Internasional

Angkatan Laut AS dan Filipina Perkuat Kesiapan Tempur, Mobilisasi Kapal Induk di Perairan Sengketa

Pada Jumat, 13 Februari 2026, Angkatan Laut Amerika Serikat dan Filipina memulai latihan gabungan berskala besar di Laut Cina Selatan, melibatkan kelompok tempur kapal induk USS Ronald Reagan. Manuver ini, yang berpusat di dekat Scarborough Shoal, menandai eskalasi signifikan dalam upaya kedua negara untuk memperkuat interoperabilitas dan kesiapan tempur di tengah meningkatnya ketegangan maritim di kawasan Indo-Pasifik.

Latar Belakang Ketegangan Regional

Seperti dikutip dari LiraMedia.co.id bahwa Latihan ini berlangsung di tengah klaim kedaulatan Tiongkok atas sebagian besar Laut Cina Selatan, yang tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif beberapa negara ASEAN, termasuk Filipina. Insiden sebelumnya, seperti penggunaan meriam air oleh kapal Penjaga Pantai Tiongkok terhadap kapal Filipina, telah memperkeruh dinamika keamanan regional. Washington secara konsisten menegaskan komitmennya terhadap kebebasan navigasi dan penerbangan di perairan internasional, menantang klaim ekspansif Beijing.

Detail Operasi dan Kapabilitas

Latihan yang dinamakan “Maritime Cooperative Activity” (MCA) ini melibatkan sekitar 7.000 personel dari kedua angkatan laut, termasuk kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke, USS Rafael Peralta, dan fregat BRP Jose Rizal milik Angkatan Laut Filipina. Fokus utama MCA adalah pada skenario anti-kapal selam, operasi pengawasan maritim, dan pertahanan udara terintegrasi. Latihan ini dirancang untuk menguji dan meningkatkan kemampuan respons cepat terhadap ancaman maritim yang kompleks, serta memperkuat koordinasi taktis antara pasukan AS dan Filipina.

Reaksi dan Analisis Strategis

Kementerian Luar Negeri Tiongkok, melalui juru bicaranya, telah menyatakan “keprihatinan serius” atas latihan ini, menyebutnya sebagai tindakan yang “tidak kondusif bagi perdamaian dan stabilitas regional.” Sementara itu, Komando Indo-Pasifik AS menegaskan bahwa latihan tersebut adalah bagian dari komitmen jangka panjang untuk menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan, serta mendukung sekutu dan mitra. Para analis pertahanan melihat manuver ini sebagai sinyal kuat dari Washington dan Manila untuk menegaskan hak-hak maritim mereka dan sebagai strategi deterrence terhadap potensi agresi di perairan sengketa.

Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada pernyataan resmi Komando Indo-Pasifik AS dan Kementerian Pertahanan Filipina yang dirilis pada 12 Februari 2026, serta laporan dari lembaga think tank pertahanan regional.