Internasional

AS dan Israel Luncurkan Serangan Presisi di Teheran, Menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran; Rusia Absen

Serangan udara skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel menghantam Teheran pada Sabtu (28/2/2026) pagi, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu sorotan tajam terhadap dinamika aliansi global, khususnya respons Rusia yang, meski dikenal sebagai mitra strategis, hanya memberikan dukungan verbal saat Teheran menghadapi krisis.

Latar Belakang Serangan dan Respons Rusia

Peristiwa di Teheran menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan regional. Segera setelah serangan dimulai, diplomat tinggi Iran dilaporkan menghubungi Moskwa. Namun, menurut pernyataan resmi Rusia, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov hanya menyampaikan simpati dan janji dukungan retoris. Kemitraan strategis yang ditandatangani Rusia dan Iran pada April 2025 tidak mencakup klausul pertahanan bersama. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko menegaskan kepada Duma bahwa perjanjian tersebut tidak berarti pembentukan aliansi militer atau bantuan timbal balik.

Pola Keterlibatan Rusia dalam Krisis Sekutu

Insiden ini memperkuat pola respons Rusia terhadap sekutunya yang terdesak. Sejak invasi skala penuh ke Ukraina empat tahun lalu, Kremlin memproyeksikan diri sebagai pemimpin dunia multipolar yang menentang hegemoni Barat. Namun, dalam momen krusial, dukungan Rusia di lapangan kerap dinilai lemah. Presiden Suriah Bashar al-Assad menghadapi situasi serupa pada akhir 2024, ketika dukungan Rusia gagal mencegah pergerakan pasukan pemberontak mendekati Damaskus. Nicolas Maduro dari Venezuela juga mengalami nasib serupa, kini ditahan di AS. Kematian Khamenei semakin menyoroti kesenjangan antara retorika Kremlin dan realitas kekuatan di lapangan, di mana pengaruh AS tetap dominan.

Pertimbangan Geopolitik Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengakui faktor Israel sebagai pertimbangan utama yang menghambat intervensi militer langsung Rusia di Teheran. Dalam Forum Ekonomi St Petersburg pada Juni 2025, Putin menyoroti keberadaan sekitar dua juta mantan warga Uni Soviet yang kini bermukim di Israel. “Negara itu (Israel) hampir menjadi negara berbahasa Rusia hari ini. Dan kami tentu saja mempertimbangkan faktor tersebut,” ujar Putin saat itu, menjelaskan sikap netral Moskwa dalam konflik tersebut.

Narasi Kontra-Ofensif Kremlin

Meskipun kegagalan intervensi di Iran berpotensi merusak reputasi global Rusia, Moskwa berupaya mengarahkan narasi ini untuk kepentingan domestik dan diplomatiknya. Para pejabat Kremlin melancarkan kritik tajam terhadap Barat. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev, melalui unggahan di media sosial X, menyindir peran Presiden AS Donald Trump: “Sang ‘juru damai’ beraksi lagi. Pembicaraan dengan Iran hanyalah kedok. Semua orang tahu itu.” Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Fyodr Lukyanov, menambahkan bahwa diplomasi dengan Trump kini dianggap tidak efektif. Analis politik Rusia dari University College London, Vladimir Pastukhov, berpendapat bahwa situasi di Teheran justru akan memperkeras posisi Putin terkait konflik di Ukraina. “Akan sulit meyakinkan Putin bahwa dia pernah salah (mengenai bahaya Barat). Kepada mereka yang ragu, dia akan menunjuk ke Teheran dan berkata: ‘Itu bisa saja menimpa kita’,” tulis Pastukhov melalui Telegram. Moskwa kini tampaknya berharap sekutunya akan lebih fokus pada pesan ‘bahaya pengkhianatan Barat’ daripada mempertanyakan absennya dukungan militer Rusia di Iran.

Analisis mengenai serangan di Teheran dan respons diplomatik ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia, laporan dari media internasional, serta analisis pakar geopolitik yang dirilis pada periode Februari-Maret 2026.