Internasional

Amerika Serikat: Perpanjang Penugasan USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah, Tingkatkan Tekanan Operasional

Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menghadapi tantangan operasional dan moral signifikan menyusul perpanjangan penugasan kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) untuk kali kedua. Keputusan ini, yang diambil oleh Presiden AS Donald Trump, menempatkan ribuan personel dan keluarga mereka di bawah tekanan ekstrem, dengan kapal induk tersebut kini berlayar menuju Timur Tengah untuk mendukung potensi operasi militer.

Perpanjangan Misi dan Implikasi Strategis

USS Gerald R. Ford, kapal perang terbesar milik AS, telah berlayar sejak Juni 2025. Misi awalnya di Mediterania dialihkan pada Oktober 2025 ke Karibia untuk mendukung operasi penyitaan kapal tanker minyak dan upaya penangkapan Nicolas Maduro, Presiden Venezuela saat itu. Pada awal tahun 2026, awak kapal menerima kabar perpanjangan masa tugas, mengarahkan Ford kembali melintasi Samudra Atlantik menuju Timur Tengah. Penempatan ini bertujuan untuk mendukung potensi serangan udara AS terhadap Iran, sebuah langkah yang menggarisbawahi peningkatan ketegangan regional.

Citra satelit yang diperoleh Wall Street Journal menunjukkan kapal induk Ford melintasi Selat Gibraltar pada Jumat, 20 Februari 2026, bergerak ke arah timur. Menurut pensiunan Laksamana Muda Mark Montgomery, penugasan kapal induk dalam kondisi damai biasanya berlangsung enam bulan, dengan kemungkinan tambahan beberapa bulan jika diperlukan. Awak Ford, yang telah berada jauh dari rumah selama delapan bulan, kini berpotensi menjalani penugasan hingga 11 bulan, durasi yang berpeluang memecahkan rekor penempatan berkelanjutan terlama dalam sejarah Angkatan Laut AS.

Angkatan Laut AS memiliki 11 kapal induk dengan jadwal rotasi yang telah direncanakan. Selain Ford, kelompok serang USS Abraham Lincoln juga dikerahkan ke Timur Tengah, menunjukkan fokus strategis Pentagon pada kawasan tersebut.

Tantangan Operasional dan Moral Awak Kapal

Perpanjangan masa tugas ini memicu kekecewaan dan kemarahan di kalangan sekitar 5.000 awak kapal. Sejumlah pelaut mengungkapkan pertimbangan untuk meninggalkan Angkatan Laut setelah masa tugas berakhir, merindukan keluarga dan merasa ketidakpastian waktu kepulangan menjadi beban terberat. Kapten David Skarosi, komandan kapal Ford, dalam suratnya kepada keluarga awak kapal pada 14 Februari 2026, menyebut perpanjangan ini sebagai “bencana” dan mengakui dampak emosional yang dirasakan oleh seluruh personel.

Komunikasi dengan keluarga seringkali tidak menentu akibat kerahasiaan pergerakan kapal induk, membatasi panggilan telepon dan pesan WhatsApp secara sporadis. Laksamana Daryl Caudle, Kepala Operasi Angkatan Laut, pada Januari 2026 menyampaikan penyesalan atas perpanjangan tersebut, menyoroti dampak finansial bagi Angkatan Laut serta beban terhadap awak dan keluarga.

Beban kerja tinggi bukan hanya dialami awak Ford. Pada April dan Mei 2025, USS Harry S Truman kehilangan beberapa jet tempur saat menghadapi serangan pemberontak Houthi di Laut Merah. Investigasi Angkatan Laut menyimpulkan bahwa tempo operasional misi yang tinggi menjadi faktor penyebab insiden tersebut, menyoroti risiko kelelahan operasional.

Dampak Lebih Luas terhadap Kesiapan Armada

Montgomery juga menilai penugasan panjang berdampak pada kondisi fisik kapal. Peralatan mulai mengalami kerusakan setelah delapan bulan di laut, dan jadwal pemeliharaan harus ditunda. Penundaan ini mengganggu siklus pemeliharaan serta pelatihan kapal lain dalam armada, berpotensi mengurangi kesiapan tempur secara keseluruhan dalam jangka panjang.

Salah satu masalah teknis yang dilaporkan adalah gangguan pada sistem saluran pembuangan limbah berbasis teknologi vakum yang melayani sekitar 650 toilet di kapal. Pejabat Angkatan Laut menyatakan bahwa kondisi tersebut telah membaik dan tidak memengaruhi kemampuan kapal menjalankan misi, meskipun insiden pembuangan sampah ke toilet pernah terjadi.

Anchor Referensi

Analisis mengenai pergerakan militer dan kondisi operasional ini didasarkan pada laporan Wall Street Journal yang mengutip pernyataan resmi pejabat Angkatan Laut AS, serta analisis dari pensiunan perwira tinggi dan laporan intelijen publik yang dirilis hingga 22 Februari 2026.