Internasional

AS dan Israel Luncurkan Operasi Militer Besar di Iran, Picu Balasan Rudal Teheran ke Kawasan

Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan berskala besar, dinamai “Operation Epic Fury”, menargetkan sejumlah lokasi strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini memicu respons cepat dari Teheran yang membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel utara dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, menandai eskalasi signifikan di tengah ketegangan terkait program nuklir dan rudal balistik Iran.

Detail Operasi Militer dan Target Strategis

Laporan dari kantor berita Fars pada pukul 09.27 waktu setempat mengindikasikan serangkaian ledakan di Teheran, dengan koresponden Al Jazeera di Teheran barat mengonfirmasi dua ledakan dan rekaman media sosial menunjukkan kepulan asap dari beberapa titik kota. Seorang pejabat AS mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer gabungan dengan Israel, yang diberi nama resmi “Operation Epic Fury” oleh Departemen Pertahanan AS.

Pengerahan armada jet tempur dan kapal perang AS ke kawasan tersebut dalam beberapa pekan terakhir merupakan yang terbesar sejak Perang Irak. Target serangan dilaporkan mencakup area University Street dan Jomhouri di Teheran, dekat markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ledakan juga dilaporkan terjadi di wilayah Seyyed Khandan, dan kota-kota seperti Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, Karaj, serta Provinsi Lorestan.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tujuan operasi ini adalah untuk “menghancurkan misil mereka dan meratakan industri misil mereka hingga ke tanah,” serta “memusnahkan angkatan laut mereka.” Trump menegaskan operasi “masif dan sedang berlangsung” ini bertujuan menghilangkan ancaman yang disebut Washington sebagai ancaman segera dari pemerintah Iran, termasuk menghancurkan kapabilitas misil, menargetkan angkatan laut, mengganggu kelompok bersenjata dukungan Iran, dan mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menambahkan, operasi militer yang dinamai “Lion’s Roar” ini akan “berlanjut selama diperlukan.”

Latar Belakang Ketegangan dan Justifikasi Serangan

Serangan ini terjadi setelah bertahun-tahun ketegangan yang memuncak terkait program nuklir dan pengaruh regional Iran. Amerika Serikat dan Israel secara konsisten mengklaim bahwa aktivitas pengayaan uranium dan pengembangan kapabilitas misil Iran merupakan ancaman serius bagi keamanan regional dan global. Iran, di sisi lain, berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan tidak berniat membangun senjata nuklir, sembari menyoroti bahwa Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang secara luas diyakini memiliki persenjataan nuklir.

Eskalasi terbaru ini mengejutkan banyak pihak, mengingat kemajuan yang dilaporkan dalam perundingan yang dimediasi Oman di Jenewa. Dalam perundingan tersebut, Iran dilaporkan telah menyetujui untuk tidak menimbun uranium dan menerima verifikasi penuh dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Presiden Trump juga secara terbuka menyerukan agar rakyat Iran “mengambil alih” pemerintahan mereka, menyatakan, “Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda untuk diambil. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda selama beberapa generasi.”

Respons Iran dan Dampak Regional

Sebagai balasan, militer Israel melaporkan bahwa Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel. Sirene serangan udara berbunyi di beberapa wilayah, dan ledakan terdengar di Israel utara. Militer Israel menyatakan, “Publik diminta mengikuti instruksi Komando Front Dalam Negeri. Saat ini, Angkatan Udara Israel beroperasi untuk mencegat dan menyerang ancaman bila diperlukan untuk menghilangkan ancaman tersebut.”

Tidak lama setelah itu, pasukan Iran juga meluncurkan rudal ke sejumlah lokasi yang terkait dengan operasi militer AS di kawasan. Target-target ini meliputi pangkalan udara Al Udeid di Qatar, pangkalan Al-Salem di Kuwait, pangkalan Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, dan markas armada kelima AS di Bahrain. Ledakan juga dilaporkan terdengar di Riyadh, Arab Saudi, dan sebuah pangkalan AS di Yordania dilaporkan menjadi sasaran. Ebrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, mengancam respons yang “menghancurkan,” menyatakan, “Kami telah memperingatkan Anda! Sekarang Anda telah memulai jalan yang akhirnya tidak lagi berada dalam kendali Anda.”

Reaksi Internasional dan Seruan De-eskalasi

Komunitas internasional merespons dengan kekhawatiran mendalam. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan bahwa negosiasi aktif dan serius yang dimediasi negaranya “sekali lagi dirusak” dan mendesak Amerika Serikat untuk “tidak terseret lebih jauh” ke dalam konflik. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menggambarkan situasi sebagai “berbahaya” dan menyerukan perlindungan warga sipil serta penghormatan terhadap hukum internasional.

Presiden Perancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa konflik ini membawa “konsekuensi serius bagi perdamaian dan keamanan internasional” dan menegaskan, “Eskalasi saat ini berbahaya bagi semua orang. Ini harus dihentikan.” Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, mengkritik Presiden Trump dan menuduh Washington menggunakan negosiasi sebagai “operasi kedok.” Inggris menyatakan bahwa Iran tidak boleh diizinkan mengembangkan senjata nuklir dan siap mempertahankan kepentingannya, sementara Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan dukungan negaranya terhadap upaya AS untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan terus mengancam perdamaian internasional.

Analisis mengenai dinamika konflik ini didasarkan pada pernyataan resmi dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, militer Israel, Korps Garda Revolusi Islam Iran, serta laporan dari kantor berita terkemuka dan pernyataan publik dari kementerian luar negeri negara-negara yang terlibat, yang dirilis hingga Minggu, 01 Maret 2026.