WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) tengah mengkaji perluasan armada nuklir dan potensi dimulainya kembali uji coba senjata nuklir bawah tanah. Langkah ini diambil menyusul berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) dengan Rusia pada 5 Februari 2026. Kebijakan ini menandai pergeseran signifikan dari dekade pembatasan hulu ledak nuklir.
Latar Belakang Berakhirnya New START
Perjanjian New START, yang membatasi jumlah hulu ledak strategis yang dapat dikerahkan oleh AS dan Rusia hingga 1.550 unit, resmi berakhir pada 5 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump menolak proposal perpanjangan informal dari Presiden Rusia Vladimir Putin, dengan alasan perlunya perjanjian baru yang lebih komprehensif dan modern.
Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional, Thomas DiNanno, dalam forum perlucutan senjata di Jenewa, menyatakan bahwa New START telah memberlakukan pembatasan sepihak terhadap AS. Menurut DiNanno, AS kini memiliki kebebasan untuk memperkuat kapabilitas nuklirnya.
Opsi Strategis Amerika Serikat
Pemerintahan AS sedang meninjau beberapa opsi strategis untuk meningkatkan postur nuklirnya. Opsi-opsi ini mencakup penempatan senjata nuklir tambahan dan persiapan untuk kemungkinan dimulainya kembali uji coba nuklir.
Potensi Uji Coba Nuklir
Presiden Trump secara eksplisit menyerukan dimulainya kembali uji coba nuklir yang disebutnya