Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (3/3/2026) memperingatkan potensi konflik berkepanjangan di Timur Tengah, menyusul eskalasi serangan balasan Iran terhadap sekutu Washington di Teluk. Peringatan ini muncul setelah dua pesawat nirawak menghantam Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, memicu janji respons cepat dari Washington di tengah laporan ledakan di Teheran dan klaim Pentagon atas penguasaan wilayah udara Iran.
Tujuan Operasi dan Proyeksi Konflik
Presiden Trump menyatakan bahwa operasi militer AS berjalan “jauh lebih cepat dari jadwal,” namun menegaskan kesiapan Washington menghadapi konflik yang bisa berlangsung lebih dari sebulan. “Sejak awal kami memproyeksikan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk berjalan jauh lebih lama dari itu,” ujar Trump di Gedung Putih.
Untuk pertama kalinya, Trump merinci tujuan operasi militer tersebut, yakni menghancurkan kapabilitas rudal, angkatan laut, dan program nuklir Iran, serta menghentikan dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan. Ia menekankan bahwa target tersebut tidak mencakup penggulingan Republik Islam Iran, meskipun sebelumnya ia sempat menyerukan rakyat Iran untuk bangkit menggulingkan pemerintahnya. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam wawancara dengan Fox News, menyatakan bahwa serangan bersama AS terhadap Iran akan terus berlanjut namun tidak akan menjadi “perang tanpa akhir,” memproyeksikan durasi yang tidak akan mencapai bertahun-tahun.
Serangan Drone di Riyadh dan Respon Diplomatik
Eskalasi terjadi tak lama setelah Amerika Serikat meminta warganya meninggalkan negara-negara Timur Tengah dari Mesir hingga ke timur. Dua pesawat nirawak menghantam Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi serangan tersebut, yang menyebabkan “kebakaran terbatas dan kerusakan material ringan.”
Menanggapi insiden tersebut, Presiden Trump menegaskan kepada jaringan NewsNation bahwa “Anda akan segera tahu” bagaimana AS akan merespons, tanpa merinci langkah yang akan diambil. Misi AS di Riyadh meminta warganya di ibu kota serta di Jeddah dan Dharan untuk tetap berlindung di tempat. Departemen Luar Negeri AS juga memerintahkan staf “non-darurat” dan keluarga mereka meninggalkan Bahrain, Yordania, dan Irak.
Di sisi lain, Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia. “Kami akan membakar kapal apa pun yang mencoba melewati Selat Hormuz,” kata Jenderal Garda Revolusi Sardar Jabbari.
Perdebatan Asal Mula Konflik dan Klaim Pre-emptive
Versi awal mula konflik ini diperdebatkan oleh berbagai pihak. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa AS menyerang setelah mengetahui Israel bersiap menggempur Iran. Menurutnya, Teheran telah siap menyerang pasukan AS sebagai balasan atas aksi Israel, sehingga Trump memutuskan bertindak “secara pre-emptive” bersama Israel. “Ancaman yang segera terjadi adalah kami tahu bahwa jika Iran diserang—dan kami percaya mereka akan diserang—maka mereka akan segera menyerang kami,” kata Rubio.
Namun, Senator Demokrat Mark Warner menyebut situasi ini sebagai “wilayah yang belum pernah dipetakan” bagi AS. Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi membantah keras klaim tersebut. “Tidak pernah ada apa yang disebut ‘ancaman’ dari Iran,” katanya, seraya menambahkan, “Tuan Rubio mengakui apa yang sudah kita ketahui: AS telah memasuki perang pilihan atas nama Israel.”
Eskalasi di Lebanon dan Laporan Korban
Militer Israel kembali menyerang Lebanon untuk hari kedua berturut-turut, menargetkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran setelah mereka meluncurkan roket dan pesawat nirawak ke Israel. Pemerintah Lebanon menyatakan sedikitnya 52 orang tewas dalam serangan tersebut. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam memerintahkan “pelarangan segera” aktivitas militer Hizbullah dan menyerukan kelompok itu menyerahkan senjata.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa enam personel militer AS tewas sejauh ini. Media Iran melaporkan ratusan korban, sementara lembaga berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyatakan terdapat 101 korban di Iran pada hari ketiga konflik, termasuk “85 warga sipil tewas dan 11 personel militer.” Di Teheran, sebagian warga bersiap meninggalkan ibu kota, dengan perasaan campur aduk antara ketakutan dan “kegembiraan” setiap kali mendengar serangan mengenai sasaran.
Analisis mengenai pergerakan militer dan klaim korban ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Komando Pusat AS, Pemerintah Lebanon, serta laporan dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) dan media Iran yang dirilis hingga Selasa, 03 Maret 2026.