Kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald R. Ford, aset strategis Angkatan Laut Amerika Serikat, telah mengalami perpanjangan penugasan operasional untuk kali kedua. Keputusan ini, yang diambil oleh Pentagon, menempatkan ribuan awak kapal dalam tekanan signifikan dan berpotensi memecahkan rekor penempatan berkelanjutan terlama dalam sejarah Angkatan Laut AS. Penugasan yang semula dijadwalkan enam bulan kini diperkirakan mencapai 11 bulan, dengan kapal tersebut melintasi Samudra Atlantik menuju Timur Tengah untuk mendukung potensi operasi udara Amerika Serikat terhadap Iran.
Perpanjangan Misi dan Beban Operasional
USS Gerald R. Ford, kapal perang terbesar milik AS, telah berlayar sejak Juni 2025. Pada Oktober 2025, misi kapal dialihkan dari Mediterania ke Karibia untuk mendukung operasi penyitaan kapal tanker minyak dan upaya penangkapan Presiden Venezuela saat itu, Nicolas Maduro. Awal 2026, awak kapal kembali menerima kabar perpanjangan masa tugas dan pergerakan menuju Timur Tengah. Citra satelit yang diperoleh Wall Street Journal pada Jumat (20/2/2026) menunjukkan Ford melintasi Selat Gibraltar, mengindikasikan pergerakan ke arah timur.
Menurut pensiunan laksamana muda Mark Montgomery, penugasan kapal induk dalam kondisi damai biasanya berlangsung enam bulan, dengan kemungkinan perpanjangan beberapa bulan jika diperlukan. Namun, awak Ford kini telah berada jauh dari rumah selama delapan bulan dan berpotensi menjalani penugasan hingga 11 bulan. Durasi ini menimbulkan tantangan besar bagi jadwal rotasi 11 kapal induk Angkatan Laut AS, yang sebagian ditempatkan di berbagai kawasan, sebagian menjalani pelatihan, dan lainnya menjalani perawatan. Selain Ford, kelompok serang USS Abraham Lincoln juga dikerahkan ke Timur Tengah.
Dampak pada Moral dan Kesejahteraan Awak
Perpanjangan masa tugas memicu kekecewaan dan kemarahan di kalangan sekitar 5.000 awak kapal. Seorang pelaut di atas Ford mengungkapkan kepada Wall Street Journal bahwa banyak anggota kru mempertimbangkan untuk meninggalkan Angkatan Laut setelah masa tugas berakhir, dengan alasan kerinduan terhadap keluarga dan ketidakpastian waktu kepulangan. Kapten David Skarosi, komandan kapal Ford, bahkan menyebut perpanjangan dinas tambahan ini sebagai “bencana” dan mengaku terkejut.
Dalam surat tertanggal 14 Februari 2026 kepada keluarga awak kapal, Kapten Skarosi menulis, “Saya berbicara dengan banyak pelaut Anda yang sedang berusaha menerima kenyataan melewatkan rencana ke Disney World, pernikahan yang sudah mereka konfirmasi kehadirannya, dan perjalanan liburan musim semi ke Busch Gardens.” Komunikasi dengan keluarga kerap tidak menentu akibat kerahasiaan pergerakan kapal induk, sehingga panggilan telepon dan pesan WhatsApp hanya dapat dilakukan secara sporadis.
Tantangan Teknis dan Logistik Kapal Induk
Penugasan yang berkepanjangan tidak hanya membebani personel, tetapi juga berdampak pada kondisi fisik kapal. Montgomery menilai, peralatan kapal mulai mengalami kerusakan setelah delapan bulan di laut, dan jadwal pemeliharaan harus ditunda. Penundaan ini mengganggu siklus pemeliharaan serta pelatihan kapal lain dalam armada. Insiden serupa pernah dialami USS Harry S Truman pada April dan Mei 2025, yang kehilangan beberapa jet tempur saat menghadapi serangan pemberontak Houthi di Laut Merah. Investigasi Angkatan Laut menyimpulkan, tempo operasional misi yang tinggi menjadi faktor penyebab insiden tersebut.
Selain itu, laporan NPR pada Januari menyebutkan bahwa sejumlah toilet di Ford tidak berfungsi. Pejabat Angkatan Laut menyatakan, sistem pembuangan limbah berbasis teknologi vakum yang melayani sekitar 650 toilet mengalami gangguan dengan rata-rata satu panggilan perawatan per hari. Meskipun kondisi disebut telah membaik dan tidak memengaruhi kemampuan kapal menjalankan misi, masalah ini menambah beban operasional dan kenyamanan awak.
Respons Pimpinan Angkatan Laut dan Keluarga
Laksamana Daryl Caudle, kepala operasi angkatan laut, pada Januari menyampaikan penyesalan atas perpanjangan tersebut, menyoroti dampak finansial bagi Angkatan Laut serta beban terhadap awak dan keluarga. Di daratan, keluarga para pelaut menghadapi tekanan tersendiri. Jami Prosser dari Pennsylvania kerap tidak menerima kabar dari putranya selama dua hingga tiga pekan. Putranya melewatkan pemakaman kakek buyutnya, perceraian saudara perempuannya, serta masalah kesehatan saudara laki-lakinya. Rosarin McGhee dari Virginia Beach, yang tinggal sendirian, rutin mengirim 17 kotak berisi makanan dan hadiah kecil kepada suaminya di kapal, menyebut kabar perpanjangan masa tugas itu menyayat hati. Charlene Poston dari Mississippi bahkan menangis tersedu-sedu setelah putranya membatalkan rencana kepulangan yang telah dinanti.
Analisis mengenai pergerakan militer dan dampak operasional ini didasarkan pada laporan Wall Street Journal, pernyataan resmi Angkatan Laut Amerika Serikat, dan laporan NPR yang dirilis pada Januari dan Februari 2026.