Internasional

Amerika Serikat Siapkan Operasi Militer Multi-Pekan Terhadap Infrastruktur Strategis Iran

Departemen Pertahanan Amerika Serikat dilaporkan tengah mematangkan skenario operasi militer komprehensif terhadap Iran yang diprediksi akan berlangsung selama beberapa pekan. Langkah ini merupakan bentuk kesiapsiagaan strategis apabila jalur diplomasi gagal mencapai kesepakatan, sekaligus menandai eskalasi signifikan dalam postur pertahanan Washington di Timur Tengah.

Eskalasi Strategis dan Target Operasi

Berbeda dengan operasi Midnight Hammer pada Juni tahun lalu yang bersifat serangan tunggal (surgical strike), perencanaan kali ini jauh lebih kompleks dan mencakup spektrum target yang lebih luas. Berdasarkan laporan internal, sasaran militer tidak hanya terbatas pada infrastruktur pengayaan nuklir, tetapi juga mencakup fasilitas komando keamanan dan aset strategis negara lainnya.

Pentagon telah mengonfirmasi pengerahan kekuatan tambahan guna mendukung kesiapan operasional, yang meliputi:

  • Gugus tugas kapal induk (Carrier Strike Group) tambahan.
  • Ribuan personel tempur infanteri dan pendukung.
  • Skuadron jet tempur generasi kelima.
  • Kapal perusak dengan kemampuan rudal pemandu (guided-missile destroyers).

Risiko Balasan dan Stabilitas Regional

Analis militer memperingatkan bahwa operasi multi-pekan ini membawa risiko tinggi terhadap stabilitas kawasan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap agresi terhadap kedaulatan Iran akan dibalas dengan serangan rudal masif ke pangkalan militer AS di kawasan.

Lokasi Pangkalan ASStatus Kesiagaan
Yordania & KuwaitSiaga Tinggi
Arab Saudi & QatarSiaga Tinggi
Bahrain & UEASiaga Tinggi
TurkiyeSiaga Standar

Kekhawatiran utama terletak pada gudang persenjataan rudal balistik Iran yang mampu menjangkau seluruh pangkalan tersebut, yang berpotensi memicu perang terbuka di seluruh kawasan Teluk.

Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Kekuatan

Di tengah persiapan militer, jalur negosiasi tetap diupayakan di Jenewa, Swiss. Utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Teheran melalui mediasi Oman. Namun, posisi tawar AS diperkuat oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang secara terbuka menyinggung kemungkinan perubahan rezim sebagai solusi jangka panjang.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai harus menjamin keamanan absolut bagi Israel, terutama terkait pembatasan permanen pada program rudal dan nuklir Iran. Sementara itu, Teheran tetap pada posisi bersedia merundingkan program nuklir demi pencabutan sanksi ekonomi, namun menolak keras pembicaraan mengenai kapabilitas pertahanan rudal mereka.

Analisis mengenai pergerakan militer dan dinamika geopolitik ini didasarkan pada laporan intelijen terbuka serta pernyataan resmi dari Departemen Pertahanan dan Gedung Putih yang dirilis pada 17 Februari 2026.