Internasional

Amerika Serikat: Potensi Serangan Militer ke Iran di Tengah Kebuntuan Negosiasi Nuklir Regional

Para analis pertahanan dan geopolitik, sebagaimana dikutip oleh The Jerusalem Post pada Senin (23/2/2026), telah mengidentifikasi empat skenario potensial bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memerintahkan serangan militer terhadap Iran. Prediksi ini muncul di tengah eskalasi ketegangan bilateral yang dipicu oleh ancaman Washington dan pengerahan signifikan aset militer AS ke kawasan Timur Tengah.

Skenario 1: Jendela Waktu Terdekat (22-26 Februari 2026)

Skenario pertama memproyeksikan kemungkinan serangan antara Minggu (22/2/2026) hingga Kamis (26/2/2026). Opsi ini dipertimbangkan jika Presiden Trump telah mencapai kesiapan operasional penuh dan negosiasi diplomatik dengan Republik Islam Iran gagal menghasilkan konsesi yang memuaskan. Serangan juga dapat dipicu oleh penolakan langsung Trump terhadap tawaran Iran yang diajukan pada Kamis. Namun, skenario ini dinilai kurang realistis mengingat adanya pertemuan lanjutan yang dijadwalkan pada Kamis, mengindikasikan keinginan Trump untuk meninjau proposal terbaru sebelum mengambil keputusan.

Skenario 2: Awal Pekan Mendatang

Trump sebelumnya telah menetapkan tenggat waktu dua minggu bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, disertai ancaman aksi militer jika gagal. Meskipun tenggat ini seringkali fleksibel, seorang pejabat AS mengindikasikan bahwa Trump cenderung menggunakan batas waktu sebagai prinsip panduan strategis. Jika tawaran Iran pada Kamis dianggap tidak memadai setelah periode dua minggu penuh, serangan dapat dilancarkan pada awal atau pertengahan pekan berikutnya.

Skenario 3: Pasca-Ramadhan (Setelah 19 Maret)

Alternatif lain adalah menunda operasi militer hingga setelah 19 Maret, bertepatan dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan. Analis berpendapat bahwa Washington mungkin enggan memulai konflik selama periode sakral bagi umat Islam, guna menghindari potensi gangguan terhadap kesiapan sekutu regional dalam menghadapi respons balasan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Selain itu, serangan selama Ramadhan dapat memperkuat narasi Teheran mengenai intervensi asing dan berpotensi menyatukan faksi-faksi di Iran, menjadikan penundaan hingga pasca-Ramadhan sebagai langkah yang lebih strategis.

Skenario 4: Penundaan Jangka Panjang (Paling Tidak Realistis)

Skenario terakhir, yang dianggap paling kecil kemungkinannya, adalah penundaan serangan untuk jangka waktu yang lebih panjang. Amerika Serikat saat ini mengerahkan miliaran dolar untuk mempertahankan postur militer yang substansial di Timur Tengah, mencakup dua kapal induk, lebih dari selusin kapal perusak, dan ratusan pesawat tempur dalam kondisi siaga. Sebagian elemen pasukan telah tiba sejak awal Januari, sisanya pada pertengahan bulan, dengan kedatangan elemen terakhir yang diperkirakan dalam beberapa hari mendatang. Mayoritas analis meragukan bahwa Trump akan mempertahankan armada sebesar itu melampaui pertengahan Maret tanpa melancarkan operasi militer atau membubarkannya setelah tercapai kesepakatan. Meskipun demikian, kemampuan Iran untuk memperpanjang negosiasi, ditambah tekanan domestik dan internasional yang saling bertentangan, dapat menjebak Trump dalam pola menunggu yang berlarut-larut.

Di antara skenario yang ada, opsi kedua, yaitu serangan pada awal pekan mendatang, dinilai paling realistis oleh sebagian besar pengamat. Kebuntuan diplomatik yang telah berlangsung sejak Desember 2025 dan biaya operasional yang tinggi untuk mempertahankan kehadiran militer AS di kawasan tersebut diperkirakan akan mendorong Presiden Trump untuk mengambil keputusan yang cepat dan tegas.

Analisis mengenai proyeksi waktu serangan militer ini didasarkan pada laporan intelijen publik dan pernyataan para pakar geopolitik yang dipublikasikan oleh The Jerusalem Post pada Senin, 23 Februari 2026, serta informasi mengenai pengerahan aset militer AS yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat.