Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi bahwa ia akan menjamu Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pada akhir tahun 2026. Pengumuman ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan NBC News pada Minggu (8/2/2026), menyusul pembicaraan krusial antara kedua pemimpin yang bertujuan menata ulang hubungan bilateral yang tegang akibat perang dagang dan isu strategis lainnya.
Kunjungan kenegaraan ini menandai upaya signifikan untuk meredakan friksi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Sebelumnya, Trump dijadwalkan akan melawat ke China pada April 2026, mendahului kedatangan Xi ke Washington.
Latar Belakang Ketegangan Bilateral
Sejak kembali menjabat, Presiden Trump telah menerapkan serangkaian kebijakan tarif yang agresif, menargetkan sektor baja, otomotif, dan industri lainnya dalam upaya mengurangi ketergantungan AS pada manufaktur China. Meskipun sempat terjadi eskalasi besar pada musim semi lalu, kedua negara mencapai kesepakatan gencatan perang dagang, namun keterikatan ekonomi tetap kuat.
Isu Taiwan menjadi salah satu titik gesekan utama. Presiden Xi Jinping, dalam pernyataannya yang dikutip dari lembaga penyiaran negara CCTV, memperingatkan Trump agar berhati-hati terkait penjualan senjata ke Taiwan. Beijing secara konsisten mengklaim Taiwan sebagai bagian integral dari kedaulatan teritorialnya, dan setiap dukungan militer AS terhadap Taipei dianggap sebagai intervensi.
Agenda Pembicaraan dan Respon Global
Dalam pembicaraan telepon antara Trump dan Xi, berbagai isu global turut dibahas, termasuk perang Rusia di Ukraina dan situasi di Iran. Dinamika keamanan global menjadi fokus penting, terutama setelah AS pada Jumat (6/2/2026) mendesak adanya pembicaraan trilateral dengan Rusia dan China untuk menetapkan batasan baru pada senjata nuklir.
Namun, Beijing dilaporkan menolak untuk bergabung dalam negosiasi pelucutan senjata tersebut pada tahap sekarang, menunjukkan perbedaan pandangan yang mendalam mengenai arsitektur keamanan strategis global. Trump menekankan pentingnya menjaga stabilitas komunikasi antara kedua negara, menyebutnya sebagai hubungan yang sangat baik antara dua negara paling kuat di dunia.
Analisis Strategis dan Prospek Hubungan
Kunjungan Xi Jinping ke Gedung Putih di akhir tahun 2026 dipandang sebagai momentum krusial untuk mengelola persaingan strategis antara AS dan China. Meskipun kedua pemimpin menyuarakan harapan untuk penyelesaian isu-isu bilateral secara damai, tantangan signifikan tetap ada, terutama terkait kebijakan perdagangan, status Taiwan, dan kontrol senjata nuklir.
Presiden Xi menyatakan,