Serangan militer terbaru yang mengguncang kawasan Timur Tengah oleh aliansi Amerika Serikat dan Israel kembali meningkatkan ketegangan dengan Iran. Peristiwa ini memicu pertanyaan krusial mengenai posisi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Federasi Rusia, dua mitra strategis Teheran, dalam menghadapi tekanan Washington dan Tel Aviv. Hingga Selasa, 03 Maret 2026, respons Beijing dan Moskwa cenderung membatasi diri pada dukungan diplomatik dan penguatan kapabilitas pertahanan terbatas, tanpa indikasi keterlibatan militer langsung.
Dinamika Respons Beijing dan Moskwa
Laporan CNN pada Senin (2/3/2026) menggarisbawahi klaim Iran mengenai kemitraan strategisnya dengan Rusia dan Tiongkok. Teheran diketahui memasok rudal dan drone untuk operasi militer Rusia di Ukraina, serta mengandalkan Tiongkok sebagai tujuan utama ekspor minyaknya, mencakup sekitar 80 persen pasokan. Kepentingan Beijing terhadap stabilitas jalur perdagangan global melalui Selat Hormuz juga menjadi faktor vital dalam hubungan bilateral ini. Meskipun demikian, respons awal dari Moskwa dan Beijing terhadap eskalasi terbaru dinilai minim dalam bentuk tindakan konkret. Percakapan telepon antara menteri luar negeri Rusia dan Tiongkok pada Minggu (28/2/2026) hanya memuat kecaman lisan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel, tanpa merinci langkah-langkah lanjutan. Kondisi ini menempatkan Iran dalam posisi menghadapi tekanan eksternal dengan kapasitas pertahanannya sendiri di lapangan.
Strategi Diplomatik dan Legitimasi Global China
Middle East Eye pada Sabtu (28/2/2026) melaporkan bahwa probabilitas Tiongkok dan Rusia mengirim pasukan atau terlibat langsung dalam pertempuran di Iran tergolong kecil. Pendekatan Beijing dan Moskwa dinilai bergerak dalam dimensi strategi yang berbeda, tidak selalu termanifestasi dalam pengerahan militer. Dukungan Tiongkok terhadap Iran berlangsung melalui jalur diplomasi, ekonomi, dan upaya legitimasi internasional. Tiongkok secara konsisten menggunakan hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai instrumen politik utamanya. Dalam pertemuan darurat bulan lalu, Duta Besar Tiongkok untuk PBB, Sun Lei, menyampaikan kritik tajam terhadap penggunaan kekuatan militer. “Penggunaan kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Itu hanya akan membuat masalah menjadi lebih kompleks dan sulit diatasi. Petualangan militer apa pun hanya akan mendorong kawasan ini menuju jurang yang tak terduga,” kata Sun Lei. Sikap ini mempertegas dukungan Beijing terhadap kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran, merujuk pada Piagam PBB dan prinsip hukum internasional sebagai dasar argumentasi dalam forum global. Langkah tersebut memberikan Teheran dukungan berupa legitimasi internasional serta narasi tandingan terhadap tekanan negara-negara Barat.
Penguatan Pertahanan Udara Iran oleh Rusia
Federasi Rusia dilaporkan memperkuat kerja sama pertahanan dengan Iran pasca-konflik 12 hari melawan Israel pada Juni 2025. Foundation for Defense of Democracies pada Kamis (26/2/2026) melaporkan bahwa Iran berharap Moskwa membantu memperkuat sistem pertahanan udaranya yang melemah. Permintaan ini muncul di tengah peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah, yang disebut sebagai pengerahan terbesar sejak invasi Irak pada tahun 2003. Financial Times melaporkan adanya kesepakatan senilai 495 juta euro, atau sekitar Rp 9,8 triliun, untuk pengiriman sistem pertahanan udara baru “Verba” dari Rusia ke Iran. Kesepakatan tersebut diteken pada Desember 2025, menyusul permintaan resmi Teheran pada Juli 2025, tidak lama setelah konflik dengan Israel. Konflik tersebut, serta dua serangan Israel sebelumnya pada tahun 2024, mengakibatkan sejumlah sistem pertahanan udara Iran hancur atau rusak, termasuk baterai rudal permukaan-ke-udara jarak jauh S-300 buatan Rusia.
Spesifikasi Sistem Pertahanan Udara Verba
Sistem 9K333 Verba, dengan kode NATO SA-29 Gizmo, merupakan sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) tercanggih Rusia yang diproduksi massal. Sistem ini mampu menargetkan pesawat hingga jarak sekitar 6 kilometer pada ketinggian hampir 15.000 kaki (sekitar 4.572 meter). Verba menggunakan pencari multispektral yang mencakup ultraviolet, inframerah dekat, dan inframerah tengah untuk meningkatkan akurasi sasaran. Meskipun demikian, sejumlah analis menilai bahwa sistem tersebut kecil kemungkinan akan mengubah secara signifikan kalkulasi militer apabila Amerika Serikat melancarkan operasi berskala besar terhadap Iran.
Peran Tiongkok dan Rusia dalam eskalasi ini sejauh ini terlihat lebih dominan di ranah diplomatik dan dukungan pertahanan terbatas, dibandingkan keterlibatan tempur langsung. Analisis mengenai dinamika respons ini didasarkan pada laporan media internasional terkemuka seperti CNN, Middle East Eye, Financial Times, serta laporan intelijen publik dari Foundation for Defense of Democracies yang dirilis sepanjang Februari dan Maret 2026.