Internasional

Amerika Serikat: Pertimbangkan Dukungan Milisi Iran Pasca-Khamenei di Tengah Kekosongan Kekuasaan

WASHINGTON – Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi strategis untuk mendukung kelompok milisi bersenjata di Iran. Langkah ini muncul di tengah kekosongan kekuasaan pasca-kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan AS dan Israel pada akhir Februari 2026. Keputusan ini berpotensi memicu dinamika geopolitik signifikan di kawasan Timur Tengah.

Opsi Strategis Washington

Menurut laporan Wall Street Journal pada Selasa (3/3/2026), Presiden AS Donald Trump menunjukkan keterbukaan terhadap kelompok-kelompok yang bersedia mengangkat senjata guna memfasilitasi transisi kekuasaan di Teheran. Meskipun demikian, Gedung Putih belum mengambil keputusan final mengenai bentuk dukungan yang akan diberikan, yang dapat mencakup pasokan senjata, pelatihan militer, atau dukungan intelijen. Opsi ini mencuat tiga hari setelah serangan udara yang menewaskan Khamenei dan puluhan pejabat senior Iran lainnya, termasuk penasihat Ali Shamkhani, Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammad Pakpour, dan Mohammad Shirazi.

Presiden Trump mengakui bahwa operasi militer tersebut telah mengeliminasi banyak figur yang sebelumnya dianggap sebagai calon penghubung kekuasaan. “Sebagian besar orang yang kami pertimbangkan sudah tewas,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih. “Dan sekarang kami memiliki kelompok lain, mereka mungkin juga sudah tewas. Sebentar lagi kita tidak akan mengenal siapa pun,” tambahnya, mengindikasikan kompleksitas dalam mengidentifikasi aktor kunci untuk transisi.

Kekosongan Kekuasaan dan Model Venezuela

Kematian Khamenei telah menciptakan lubang besar dalam struktur kekuasaan Iran. Saat ini, negara tersebut dipimpin oleh dewan transisi beranggotakan tiga orang, sembari menunggu 88 anggota Majelis Ahli memilih penerus tetap. Presiden Trump berulang kali menyinggung “Model Venezuela” sebagai cetak biru potensial untuk transisi kekuasaan, di mana AS berupaya bekerja sama dengan tokoh internal rezim untuk menjaga stabilitas perangkat keamanan dan pemerintahan.

“Venezuela sangat luar biasa karena kami melakukan serangan dan membiarkan pemerintahannya tetap utuh,” kata Trump, merujuk pada upaya AS di Amerika Latin. Namun, para analis menilai tantangan di Iran jauh lebih kompleks mengingat struktur politik dan militer yang terfragmentasi.

Di tengah ketidakpastian ini, tokoh senior Iran Ali Larijani dilaporkan telah mengirim pesan melalui Oman untuk membuka kembali negosiasi diplomatik. Namun, Presiden Trump secara tegas menolak tawaran tersebut melalui media sosial, menyatakan bahwa pembicaraan sudah terlambat.

Peran Kelompok Kurdi dan Skeptisisme Internasional

Sebagai bagian dari strategi ini, Presiden Trump telah mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin Kurdi pada Minggu (1/3/2026). Kelompok Kurdi memiliki kekuatan signifikan di sepanjang perbatasan Irak-Iran, menjadikannya aktor potensial dalam skenario perubahan rezim. Namun, para ahli keamanan meragukan efektivitas milisi etnis untuk menguasai Teheran secara keseluruhan tanpa dukungan militer eksternal yang substansial.

Bilal Saab, mantan pejabat Pentagon, berspekulasi bahwa AS mungkin perlu mengerahkan pasukan operasi khusus untuk mengorganisir pasukan perlawanan di sekitar Iran guna mencapai pergantian rezim. “Anda tidak bisa mencapai pergantian rezim tanpa pasukan di darat,” tegas Saab. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, tidak mengonfirmasi secara eksplisit mengenai tujuan akhir Trump, hanya menyatakan, “Presiden Trump telah berbicara dengan banyak mitra regional.”

Rencana dukungan milisi ini memicu keraguan dari pejabat Arab dan Eropa. Mereka menyuarakan kekhawatiran bahwa jatuhnya Khamenei justru dapat memicu munculnya faksi-faksi yang jauh lebih radikal dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang berpotensi memperburuk instabilitas regional.

Mantan Wakil Presiden AS Mike Pence menegaskan dukungan terhadap langkah tegas ini, menyatakan, “Kita harus menuntaskan ini hingga akhir.” Menurutnya, AS harus mengakhiri cengkeraman rezim di Iran. Namun, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan pandangan lebih berhati-hati pada Januari lalu, “Saya rasa tidak ada yang bisa memberikan jawaban sederhana tentang apa yang terjadi selanjutnya di Iran jika pemimpin tertinggi dan rezim itu jatuh.”

Analisis mengenai opsi strategis dan dinamika kekuasaan ini didasarkan pada laporan media internasional terkemuka seperti Wall Street Journal dan pernyataan resmi dari Gedung Putih serta pejabat terkait yang dirilis pada awal Maret 2026.