Pemerintah Amerika Serikat melalui Administrasi Maritimnya pada Senin, 9 Februari 2026, secara resmi menerbitkan pedoman navigasi terbaru bagi kapal-kapal berbendera AS yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi risiko di tengah eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran, yang berpotensi mengganggu stabilitas jalur pelayaran vital global.
Pedoman Navigasi dan Protokol Keamanan Maritim
Dokumen baru tersebut menginstruksikan kapal-kapal AS untuk menjauhi perairan teritorial Iran. Pedoman ini juga mendesak para kapten kapal agar tidak memberikan izin kepada pasukan Iran untuk menaiki kapal-kapal AS.
Apabila insiden penaikan kapal oleh pasukan Iran terjadi, awak kapal diinstruksikan untuk tidak melakukan perlawanan fisik. Namun, penahanan diri dari perlawanan paksa ini ditegaskan tidak berarti persetujuan atau kesepakatan terhadap tindakan penaikan kapal tersebut.
Untuk menghindari konfrontasi, kapal-kapal komersial AS disarankan untuk mempertahankan jarak sejauh mungkin dari laut teritorial Iran, selama tidak membahayakan keselamatan navigasi. Secara spesifik, saat melintasi Selat Hormuz menuju arah timur, kapal-kapal AS diminta untuk berlayar lebih dekat ke wilayah perairan teritorial Oman.
Latar Belakang Eskalasi Geopolitik dan Militer
Penerbitan pedoman ini menyusul putaran pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran yang berlangsung di Oman pada Jumat, 6 Februari 2026. Kedua negara sebelumnya terlibat dalam serangkaian aksi saling ancam yang membawa kawasan tersebut ke ambang konflik terbuka.
Pada akhir Januari, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melakukan latihan militer angkatan laut di Selat Hormuz, yang memicu peringatan dari militer AS. Insiden ini diikuti oleh klaim militer AS yang menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati salah satu kapal induknya di area tersebut.
Washington juga sebelumnya telah menyita sejumlah kapal tanker minyak Iran sebagai bagian dari kampanye tekanan maksimum melalui sanksi terhadap Teheran. Pada tahun 2019, Uni Emirat Arab melaporkan dugaan serangan sabotase terhadap empat kapal di perairan teritorialnya di Teluk Oman, meskipun tidak ada ancaman publik baru-baru ini dari Iran terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.
Selat Hormuz: Titik Genting Strategis Global
Pemerintah AS secara konsisten memandang Selat Hormuz sebagai titik hambatan minyak terpenting di dunia, mengingat posisinya yang strategis sebagai pintu masuk maritim utama ke wilayah penghasil energi global. Stabilitas jalur pelayaran di Timur Tengah secara historis rentan terhadap gejolak geopolitik, seperti “Perang Tanker” pada tahun 1980-an saat konflik Iran-Irak.
Ancaman terhadap jalur logistik global juga terlihat dari serangan kelompok Houthi Yaman terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel di Laut Merah baru-baru ini. Seorang anggota parlemen Iran pernah mengisyaratkan penutupan Selat Hormuz sebagai opsi jika eskalasi konflik dengan Israel, yang membombardir Iran pada Juni tahun lalu, meningkat.
Dinamika Perundingan Nuklir dan Isu Regional
Di tengah ketegangan maritim, perundingan mengenai program nuklir Iran tetap menjadi isu sentral. Pada Desember tahun lalu, Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington akan mengambil tindakan militer jika Iran berupaya membangun kembali program nuklir dan misilnya.
Para pejabat Iran menyatakan bahwa negosiasi saat ini sepenuhnya berfokus pada isu nuklir, bersikeras bahwa pengayaan uranium adalah hak kedaulatan yang tidak melanggar komitmennya berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Namun, pemerintahan Trump mengisyaratkan keinginan untuk juga membahas persenjataan rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap aktor non-negara di kawasan, seperti Hizbullah dan Hamas, dengan tuntutan agar tidak ada pengayaan mineral sama sekali.
Analisis mengenai pedoman navigasi dan dinamika keamanan maritim ini didasarkan pada pernyataan resmi Administrasi Maritim AS yang dirilis pada 9 Februari 2026, serta laporan media internasional terkemuka.