Citra radar yang diambil oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada April 2024 telah mengungkap kembali jejak pangkalan militer rahasia era Perang Dingin yang terkubur sekitar 100 kaki di bawah lapisan es Greenland. Fasilitas bawah tanah ini terkonfirmasi sebagai Camp Century, sebuah kompleks militer Amerika Serikat yang telah ditinggalkan selama 65 tahun. Penemuan ini menyoroti kembali dinamika geopolitik Arktik dan warisan strategis Perang Dingin, termasuk potensi ancaman lingkungan dari limbah nuklir yang terkubur.
Penemuan Kembali dan Teknologi Deteksi
Penemuan Camp Century terjadi secara tidak sengaja saat ilmuwan NASA, Chad Greene, melakukan penerbangan riset di atas lapisan es Greenland. Alex Gardner, ilmuwan krirosfer di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, menyatakan bahwa temuan awal tidak langsung dikenali. “Kami sedang mencari dasar lapisan es dan tiba-tiba Camp Century muncul,” ujar Gardner, seperti dikutip pada Jumat, 20 Februari 2026.
Untuk memetakan area tersebut, NASA menggunakan teknologi Uninhabited Aerial Vehicle Synthetic Aperture Radar (UAVSAR). Sistem berbasis gelombang radio ini, yang beroperasi mirip dengan LiDAR namun menggunakan gelombang radio alih-alih sinar laser, mampu mendeteksi struktur tersembunyi, bahkan di bawah permukaan es tebal. Citra radar secara jelas memperlihatkan sejumlah struktur individu yang membentuk pangkalan tersebut.
Camp Century: “Kota di Bawah Es” dan Project Iceworm
Camp Century dibangun secara rahasia oleh Korps Zeni Angkatan Darat AS antara Juni 1959 hingga Oktober 1960. Pangkalan ini dijuluki “kota di bawah es” karena terdiri dari 21 terowongan bawah tanah dengan total panjang sekitar 9.800 kaki atau hampir 3 kilometer. Pembangunannya dimungkinkan setelah Amerika Serikat dan Denmark menandatangani Perjanjian Pertahanan Greenland pada 1951, yang mengizinkan penggunaan fasilitas di Greenland untuk kepentingan pertahanan kawasan Atlantik Utara. Saat itu, Greenland masih berstatus sebagai wilayah administratif Denmark.
Logistik pembangunan melibatkan pengangkutan 6.000 ton material menggunakan kereta luncur berat, yang dikirim ke Pangkalan Thule—pangkalan AS lain di Greenland—dengan perjalanan darat mencapai 70 jam. Insinyur militer terlebih dahulu menggali parit-parit besar di salju dan es, termasuk lorong utama sepanjang 1.000 kaki yang dijuluki “Main Street”. Bangunan kayu dan atap baja kemudian dipasang untuk membentuk kompleks bawah tanah tersebut. Salah satu fasilitas terpentingnya adalah reaktor nuklir PM-2 berkekuatan menengah, yang menjadi sumber energi bagi pangkalan dalam kondisi suhu ekstrem hingga minus 70 derajat Celsius dan angin mencapai 125 mil per jam.
Meskipun secara resmi beroperasi sebagai pusat riset ilmiah, termasuk studi awal inti es, tujuan utama Camp Century adalah kedok untuk strategi senjata nuklir rahasia Amerika Serikat yang dikenal sebagai “Project Iceworm”. Rencana ambisius ini bertujuan membangun jaringan terowongan seluas 52.000 mil persegi di bawah es Greenland untuk menempatkan hingga 600 rudal balistik. Proyek ini membutuhkan 60 pusat peluncuran dan sekitar 11.000 tentara yang akan tinggal penuh waktu di kota bawah es tersebut. Namun, kendala teknis dan logistik yang signifikan menyebabkan proyek ini dinilai tidak layak. Pada 1967, Camp Century resmi dinonaktifkan dan ditinggalkan. Rencana senjata nuklir tersebut baru dipublikasikan oleh Danish Institute of International Affairs pada 1997.
Ancaman Limbah Nuklir di Tengah Pemanasan Global
Meskipun reaktor nuklir PM-2 telah dibongkar saat pangkalan ditutup, limbahnya tidak ikut diangkut. Selama 33 bulan beroperasi, reaktor tersebut menghasilkan lebih dari 47.000 galon limbah nuklir, yang hingga kini masih terkubur di bawah es. Masalahnya, lapisan es Greenland kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim global.
Sebuah studi memperkirakan es di lokasi Camp Century dapat mulai mencair pada 2090. William Colgan, ilmuwan iklim dan glasier dari York University di Toronto yang memimpin studi tersebut pada 2016, menyatakan bahwa para perancang awal tidak membayangkan kondisi saat ini. “Mereka pikir itu tidak akan pernah terekspos,” kata Colgan. “Pada era 1960-an, istilah pemanasan global bahkan belum diciptakan. Namun iklim sedang berubah, dan pertanyaannya sekarang adalah apakah yang ada di bawah sana akan tetap berada di sana.” Potensi paparan limbah nuklir ini menimbulkan tantangan lingkungan dan diplomatik baru bagi Amerika Serikat dan Denmark, serta komunitas internasional.
Analisis mengenai penemuan kembali Camp Century ini didasarkan pada citra satelit NASA dan laporan ilmiah yang dipublikasikan, termasuk informasi dari Danish Institute of International Affairs mengenai Project Iceworm.