Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer skala besar terhadap wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026), memicu respons balasan masif dari Teheran yang menargetkan Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Eskalasi ini mencapai puncaknya dengan klaim kematian pemimpin tertinggi Iran dan penutupan Selat Hormuz, jalur maritim vital bagi pasokan energi global.
Operasi Militer AS-Israel dan Klaim Kematian Pemimpin Tertinggi Iran
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi ini sebagai langkah preventif untuk mengeliminasi ancaman mendesak. Pada Sabtu malam, Trump mengumumkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengklaim keberhasilan sistem intelijen canggih AS. Trump menegaskan operasi militer akan terus berlanjut sepanjang pekan ini jika diperlukan, dengan dalih demi menciptakan perdamaian di Timur Tengah.
Militer Israel melaporkan telah menghantam lebih dari 500 target strategis, termasuk lokasi pertemuan pejabat senior Iran di Teheran, dengan pengerahan 200 jet tempur. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperingatkan bahwa ribuan target lainnya akan diserang dalam beberapa hari mendatang.
Situs Mizan Online milik lembaga peradilan Iran menyebutkan, 108 orang tewas dalam serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di Minab, mengutip seorang pejabat provinsi yang menyalahkan Israel. Kantor berita AFP tidak dapat mengakses lokasi tersebut untuk memverifikasi jumlah korban secara independen.
Respons Balasan Iran dan Dampak Regional
Sebagai tanggapan, Garda Revolusi Iran mengatakan, mereka menargetkan Armada Kelima AS di Bahrain dan pangkalan-pangkalan AS lainnya di Teluk, setelah meluncurkan gelombang pertama serangan rudal dan pesawat tak berawak ke Israel. Layanan darurat Magen David Adom Israel menyebutkan, pihaknya sedang merawat seorang pria dengan luka akibat ledakan di bagian utara negara itu, setelah rudal diluncurkan dari Iran. Militer Israel mengaku telah mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan ke berbagai lokasi di seluruh negeri menyusul laporan jatuhnya proyektil.
Ledakan dilaporkan terjadi di seluruh wilayah Teluk. Uni Emirat Arab mengatakan, pihaknya mencegat gelombang serangan Iran kedua, setelah gelombang pertama menewaskan seorang warga sipil di Abu Dhabi. Koresponden AFP di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, mendengar ledakan keras, begitu pula di ibu kota Bahrain, Manama, dan di seluruh Doha, Qatar. Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan telah mencegat beberapa serangan rudal yang menargetkan negara Teluk tersebut.
Sebuah drone menyerang bandara internasional Kuwait dan sebuah pangkalan yang menampung personel AS menjadi sasaran. Tiga tentara Kuwait dan 12 orang lainnya terluka, kata pihak berwenang. Arab Saudi mengutuk serangan Iran yang menargetkan negara-negara tetangganya, tetapi tidak menyebutkan serangan apa pun terhadap kerajaan tersebut. Yordania mengatakan telah mencegat 13 rudal balistik. Menurut wartawan AFP, ledakan juga terdengar di dekat konsulat AS di Erbil, Irak. Dua orang tewas dalam serangan udara terhadap pangkalan militer Irak yang menjadi markas kelompok pro-Iran yang berpengaruh, Kataeb Hezbollah, yang mengancam AS dengan serangan balasan. Pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, bersumpah akan memberi pelajaran yang tak terlupakan kepada AS dan Israel.
Penutupan Selat Hormuz dan Implikasi Global
Garda Revolusi Iran juga bergerak untuk menutup Selat Hormuz, jalur air vital yang dilalui sebagian besar minyak dan gas dunia. Para penjaga memperingatkan beberapa kapal bahwa selat itu pada dasarnya tertutup. Misi angkatan laut Uni Eropa ke Laut Merah mengonfirmasi bahwa kapal-kapal telah menerima pesan radio meskipun tidak ada perintah penutupan resmi. Langkah ini berpotensi memicu gejolak signifikan pada pasar energi global dan rantai pasok maritim.
Analisis mengenai eskalasi konflik ini didasarkan pada pernyataan resmi dari Gedung Putih, Kementerian Pertahanan Israel, Garda Revolusi Iran, serta laporan dari kantor berita AFP dan Mizan Online yang dirilis hingga Minggu, 01 Maret 2026.