Internasional

AS-Israel Luncurkan Operasi Militer Skala Besar di Iran, DK PBB Gelar Pertemuan Darurat

Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan operasi militer skala besar terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, memicu kecaman keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Serangan ini menandai eskalasi signifikan di kawasan Timur Tengah, dengan potensi dampak strategis yang luas.

Kecaman Internasional dan Peringatan PBB

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, mengecam keras serangan tersebut, menyesalkan hilangnya kesempatan untuk diplomasi. Guterres memperingatkan bahwa “aksi militer membawa risiko memicu serangkaian peristiwa yang tidak dapat dikendalikan siapa pun di wilayah paling bergejolak di dunia.”

Laporan awal mengindikasikan banyaknya korban sipil. Media Iran melaporkan sedikitnya 85 orang tewas dan banyak lainnya terluka di sebuah sekolah perempuan di Minab, Provinsi Hormozgan, serta dua kematian di sebuah sekolah di Teheran. Sementara itu, sumber-sumber Israel mengklaim 89 orang terluka akibat serangan balasan Iran terhadap Israel.

Klaim Kematian Pemimpin Tertinggi Iran dan Bantahan Teheran

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut, mengklaim Khamenei telah menjadi sasaran intelijen dan sistem pelacakan AS. Israel juga meyakini kematian Khamenei, dengan seorang sumber yang menerima pengarahan operasi menyebutkan sedikitnya 30 bom dijatuhkan ke kompleks kediaman Khamenei, menghancurkan bangunan tersebut hingga rata dengan tanah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut mengonfirmasi penghancuran kompleks tersebut.

Namun, Iran membantah klaim kematian Khamenei. Pejabat Iran memperingatkan adanya “perang mental” dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan kepada NBC News bahwa Pemimpin Tertinggi Iran masih hidup dan dalam keadaan baik.

Detail Operasi Militer “Epic Fury”

Serangan Israel ke Iran pada Sabtu pagi didukung penuh oleh Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mengidentifikasi operasi ini sebagai “Operation Epic Fury,” yang diluncurkan untuk “memastikan warga Amerika tidak lagi terancam oleh Iran yang bersenjata nuklir.”

Rudal-rudal Israel dilaporkan menghantam titik-titik vital di Teheran, termasuk kawasan Jalan Universitas dan Jomhouri. Kantor berita AFP juga melaporkan ledakan besar di Isfahan, Tabriz, Karaj, Kermanshah, Qom, Ilam, dan Provinsi Lorestan, menjadikan total sedikitnya tujuh kota di Iran menjadi sasaran serangan udara.

Analisis mengenai operasi militer ini didasarkan pada pernyataan resmi dari Gedung Putih, Kementerian Pertahanan Israel, dan laporan media Iran yang dirilis pada 28 Februari 2026, serta pernyataan Sekretaris Jenderal PBB.