Internasional

Amerika Serikat: Peningkatan Kekuatan Militer di Timur Tengah Gagal Tekan Iran Menuju Kesepakatan Nuklir

Amerika Serikat (AS) dilaporkan menunjukkan keheranan atas sikap Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda konsesi, meskipun Washington telah melakukan pengerahan kekuatan militer besar-besaran di kawasan Timur Tengah. Situasi ini diungkapkan oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff, di tengah berlangsungnya putaran pembicaraan lanjutan antara kedua negara di Jenewa, Swiss, yang bertujuan mencegah eskalasi militer lebih lanjut.

Pengerahan kekuatan AS mencakup dua kapal induk, jet tempur canggih, serta berbagai persenjataan berat yang ditempatkan di Timur Tengah. Langkah ini diinterpretasikan sebagai bentuk peringatan keras dan upaya deterrence terhadap Teheran.

Analisis Tekanan Militer AS dan Respons Iran

Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu (22/2/2026), Witkoff menjelaskan bahwa Presiden Trump terus memantau posisi Iran setelah sebelumnya mengeluarkan ancaman mengenai konsekuensi serius jika kesepakatan gagal tercapai. Witkoff menyatakan, “Saya tidak ingin menggunakan kata frustrasi, karena Trump mengerti bahwa ia memiliki banyak alternatif.”

Namun, ia menambahkan, “Tetapi dia penasaran mengapa mereka belum menyerah. Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, ‘Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan’?” Witkoff mengakui bahwa membawa Iran ke titik penyerahan diri bukanlah perkara mudah bagi AS.

Dinamika Negosiasi dan Posisi Teheran

Komentar Witkoff muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengindikasikan bahwa draf proposal untuk perjanjian dengan Washington akan siap dalam beberapa hari ke depan. Sebelumnya, Presiden Trump telah menetapkan batas waktu 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa upaya Trump untuk menghancurkan negaranya tidak akan berhasil. Negara-negara Barat secara konsisten menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sebuah klaim yang secara tegas dibantah oleh Teheran. Iran sendiri berupaya keras untuk menegosiasikan pencabutan sanksi ekonomi yang telah menghambat perekonomiannya dan memicu gelombang protes anti-pemerintah pada Desember lalu.

Pertemuan dengan Tokoh Oposisi Iran

Dalam konteks upaya AS menekan Teheran, Utusan Khusus Witkoff juga mengonfirmasi pertemuannya dengan Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang kini diasingkan. “Saya bertemu dengannya atas arahan presiden,” kata Witkoff, tanpa memberikan detail lebih lanjut. “Saya pikir dia kuat untuk negaranya, peduli pada negaranya. Tapi ini akan berkaitan dengan kebijakan Presiden Trump.” Pahlavi, yang berbasis di AS, pekan lalu menyatakan di Munich bahwa ia siap memimpin Iran menuju masa depan demokrasi sekuler.

Analisis mengenai dinamika diplomatik dan pengerahan militer ini didasarkan pada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri AS dan Iran, serta laporan media internasional yang dirilis pada Minggu, 22 Februari 2026.