Internasional

Amerika Serikat Luncurkan Operasi Militer Skala Besar ke Iran, Targetkan Infrastruktur Rudal dan Angkatan Laut

Washington, DC – Amerika Serikat, didukung Israel, melancarkan serangan militer skala besar terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Presiden Donald Trump dalam pidato dari kediamannya di Florida menyatakan operasi ini bertujuan menghancurkan kekuatan militer Iran dan menggulingkan pemerintahan yang berkuasa sejak Revolusi 1979, menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan regional yang telah berlangsung lama.

Operasi Militer dan Target Utama Washington

Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform Truth Social, Presiden Trump menegaskan bahwa sasaran utama operasi militer ini adalah fasilitas rudal dan angkatan laut Iran. “Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka hingga ke tanah. Itu akan benar-benar — sekali lagi — dimusnahkan. Kami akan melenyapkan angkatan laut mereka,” ujar Trump.

Ia menambahkan bahwa tujuan strategis serangan ini adalah penghancuran total kapabilitas militer Republik Islam Iran serta menjatuhkan otoritas yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979. Pernyataan ini mengindikasikan ambisi Washington untuk melakukan perubahan rezim di Teheran.

Ultimatum kepada Garda Revolusi dan Rakyat Iran

Presiden Trump juga menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran, menyerukan mereka untuk mengambil alih pemerintahan. “Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian,” katanya. “Ini mungkin akan menjadi satu-satunya kesempatan kalian selama beberapa generasi. Kebebasan Anda sudah di depan mata.”

Selain itu, Trump mengeluarkan ultimatum kepada pasukan Iran, termasuk Garda Revolusi, yang merupakan pilar utama kekuatan militer dan keamanan dalam negeri Iran. “Kepada para anggota Garda Revolusi Iran, angkatan bersenjata, dan seluruh polisi, saya katakan malam ini bahwa Anda harus meletakkan senjata dan mendapatkan kekebalan penuh atau sebaliknya menghadapi kematian yang pasti,” tegasnya.

Justifikasi Ancaman dan Latar Belakang Eskalasi

Trump membenarkan serangan tersebut dengan menyatakan bahwa langkah itu diambil demi melindungi warga Amerika Serikat dari ancaman yang disebutnya mendesak. Menurutnya, Iran berupaya membangun kembali program nuklirnya dan terus mengembangkan rudal jarak jauh.

“Mereka mencoba membangun kembali program nuklir mereka dan terus mengembangkan rudal jarak jauh yang kini dapat mengancam sahabat dan sekutu kami di Eropa, pasukan kami yang ditempatkan di luar negeri, dan segera bisa menjangkau daratan Amerika,” jelas Trump. Ia juga memperingatkan warga sipil Iran mengenai skala pengeboman yang akan terjadi, menyarankan mereka untuk tetap berlindung.

Ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkat signifikan sejak Juni tahun sebelumnya, ketika Trump memerintahkan pengerahan militer terbesar Amerika Serikat ke Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pada Juni, Trump juga memerintahkan militer AS mengebom situs-situs nuklir utama Iran sebagai dukungan terhadap kampanye militer Israel.

Dinamika Diplomatik di Tengah Ketegangan

Meskipun eskalasi telah diperkirakan, serangan ini terjadi setelah upaya diplomatik terakhir. Sehari sebelum serangan, utusan AS menggelar pembicaraan dengan diplomat tertinggi Iran guna mencapai kesepakatan terkait kekhawatiran atas program nuklir Teheran. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh Oman di Jenewa.

Diplomat tertinggi Oman sempat menyampaikan optimisme terhadap kemungkinan kompromi, bahkan setelah bertemu dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, pada Jumat. Ia mengklaim kepada CBS News bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak menimbun uranium yang diperkaya hingga tingkat yang dapat digunakan untuk membuat bom atom—klaim yang secara tegas dibantah oleh Teheran.

Analisis mengenai pergerakan militer dan pernyataan kebijakan ini didasarkan pada pidato resmi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dirilis pada 28 Februari 2026, serta laporan media internasional yang mengutip pejabat terkait.