Internasional

AS dan Rusia Biarkan Traktat New START Berakhir, PBB Peringatkan Ketidakpastian Global

Pada Jumat, 06 Februari 2026, dunia memasuki era baru tanpa kerangka pembatasan senjata nuklir strategis yang mengikat antara Amerika Serikat dan Federasi Rusia, menyusul berakhirnya Traktat New START. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa situasi ini membawa komunitas internasional ke dalam fase yang sangat berbahaya, menghilangkan pagar pengaman krusial yang selama ini menahan perlombaan senjata nuklir.

Implikasi Strategis Berakhirnya Traktat New START

Traktat New START, yang telah berlaku selama 15 tahun sejak 5 Februari 2011, secara resmi tidak lagi berlaku pada 5 Februari 2026. Perjanjian ini merupakan instrumen utama yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis dan sistem pengiriman (delivery systems) kedua negara adidaya nuklir tersebut.

Dalam pernyataan resminya pada Rabu (4/2/2026), Guterres menegaskan, “Berakhirnya Traktat New START tengah malam ini merupakan masa yang kelam bagi perdamaian dan keamanan internasional.” Ia menambahkan bahwa dunia kini menghadapi kondisi “tanpa batasan yang mengikat terkait persenjataan nuklir strategis antara Federasi Rusia dan Amerika Serikat.” Hilangnya ketentuan hukum ini menciptakan ketidakpastian serius bagi stabilitas global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perkembangan teknologi militer yang pesat.

Dinamika Pengendalian Senjata Nuklir Global

Pengaturan senjata antara Washington dan Moskwa selama puluhan tahun telah menjadi pilar penting dalam menjaga keseimbangan strategis global. Sejak era Perundingan Pembatasan Senjata Strategis (SALT) hingga New START, serangkaian kesepakatan bilateral berhasil memangkas ribuan hulu ledak nuklir, mencegah kesalahan perhitungan yang berpotensi memicu bencana.

Guterres menggarisbawahi bahwa “Pembubaran capaian selama puluhan tahun ini tidak bisa terjadi pada waktu yang lebih buruk,” seraya menekankan bahwa “risiko penggunaan senjata nuklir saat ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa dekade.” Tanpa mekanisme pengawasan bersama yang bisa diverifikasi, potensi salah tafsir atau eskalasi tak terkendali dinilai semakin besar, memperparah kecemasan internasional.

Seruan untuk Dialog dan Mekanisme Baru

Meskipun demikian, Guterres melihat adanya celah diplomatik di tengah krisis ini. Ia menyerukan agar kondisi tersebut menjadi momentum untuk memulai kembali pembicaraan pengendalian senjata yang lebih luas dan komprehensif. “Dunia kini menantikan Federasi Rusia dan Amerika Serikat untuk melaksanakan apa yang mereka ucapkan,” tegas Guterres, mendesak kedua negara untuk segera melanjutkan dialog.

Ia menyerukan pembentukan perjanjian baru yang “memulihkan batasan yang bisa diverifikasi, mengurangi risiko, dan memperkuat keamanan kolektif.” Traktat New START sendiri ditandatangani di Praha pada 8 April 2010, menggantikan START I yang berakhir pada 2009 serta Strategic Offensive Reductions Treaty (SORT) 2002.

Analisis mengenai berakhirnya Traktat New START ini didasarkan pada pernyataan resmi Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada 4 Februari 2026, serta data historis perjanjian pengendalian senjata nuklir yang dicatat oleh Arms Control Association yang berbasis di Amerika Serikat.