Pemerintah Amerika Serikat tengah mempertimbangkan penerapan sanksi terhadap Aljazair menyusul akuisisi jet tempur generasi kelima Sukhoi Su-57 dari Rusia. Wacana ini, yang mengemuka dalam sidang Senat AS pada Jumat, 06 Februari 2026, memicu kekhawatiran signifikan di Washington terkait dinamika kekuatan militer regional dan upaya global AS untuk membatasi penyebaran sistem persenjataan Rusia.
Reaksi Washington dan Kebijakan Non-Proliferasi
Robert Palladino, Kepala Biro Urusan Timur Dekat Departemen Luar Negeri AS, secara resmi menyampaikan kekhawatiran tersebut pada Selasa, 3 Februari 2026, dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat. Menurut laporan kantor berita pemerintah Rusia, TASS, Palladino menyatakan, “Kami mengetahui laporan media terkait masalah ini, dan kami menganggapnya mengkhawatirkan,” saat menanggapi pertanyaan senator mengenai potensi sanksi.
Palladino menegaskan bahwa Washington akan terus memantau situasi secara saksama dan pembahasan lebih lanjut akan dilakukan dalam sesi tertutup. Ia juga menyoroti upaya diplomatik AS untuk mencegah Aljazair mengakuisisi peralatan militer Rusia, menyebutnya sebagai “salah satu contoh yang dianggap bermasalah oleh AS” meskipun ada kerja sama bilateral di bidang lain. “Kami memanfaatkan jalur diplomatik, sering kali secara tertutup, untuk melindungi kepentingan kami dan mencegah tindakan yang tidak dapat diterima,” tambahnya.
Aljazair sebagai Pelanggan Internasional Pertama Su-57
Pada Februari 2025, Aljazair secara resmi mengonfirmasi pembelian jet tempur siluman Su-57E generasi kelima dari Rusia. Pengumuman melalui televisi pemerintah Aljazair tersebut menandai negara Afrika Utara ini sebagai pelanggan internasional pertama untuk pesawat tempur canggih Rusia. Akuisisi ini memperkuat hubungan pertahanan historis antara Aljazair dan Rusia, mengingat Angkatan Udara Aljazair telah mengoperasikan sejumlah jet tempur buatan Rusia lainnya.
Su-57, yang oleh Rusia dipromosikan sebagai pesaing langsung jet tempur superioritas udara F-22 Raptor dan multiperan F-35 Lightning II milik Amerika Serikat, merupakan pesawat tempur multiperan generasi kelima yang dirancang untuk misi superioritas udara dan serangan darat. Kapabilitas silumannya, avionik canggih, dan kemampuan manuver tinggi menjadikannya aset strategis bagi negara penggunanya.
Kontras dengan Kebijakan Akuisisi India
Berbeda dengan Aljazair, India memilih untuk memprioritaskan pengembangan jet tempur siluman dalam negeri, Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA), daripada memperdalam kerja sama dengan Rusia terkait Su-57. Keputusan ini diambil meskipun Moskwa terus menawarkan paket kerja sama Su-57E, termasuk transfer teknologi dan potensi perakitan lokal melalui Hindustan Aeronautics Limited (HAL), seperti dilaporkan oleh Defense Express.
Model skala penuh AMCA dijadwalkan dipamerkan pada ajang Aero India 2025 di Bengaluru, menunjukkan komitmen India terhadap kemandirian industri pertahanan. Divisi Riset Pertahanan India (DRDO) dilaporkan meragukan kelayakan dan urgensi integrasi teknologi Su-57, mempertanyakan apakah hal tersebut akan memberikan manfaat signifikan bagi program AMCA.
Rusia dan Strategi Penghindaran Sanksi
Di tengah tekanan sanksi Barat yang intensif, peneliti OSINT dari Frontelligence Insight sebelumnya mengungkapkan bahwa Rusia masih mampu menghindari pembatasan tersebut dalam produksi jet tempur Su-57. Kemampuan Rusia untuk mempertahankan produksi alutsista canggih ini menjadi perhatian utama bagi negara-negara Barat yang berupaya melemahkan kapasitas industri pertahanan Moskwa.
Analisis mengenai potensi sanksi dan dinamika akuisisi alutsista ini didasarkan pada pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS, laporan kantor berita TASS, serta informasi dari sumber intelijen terbuka (OSINT) yang dipublikasikan oleh Frontelligence Insight.