Internasional

AS dan Israel Luncurkan Operasi Presisi, Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran di Teheran

Pada Sabtu, 28 Februari 2026 pagi, operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel berhasil menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, dalam serangan presisi di kediamannya di Teheran. Insiden ini segera memicu eskalasi konflik di kawasan Teluk, mengubah dinamika geopolitik Timur Tengah secara signifikan. Serangan yang dijuluki “Operation Genesis” ini menargetkan Khamenei di permukaan tanah, memastikan target tidak sempat melarikan diri ke lokasi yang tak terjangkau.

Latar Belakang Operasi “Genesis”

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, yang dikonfirmasi oleh media Iran tak lama setelah klaim AS dan Israel, merupakan puncak dari upaya intelijen jangka panjang. Berdasarkan rekonstruksi Wall Street Journal, operasi ini didahului oleh pengintaian intensif selama lebih dari dua dekade.

Pengintaian Intelijen Jangka Panjang

Unit 8200, unit intelijen siber rahasia Israel, telah memetakan rutinitas harian Ayatollah Ali Khamenei selama lebih dari 20 tahun. Mereka memanfaatkan berbagai teknologi canggih, termasuk penyaringan jutaan percakapan telepon, peretasan kamera lalu lintas di Teheran, serta perekrutan agen di lapangan. Informasi krusial yang diperoleh adalah kebiasaan Khamenei untuk turun ke bunker bawah tanah pada malam hari saat merasa terancam, namun kembali ke permukaan tanah pada pagi hari.

Kronologi Serangan Udara

Serangan dimulai dengan elemen kejutan yang maksimal, memanfaatkan informasi intelijen mengenai pergerakan target. Koordinasi antara pasukan AS dan Israel menjadi kunci keberhasilan operasi ini.

Peluncuran Rudal Blue Sparrow

Pada Sabtu pukul 07.30 pagi waktu Iran, jet tempur F-15 Israel beserta pesawat pendukung lainnya lepas landas. Misi mereka adalah mengeksekusi Khamenei saat ia berada di permukaan tanah. Pukul 09.40, jet-jet F-15 meluncurkan rudal udara-ke-darat Blue Sparrow dari jarak jauh. Rudal ini memiliki lintasan balistik yang sangat tinggi, bahkan hingga keluar dari atmosfer bumi, sebelum menukik tajam ke sasaran. Sumber yang memahami jalannya operasi tersebut mengungkapkan bahwa lintasan rudal yang tidak konvensional ini mengejutkan sistem pertahanan udara Iran dan orang-orang di dalam kompleks kepemimpinan di Teheran.

Hantaman rudal tersebut menyasar pertemuan para petinggi Iran di kompleks kediaman Khamenei. Karena dilakukan sebelum sistem pertahanan udara Iran sempat bereaksi, elemen kejutan sepenuhnya berpihak pada pasukan penyerang.

Dampak Awal dan Eskalasi Konflik

Lima menit setelah serangan dimulai, sekitar pukul 09.45, warga di seluruh penjuru Teheran menyaksikan kepulan asap hitam membumbung tinggi dari kompleks kediaman pemimpin tertinggi. Analisis video media sosial dan citra satelit pasca-serangan menunjukkan bahwa area kediaman Khamenei mengalami kerusakan paling parah. Sedikitnya enam bangunan di kompleks tersebut hancur, termasuk struktur dengan atap logam dan bangunan penghubung antar gedung.

Korban dari Jajaran Elite Iran

Selain Ayatollah Ali Khamenei, serangan presisi ini juga menewaskan jajaran elite militer dan intelijen Iran. Nama-nama penting seperti Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh dan Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammad Pakpour dilaporkan gugur dalam gedung yang sama. Menjelang malam, citra satelit menunjukkan kerusakan yang masih berasap di kompleks kepemimpinan, sementara di jalanan Teheran hingga Isfahan, massa berkumpul dalam suasana yang terbelah antara duka mendalam dan perayaan.

Respon Militer Iran dan Implikasi Regional

Begitu kematian Khamenei dipastikan, operasi gabungan AS-Israel beralih menjadi serangan skala penuh terhadap infrastruktur militer Iran. Angkatan Laut AS meluncurkan rudal Tomahawk dan roket Himars, menghancurkan kapal-kapal perang dan infrastruktur di selatan Iran. Israel mengerahkan hampir seluruh kekuatan udaranya, sekitar 200 jet tempur, untuk menghantam 500 target tambahan, termasuk situs radar, sistem rudal, dan pusat komando. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta beberapa aset Washington di Timur Tengah, memicu kembali perang di Teluk.

Kini, kepemimpinan Iran berada di tangan dewan sementara beranggotakan tiga orang: Presiden Masoud Pezeshkian, kepala kehakiman, dan utusan Dewan Garda, yang bertugas menavigasi negara di tengah krisis ini.

Analisis mengenai pergerakan militer dan dampak serangan ini didasarkan pada citra satelit, laporan intelijen publik, serta pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Amerika Serikat dan Israel yang dirilis pada 28 Februari 2026, serta rekonstruksi peristiwa oleh Wall Street Journal.