Internasional

AS dan Israel: Serangan Udara Terkoordinasi Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Memicu Ketegangan Regional

Serangan udara terkoordinasi yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, menargetkan fasilitas militer dan pusat komando strategis di berbagai wilayah Iran. Operasi ini dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat senior pemerintah dan militer. Kematian Khamenei, yang dikonfirmasi oleh Islamic Republic News Agency (IRNA) pada Minggu pagi, 1 Maret 2026, berpotensi memicu eskalasi signifikan dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam keras serangan tersebut, menyebut pembunuhan Khamenei sebagai “deklarasi perang terbuka terhadap umat Islam”. Pernyataan ini, yang dikutip dari Aljazeera pada Minggu, menggarisbawahi tingkat keparahan insiden dan potensi dampaknya terhadap stabilitas regional.

Daftar Pejabat Tinggi Iran yang Gugur

IRNA juga melaporkan bahwa sejumlah pejabat tinggi lainnya turut menjadi korban dalam serangan gabungan AS-Israel. Berikut adalah daftar pejabat Iran yang dilaporkan tewas:

  • Ali Shamkhani: Sekretaris Dewan Pertahanan Iran dan penasihat dekat Pemimpin Tertinggi. Shamkhani (70), dikenal atas perannya dalam negosiasi program nuklir dengan AS. Ia sebelumnya pernah menjadi target serangan Israel pada Juni 2025, namun selamat. Baru-baru ini, ia diangkat sebagai sekretaris Dewan Pertahanan Iran, sebuah lembaga yang dibentuk pascaperang untuk mengoordinasikan kebijakan pertahanan dan keamanan nasional.
  • Abdolrahim Mousavi: Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, diangkat oleh Khamenei setelah serangan Israel pada Juni 2025. Mousavi memimpin angkatan darat Iran dari 2017 hingga 2025 dan merupakan tokoh kunci dalam pengembangan rudal balistik, sistem nirawak, serta program peluncuran antariksa Iran. Ia dikenai sanksi oleh AS, Uni Eropa, Inggris Raya, dan Australia pada Maret 2023 atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
  • Aziz Nasirzadeh: Menteri Pertahanan Iran dalam pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian. Sebelumnya, ia menjabat wakil kepala staf angkatan bersenjata dan komandan angkatan udara Iran (2018–2021). Nasirzadeh memainkan peran penting dalam menjaga infrastruktur militer dan nuklir Iran, serta pernah memperingatkan bahwa Teheran akan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan jika diserang.
  • Mohammad Pakpour: Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sejak Juni 2025. Pakpour adalah komandan veteran yang membangun kariernya di IRGC sejak perang Iran–Irak pada 1980-an, dan sebelumnya memimpin pasukan darat IRGC selama 16 tahun.
  • Salah Asadi: Kepala komando darurat Iran dan perwira senior di Staf Umum. Asadi digambarkan terlibat dalam perumusan strategi Iran melawan Israel dan AS, serta aktif dalam rencana untuk menghancurkan Israel.
  • Mohammad Shirazi: Kepala kantor militer Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei sejak 1989. Ia bertanggung jawab mengoordinasikan komunikasi antara komandan angkatan bersenjata senior dan Khamenei.
  • Hossein Jabal Amelian: Kepala Organisasi Inovasi dan Riset Pertahanan (SPND). Amelian digambarkan bertanggung jawab atas pengembangan teknologi canggih dan senjata untuk rezim Iran, termasuk proyek-proyek terkait senjata nuklir, biologi, dan kimia.
  • Reza Mozaffari-Nia: Mantan kepala SPND, dikatakan berperan dalam memajukan upaya pengembangan senjata nuklir Iran.
  • Mahmoud Ahmadinejad: Mantan Presiden Iran (69), dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel yang menghantam kediamannya di Narnak, timur laut Teheran. Ahmadinejad, yang menjabat dari 2005 hingga 2013, dikenal sebagai tokoh vokal penentang Israel dan Barat, serta simbol perlawanan Teheran terhadap negara-negara Barat.

Implikasi Strategis dan Reaksi Internasional

Kematian sejumlah pejabat kunci ini, terutama Pemimpin Tertinggi Khamenei, menciptakan kekosongan kepemimpinan yang signifikan di Iran. Hal ini berpotensi memicu ketidakpastian politik internal dan memengaruhi arah kebijakan luar negeri serta program pertahanan Iran di masa depan. Pernyataan Presiden Pezeshkian mengenai “deklarasi perang terbuka” mengindikasikan bahwa Teheran kemungkinan akan mempertimbangkan respons strategis yang serius.

Analisis mengenai insiden ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi Islamic Republic News Agency (IRNA), dan kutipan dari pejabat pemerintah Iran yang dirilis pada 1 Maret 2026.