Internasional

Amerika Serikat: Ultimatum Militer dan Tekanan Diplomatik Mendesak Iran di Tengah Pengerahan Armada Perang

Pada Senin, 23 Februari 2026, Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan ultimatum diplomatik dan pengerahan armada militer besar-besaran di Timur Tengah, menuntut kesepakatan segera terkait program nuklir Teheran. Langkah ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan yang sudah bergejolak, sementara Iran menghadapi gejolak domestik yang signifikan.

Peningkatan Tekanan Militer dan Ultimatum Washington

Utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, pada Sabtu (21/2/2026) mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump menyatakan keheranannya atas sikap Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda ‘menyerah’ di tengah tekanan militer masif. Washington telah mengerahkan kehadiran militernya secara signifikan di dekat wilayah Iran, termasuk kapal induk super USS Gerald R Ford dan USS Abraham Lincoln, yang didampingi oleh kapal perusak, kapal tempur, serta jet tempur. Presiden Trump pada Kamis (19/2/2026) secara tegas menyatakan bahwa Iran memiliki waktu sekitar 10 hari untuk mencapai kesepakatan nuklir, sebelum Amerika Serikat mempertimbangkan tindakan militer.

Dinamika Diplomasi dan Respons Teheran

Di tengah ancaman eskalasi, upaya diplomatik terus berlangsung. Pembicaraan tidak langsung antara kedua belah pihak dilaporkan menunjukkan kemajuan di Jenewa, Swiss, pada 17 Februari lalu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan keyakinannya bahwa perselisihan ini masih dapat diselesaikan melalui prinsip win-win solution, dan pihaknya tengah menyiapkan draf kesepakatan untuk diserahkan kepada Witkoff. Oman, yang berperan sebagai mediator, telah mengonfirmasi bahwa putaran negosiasi berikutnya dijadwalkan di Jenewa pada Kamis (26/2/2026).

Gejolak Domestik dan Tantangan Internal Iran

Bersamaan dengan tekanan eksternal, pemerintah Iran juga menghadapi tantangan serius dari dalam negeri. Demonstrasi anti-pemerintah berskala besar meletus di berbagai universitas selama akhir pekan, menandai gelombang protes terbesar sejak tindakan keras otoritas pada Januari lalu. Rekaman video yang terverifikasi menunjukkan pengunjuk rasa di Universitas Teknologi Sharif, Teheran, mengibarkan bendera Singa dan Matahari, simbol Iran sebelum Revolusi 1979, sambil meneriakkan slogan ‘Javid Shah’. Bentrokan antara massa anti-pemerintah dan pendukung pemerintah juga dilaporkan terjadi. Data dari Human Rights Activists News Agency (Hrana) mencatat setidaknya 7.015 korban jiwa hingga 15 Februari, termasuk 6.508 demonstran dan 226 anak-anak. Namun, otoritas Iran mengklaim jumlah korban tewas sekitar 3.100 orang, yang sebagian besar disebut sebagai personel keamanan atau warga sipil yang diserang oleh perusuh.

Analisis mengenai dinamika militer dan diplomatik ini didasarkan pada pernyataan resmi Gedung Putih, Kementerian Luar Negeri Iran, serta laporan media internasional terkemuka seperti BBC dan Fox News yang dirilis hingga 23 Februari 2026.