatanganan Abraham Accords. Perjanjian tersebut memfasilitasi normalisasi hubungan antara Israel dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, mengubah dinamika geopolitik kawasan.

Sebelumnya, AS telah menempatkan sistem anti-rudal THAAD dan kapal penghancur rudal di dekat Israel. Namun, penempatan jet tempur F-22 menunjukkan tingkat integrasi militer yang lebih dalam. Perubahan ini juga mencakup keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengalihkan Israel dari Komando Eropa (EUCOM) ke area tanggung jawab Komando Pusat (CENTCOM) setelah Abraham Accords, memfasilitasi koordinasi langsung dengan negara-negara Arab yang kini memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Dinamika Regional dan Pilihan Pangkalan

Keputusan untuk menggunakan pangkalan di Israel sebagian besar dipicu oleh dinamika politik regional. Arab Saudi dan UEA secara tegas menolak penggunaan wilayah udara atau darat mereka oleh AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Kondisi ini membatasi pilihan operasional AS yang membutuhkan basis logistik dan dukungan untuk operasi udara berskala besar.

Elliott Abrams, mantan pejabat senior di beberapa pemerintahan AS, menggarisbawahi bahwa penempatan F-22 adalah hasil dari dua perkembangan utama: peningkatan kerja sama antara AS dan Israel, serta penolakan negara-negara Arab untuk mengizinkan penggunaan pangkalan mereka. Sebelumnya, banyak pesawat AS yang dikerahkan untuk menekan Teheran hanya ditempatkan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

Kapabilitas F-22 Raptor dan Sistem Pertahanan Israel

Berdasarkan citra satelit komersial dan laporan ahli, hampir selusin jet F-22 telah tiba di pangkalan udara Ovda di Israel selatan. Pangkalan ini, yang dibangun pada awal 1980-an, memiliki fasilitas lengkap termasuk bunker bahan bakar dan gudang amunisi, serta mampu menampung lebih dari 100 pesawat.

Purnawirawan Mayor Jenderal Angkatan Udara AS dan mantan pilot F-22, Charles Corcoran, menjelaskan kapabilitas superior pesawat ini. “F-22 adalah jet tempur utama di dunia. Ia bisa digunakan untuk melakukan serangan, mengawal bomber, dan menjalankan peran defensif melawan rudal jelajah serta drone serangan satu arah,” ujarnya. Tahun lalu, F-22 tercatat sukses mengawal pengebom B-2 dalam serangan terhadap situs nuklir Iran.

Menariknya, sistem pertahanan anti-rudal Israel kini akan berfungsi sebagai pelindung bagi jet-jet tempur F-22 Amerika. Douglas Birkey, Direktur Eksekutif Mitchell Institute for Aerospace Studies, menyatakan, “Jika saya akan menempatkan aset bernilai sangat tinggi di suatu tempat, saya tentu ingin memilih negara yang memiliki pertahanan udara dan rudal yang sangat kuat.” Ini menunjukkan tingkat kepercayaan dan integrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara sistem pertahanan kedua negara.

Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada citra satelit, pernyataan resmi pejabat AS dan Israel, serta laporan intelijen publik yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026.