Di bawah kepemimpinan Dian Siswarini, yang mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang menakhodai Telkom Indonesia sejak Mei 2025, perusahaan telekomunikasi pelat merah ini tengah berada di persimpangan jalan transformatif. Melalui agenda ambisius bertajuk Telkom 3.0 (TLKM 30), raksasa telekomunikasi ini berupaya merombak fundamental bisnisnya dari sekadar penyedia konektivitas menjadi entitas digital berkelas dunia dengan valuasi yang lebih kompetitif di pasar global.
Restrukturisasi Radikal: Memangkas Obesitas Korporasi
Salah satu langkah paling berani dalam peta jalan 2025-2030 ini adalah strategi streamlining atau penyederhanaan struktur grup. Dian secara lugas mengidentifikasi bahwa Telkom saat ini terlalu gemuk dengan kepemilikan lebih dari 60 anak perusahaan. Targetnya tidak main-main: mereduksi 66 entitas yang ada saat ini menjadi hanya sekitar 20 perusahaan inti.
Langkah ini diambil untuk memastikan efisiensi dan fokus pada core business. Unit usaha yang dinilai tumpang tindih, tidak memberikan nilai tambah signifikan, atau berada di luar jalur strategis akan menghadapi opsi divestasi, penggabungan (merger), hingga penutupan permanen. Strategi ini mencerminkan pergeseran dari kuantitas portofolio menuju kualitas operasional yang lebih ramping dan lincah.
Model Strategic Holding dan Empat Klaster Utama
Telkom 3.0 memposisikan induk perusahaan sebagai strategic holding murni. Dalam model ini, induk tidak lagi terjun langsung dalam operasional harian, melainkan fokus pada orkestrasi strategi dan alokasi modal. Struktur bisnis baru ini dikristalisasi ke dalam empat klaster strategis:
- B2C (Business-to-Consumer): Fokus utama pada Telkomsel sebagai mesin pertumbuhan layanan konsumen.
- Infrastruktur B2B: Mengonsolidasikan aset FiberCo (Infranexia), TowerCo, Data Center, hingga layanan Satelit.
- B2B ICT: Penyediaan solusi digital terintegrasi untuk sektor enterprise.
- Bisnis Internasional: Ekspansi global melalui Telin.
Unlock Value: Mengejar Multiplier Valuasi Global
Inti dari transformasi ini adalah upaya unlock value terhadap aset infrastruktur yang selama ini tersembunyi di bawah bayang-bayang bisnis telekomunikasi tradisional. Dian menyoroti anomali valuasi di mana aset fiber jika tetap berada dalam struktur telco hanya dihargai dengan multiple sekitar 5–6 kali.
| Jenis Entitas | Estimasi Multiple Valuasi | Status Strategis |
|---|---|---|
| Telco Tradisional | 5x – 6x | Konsolidasi |
| Pure Infrastructure (FiberCo) | 10x – 12x+ | Unlock Value |
Dengan memisahkan aset tersebut ke dalam entitas khusus seperti Infranexia, Telkom menargetkan apresiasi pasar yang jauh lebih tinggi, setara dengan standar perusahaan infrastruktur murni di pasar global. Infranexia, yang telah diinisiasi sejak 2023, diproyeksikan mencapai kematangan operasional pada tahun 2027.
2026: Tahun Pembuktian Eksekusi dan Budaya Kerja
Memasuki tahun 2026, Telkom menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa narasi transformasi ini bukan sekadar retorika investor. Dengan dukungan 21.400 karyawan, tantangan terbesar terletak pada sinkronisasi budaya kerja dan disiplin tata kelola (governance). Dian menekankan bahwa kompetisi harga sudah tidak relevan (so yesterday), dan fokus kini beralih sepenuhnya pada kualitas layanan dan operational excellence.
Sebagai pemegang kedaulatan infrastruktur digital nasional—mulai dari kabel laut hingga pusat data—Telkom 3.0 adalah pertaruhan besar untuk memastikan perusahaan tetap relevan di tengah disrupsi teknologi global dan dinamika geopolitik yang kian kompleks.