Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap sejumlah target di wilayah Iran. Aksi militer ini terjadi menyusul kebuntuan negosiasi diplomatik antara Teheran dan Washington, memicu kekhawatiran serius mengenai stabilitas regional dan pasokan energi global.
Dampak Strategis pada Pasar Minyak Global
Serangan terhadap Iran, salah satu produsen minyak utama dunia, diperkirakan akan menciptakan guncangan signifikan pada pasokan minyak mentah global. Para analis memperingatkan potensi lonjakan harga minyak ke level yang belum pernah terlihat dalam beberapa tahun terakhir, dengan implikasi ekonomi yang luas.
Iran saat ini menduduki peringkat 10 besar produsen minyak dunia. Meskipun produksinya sempat merosot tajam dari sekitar enam juta barel per hari pada tahun 1974 menjadi sekitar 3,1 juta barel per hari saat ini, peran Teheran dalam pasar energi tetap krusial. Negara ini juga memiliki cadangan minyak mentah terbesar ketiga di dunia, dengan biaya ekstraksi yang relatif rendah, sekitar 10 dollar AS per barel.
Ancaman Blokade Selat Hormuz dan Jalur Alternatif
Risiko geopolitik terbesar yang membayangi pasar global adalah potensi penutupan atau gangguan signifikan pada Selat Hormuz. Jalur perairan strategis ini merupakan urat nadi vital yang menghubungkan eksportir minyak Timur Tengah dengan pasar global.
- Data Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat bahwa sekitar 20 juta barel minyak mentah melintasi selat ini setiap harinya pada tahun 2024, setara dengan 20 persen konsumsi global.
- Kerentanan selat ini terletak pada dimensinya yang sempit (sekitar 50 km) dan dangkal, menjadikannya target potensial dalam eskalasi konflik.
- Arne Lohmann Rasmussen, kepala analis di Global Risk Management, menyatakan bahwa “bahkan keraguan kecil tentang keamanan di selat tersebut akan membuat perusahaan asuransi menaikkan premi secara tajam, sehingga kapal-kapal kesulitan melakukan transit.”
Analis Saxo Bank, Ole Hansen, menambahkan bahwa hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jalur alternatif berupa pipa darat, namun kapasitasnya terbatas hanya pada 2,6 juta barel per hari, jauh dari volume yang melintasi Hormuz.
Implikasi Regional dan Ekonomi Makro
Serangan ini juga memicu kecemasan di negara-negara tetangga Iran, termasuk negara-negara Teluk, Turki, dan Pakistan. Keberadaan pangkalan militer AS di negara-negara tersebut berpotensi menjadikan mereka sasaran empuk serangan balasan dari Iran.
“Iran memiliki rudal jarak menengah yang cukup untuk menyerang titik-titik vital seperti pusat hidrokarbon, pembangkit listrik, hingga pabrik desalinasi air,” ungkap Pierre Razoux dari Yayasan Mediterania untuk Studi Strategis.
Jika harga minyak menyentuh angka 100 dollar AS per barel, level yang terakhir terlihat pada awal invasi Rusia ke Ukraina, ekonomi global terancam kembali terperosok ke dalam inflasi tinggi. Situasi ini juga menjadi pertaruhan politik bagi Donald Trump, di mana kenaikan harga energi dapat menggerus popularitasnya menjelang pemilihan paruh waktu, terutama setelah janjinya untuk menyediakan energi murah bagi masyarakat AS.
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada laporan media internasional dan pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Amerika Serikat yang dirilis pada 28 Februari 2026.