Kampanye militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang dinamai “Operasi Epic Fury“, telah memicu pengeluaran finansial yang substansial. Sejak diluncurkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, Washington dilaporkan telah mengalokasikan miliaran dolar untuk mendanai operasi yang bertujuan melumpuhkan kapasitas nuklir dan rudal Teheran.
Presiden Donald Trump, dalam pidatonya di Pentagon pada Senin, 3 Maret 2026, menegaskan komitmen AS untuk operasi jangka panjang. Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan, “Sejak awal, kami memperkirakan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu,” mengindikasikan kesiapan logistik yang ekstensif.
Analisis Biaya Awal Operasi Epic Fury
Laporan dari Times of India mengestimasi biaya langsung untuk serangan awal “Operasi Epic Fury” mencapai 779 juta dollar AS (sekitar Rp 13,1 triliun). Angka ini mencakup penghancuran lebih dari 1.250 target strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir dan markas militer.
Namun, biaya ini hanya representasi awal dari total pengeluaran. Persiapan dan mobilisasi aset militer sebelum serangan utama juga menelan anggaran signifikan:
- Mobilisasi Aset Regional: Pengerahan belasan gugus tempur kapal induk dan reposisi pesawat tempur strategis menghabiskan 630 juta dollar AS (Rp 10 triliun).
- Operasi Jet Tempur: Penggunaan jet tempur elit seperti F-18, F-16, dan F-35 sebagai tulang punggung serangan udara memerlukan biaya perawatan dan amunisi sebesar 271,34 juta dollar AS (Rp 4,5 triliun).
Beban Operasional Jangka Panjang dan Bantuan Strategis
Kehadiran militer AS yang berkelanjutan di kawasan Teluk menimbulkan beban operasional harian yang besar. Pusat Keamanan Amerika (Center for American Security) memperkirakan bahwa pengoperasian satu gugus tempur kapal induk, seperti USS Gerald R. Ford, membutuhkan sekitar 6,5 juta dollar AS atau Rp 109 miliar per hari.
Jika operasi ini diperpanjang hingga lima minggu sesuai proyeksi awal Presiden Trump, biaya harian dari beberapa kelompok penyerang tersebut akan membengkak hingga ratusan juta dolar, belum termasuk biaya penggunaan drone pengintai dan aset intelijen tingkat tinggi.
Secara akumulatif, berdasarkan Laporan Biaya Perang 2025 dari Universitas Brown, total dukungan militer AS terhadap Israel dan operasi terkait di Timur Tengah sejak Oktober 2023 telah mencapai angka yang fantastis:
- Bantuan Militer ke Israel: Sekitar 21,7 miliar dollar AS (Rp 366,12 triliun).
- Operasi AS di Yaman, Iran, dan Sekitarnya: Berkisar antara 9,65 miliar hingga 12,07 miliar dollar AS.
Dengan demikian, total dana yang digelontorkan AS terkait konflik ini telah mencapai 31,35 miliar hingga 33,77 miliar dollar AS (sekitar Rp 528,94 triliun hingga Rp 569,77 triliun). Angka ini diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan keputusan Washington untuk memperpanjang durasi kampanye militer.
Analisis mengenai pengeluaran militer ini didasarkan pada laporan Times of India, estimasi dari Center for American Security, dan data dari Laporan Biaya Perang 2025 Universitas Brown.