Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Iran, yang dinamai “Epic Fury”. Namun, di tengah eskalasi ini, Presiden Donald Trump memilih untuk menghindari interaksi langsung dengan media, memicu pertanyaan mengenai strategi komunikasi Gedung Putih dalam konflik regional yang signifikan. Sikap tertutup ini berlanjut dari resor Mar-a-Lago, Florida, hingga kepulangannya ke Washington, DC, pada Minggu, 1 Maret 2026.
Strategi Komunikasi Gedung Putih yang Tidak Konvensional
Pengumuman dimulainya Operasi “Epic Fury” dilakukan oleh Presiden Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Sabtu dini hari pukul 02.30 waktu setempat, dalam sebuah video berdurasi delapan menit. Pendekatan ini menyimpang dari tradisi pidato kenegaraan dari Oval Office yang lazim dilakukan para pendahulu dalam situasi krisis. Sejak pengumuman tersebut, informasi mengenai operasi militer terbesar AS di Timur Tengah dalam dua dekade terakhir ini menjadi simpang siur.
Dalam beberapa wawancara telepon singkat yang diberikan Trump pada Sabtu dan Minggu, pesan yang disampaikan sering kali saling bertentangan. Terkait durasi operasi, Trump sempat menyebut empat pekan, namun di kesempatan lain ia menyatakan lima pekan. Ia juga memberikan pernyataan membingungkan mengenai masa depan pemerintahan di Teheran, mengklaim memiliki tiga kandidat untuk memimpin Iran pasca-kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, namun kemudian meralat bahwa kandidat terbaiknya telah terbunuh.
Keterbungkaman Jajaran Administrasi dan Pentagon
Sikap tertutup Presiden Trump tercermin pula pada jajaran administrasinya. Petinggi Pentagon dan Kementerian Luar Negeri AS terpantau tidak memberikan pernyataan resmi atau muncul dalam acara berita pagi untuk menjelaskan urgensi atau detail serangan. Kondisi ini sangat kontras dengan respons Gedung Putih pada era sebelumnya, seperti saat pengumuman kematian Osama bin Laden pada 2011, di mana foto ikonik Presiden Obama bersama pejabat tinggi di Situation Room dirilis.
Sebaliknya, pihak Trump hanya merilis foto yang diambil di “ruang situasi” darurat di Mar-a-Lago, menampilkan Presiden Trump dalam kondisi kelelahan dan masih mengenakan topi baseball putih yang sama, mengindikasikan kurangnya formalitas dalam penanganan krisis ini.
Prioritas di Tengah Krisis: Agenda Penggalangan Dana
Selama akhir pekan di Florida, Presiden Trump diketahui tidak melakukan aktivitas golf yang menjadi kegemarannya. Sebaliknya, ia menghadiri dua acara makan malam penggalangan dana Partai Republik di klubnya. Sekretaris Pers Gedung Putih mengonfirmasi kehadiran tersebut, menyatakan bahwa agenda penggalangan dana pada Sabtu malam memiliki urgensi yang lebih tinggi.
Sebelum dimulainya serangan pada Jumat, 27 Februari 2026 malam, Presiden Trump juga sempat menyambangi acara penggalangan dana lainnya. Dalam sebuah video yang diunggah di Instagram, ia terlihat berpamitan kepada para tamu undangan dengan kalimat, “Bersenang-senanglah semuanya. Saya harus pergi bekerja,” sebelum meninggalkan lokasi.
Analisis mengenai strategi komunikasi dan dinamika operasional ini didasarkan pada laporan koresponden media internasional dan pernyataan tidak langsung dari pejabat Gedung Putih yang terekam selama periode 28 Februari hingga 1 Maret 2026.