Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mempersiapkan pengerahan gugus tempur kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini, yang diungkapkan oleh The Wall Street Journal pada Rabu (11/2/2026), merupakan bagian dari strategi kesiapsiagaan militer AS dalam menghadapi potensi eskalasi konflik dengan Iran, terutama jika jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Pada Selasa (10/2/2026), Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan pengiriman kapal induk tambahan tersebut. Menurut tiga pejabat AS, perintah pengerahan dapat diterbitkan dalam hitungan jam, meskipun mereka mencatat bahwa Trump belum memberikan perintah resmi dan rencana tersebut masih bisa berubah.
Strategi Pengerahan dan Kapabilitas Militer
Kapal induk yang dipersiapkan untuk pengerahan ini kemungkinan besar adalah USS George HW Bush, yang saat ini sedang menyelesaikan serangkaian latihan di lepas pantai Virginia. Pejabat terkait menyebutkan bahwa latihan tersebut bisa saja dipercepat, memungkinkan kapal untuk berangkat dari Pantai Timur AS dalam waktu dua pekan.
Jika dikerahkan, USS George HW Bush akan bergabung dengan kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah lebih dulu berada di kawasan tersebut, menandai pertama kalinya dalam hampir setahun AS menempatkan dua kapal induk di Timur Tengah. Gugus tempur kapal induk ini memiliki kapabilitas untuk meluncurkan dan mendaratkan berbagai jenis jet tempur canggih, termasuk pesawat siluman F-35 Lightning. Laporan sebelumnya dari The Wall Street Journal juga mengindikasikan bahwa setiap serangan militer ke wilayah Iran kemungkinan besar akan melibatkan pesawat siluman seperti F-35, jet tempur F-22 Raptor, dan pengebom B-2 Spirit.
Dinamika Diplomatik dan Peringatan Presiden Trump
Di tengah persiapan militer ini, Presiden AS Donald Trump tetap membuka pintu bagi jalur diplomasi. Setelah pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Rabu (11/2/2026), Trump menegaskan preferensinya untuk mencapai kesepakatan.
“Saya menegaskan bahwa negosiasi dengan Iran harus dilanjutkan untuk melihat apakah sebuah kesepakatan dapat dicapai atau tidak. Jika bisa, saya sampaikan kepada Perdana Menteri bahwa itu akan menjadi pilihan utama. Jika tidak, kita lihat saja nanti hasilnya,”
tulis Trump dalam unggahan di media sosialnya. Hingga saat ini, detail mengenai putaran kedua pembicaraan dengan Iran masih belum diputuskan secara pasti.
Eskalasi Kekuatan dan Posisi Tawar AS
Pengerahan dua gugus tempur kapal induk secara simultan di Timur Tengah akan menjadi penempatan pertama dalam hampir setahun terakhir, setelah terakhir kali AS menempatkan USS Harry S Truman dan USS Carl Vinson pada Maret 2025 saat menghadapi pemberontak Houthi di Yaman. Sejauh ini, AS telah memperkuat daya tempurnya di kawasan tersebut dengan memindahkan USS Abraham Lincoln dari Laut China Selatan, disertai tambahan kapal perang, sistem pertahanan udara, dan skuadron jet tempur.
Meskipun Presiden Trump sempat membatalkan rencana serangan balasan terhadap Iran pada pertengahan Januari lalu, ia meminta opsi militer yang lebih tegas kepada Pentagon. Namun, ia menekankan bahwa AS tidak dalam posisi terburu-buru. Kepada wartawan pada Jumat (6/2/2026) pekan lalu, Trump menyatakan,
“Anda harus bersiap pada posisi. Kita punya banyak waktu. Jika Anda ingat Venezuela, kita menunggu cukup lama di sana. Dan kita tidak terburu-buru. Kita sedang menjalani pembicaraan yang sangat baik dengan Iran.”
Analisis mengenai potensi pengerahan militer ini didasarkan pada laporan intelijen publik dan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat, sebagaimana dilansir oleh The Wall Street Journal pada Rabu (11/2/2026).