Internasional

Arkeologi Maritim: Analisis DNA Sedimen Identifikasi Topan Sebagai Penyebab Tenggelamnya Kapal Dinasti Qing

Tim peneliti asal China berhasil mengungkap penyebab tenggelamnya kapal kuno Muara Sungai Yangtze No. 2 melalui metode analisis DNA sedimen tanah bawah air. Temuan ini memberikan titik terang atas misteri yang menyelimuti salah satu bangkai kapal kayu terbesar dan paling terawat di dunia yang telah terkubur selama kurang lebih 150 tahun di perairan Shanghai.

Analisis DNA Sedimen dan Kronologi Peristiwa

Kunci pengungkapan ini ditemukan pada sedimen yang terawetkan di dalam sebuah vas biru-putih bertangkai ganda yang diangkat dari dasar laut. Analisis laboratorium menunjukkan adanya batas lapisan sedimen yang jelas pada kedalaman 30 sentimeter di dalam vas tersebut, yang mengindikasikan proses penyegelan alami segera setelah kapal tenggelam.

Melalui ekstraksi DNA pada sekam padi dan jerami yang terjebak di dalam vas, peneliti mengidentifikasi spesies padi yang dipanen pada musim panas. Temuan ini mengarahkan pada kesimpulan bahwa pelayaran terakhir kapal terjadi pada musim panas atau awal musim gugur, periode di mana aktivitas topan di muara Sungai Yangtze berada pada puncaknya.

Rantai Pasok Porselen dan Signifikansi Ekonomi

Selain sisa-sisa organik, tim peneliti mendeteksi sinyal DNA bambu yang digunakan sebagai bahan pengemasan porselen pada masa Dinasti Qing (1644-1911). Penemuan ini memberikan data empiris mengenai teknik logistik dan distribusi komoditas pada abad ke-19.

Aspek TemuanDetail Informasi
Asal PorselenJingdezhen, Provinsi Jiangxi
Metode PengemasanProduk Bambu Lokal
Estimasi WaktuMusim Panas atau Awal Musim Gugur

Analisis menunjukkan bahwa porselen tersebut tidak hanya diproduksi di Jingdezhen, tetapi juga dikemas dan dikirim langsung dari wilayah tersebut, mempertegas efisiensi rantai pasok maritim China pada era tersebut.

Stabilitas Jalur Sutra Maritim dan Konservasi

Bangkai kapal Yangtze No. 2 merupakan bukti fisik krusial bagi sejarah Jalur Sutra Maritim dan peran strategis Shanghai sebagai pusat perdagangan global. Kapal ini pertama kali ditemukan pada 2010 dan berhasil direlokasi pada 2022 menggunakan teknik pengangkatan terpadu untuk menjaga integritas strukturnya yang rapuh.

Saat ini, bangkai kapal ditempatkan di ruang pengawetan khusus sepanjang 48 meter dengan fasilitas arkeologi canggih. Langkah ini diambil untuk mendukung studi sejarah ekonomi dan perdagangan modern China yang lebih mendalam.

Analisis mengenai penyebab tenggelamnya kapal ini didasarkan pada laporan penelitian yang dirilis oleh tim arkeologi bawah air China dan dipublikasikan melalui saluran resmi Global Times pada Februari 2026.