Internasional

AS-Israel: Luncurkan Serangan Presisi ke Iran, Tewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei

Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer skala besar terhadap Iran, yang berujung pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Presiden AS Donald Trump segera memaparkan lima tujuan strategis di balik operasi ini, menandai eskalasi signifikan dalam kebijakan luar negeri Washington di Timur Tengah yang sebelumnya mengedepankan pendekatan diplomasi.

Tujuan Strategis Washington di Balik Operasi Militer

Dalam pidato kenegaraan dan pesan video resminya, Presiden Trump merinci sejumlah tujuan utama yang mendasari serangan tersebut:

  • Mencegah Iran Memiliki Senjata Nuklir: Trump menegaskan bahwa Iran “tidak boleh memiliki senjata nuklir” dan mengklaim serangan tersebut telah menghancurkan program nuklir Iran, namun menuduh Teheran kembali mengembangkannya. Sebagaimana dilansir Reuters, AS dan Israel menilai Iran semakin dekat dengan kemampuan memproduksi senjata nuklir. Namun, International Atomic Energy Agency (IAEA) dan komunitas intelijen AS menyatakan Iran telah menghentikan program senjata nuklir sejak 2003. Iran sendiri membantah tuduhan tersebut, menyebut program nuklirnya untuk kepentingan sipil.
  • Menahan Program Rudal Iran: Presiden Trump menyoroti perkembangan program rudal Iran yang dinilai semakin mengancam. Ia menyebut Iran tengah mengembangkan rudal jarak jauh yang berpotensi menjangkau Eropa hingga Amerika Serikat, meskipun tidak disertai bukti rinci dalam pernyataannya.
  • Menghilangkan Ancaman terhadap AS dan Sekutunya: Trump menyatakan operasi ini bertujuan melindungi warga AS dengan menghilangkan ancaman dari Iran dan kelompok proksinya. Ia merujuk pada sejumlah insiden, mulai dari krisis sandera di Teheran pada 1979 hingga serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah, serta menyinggung dukungan Iran terhadap kelompok militan seperti Hamas dalam konflik dengan Israel.
  • Menyoroti Pelanggaran Hak Asasi Manusia: Trump menuduh pemerintah Iran telah membunuh puluhan ribu demonstran dalam beberapa bulan terakhir, meskipun angka tersebut belum terverifikasi secara independen. Kelompok pemantau HAM melaporkan ribuan kematian, sementara pemerintah Iran menyebut jumlah korban jauh lebih rendah.
  • Mendorong Perubahan Rezim: Secara terbuka, Trump menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahnya. Ia menyatakan operasi militer akan terus berlanjut hingga tujuan tersebut tercapai, sekaligus menegaskan adanya dimensi politik berupa dorongan perubahan rezim di Iran.

Dampak Regional dan Respon Iran

Media Iran, seperti Tasnim dan Fars, mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei, meskipun belum merinci penyebab pasti kematiannya. Pasca-kejadian, Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta tujuh hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan.

Citra satelit dari Airbus Defence and Space menunjukkan kompleks Beit-e Rahbari, yang menjadi kediaman sekaligus pusat aktivitas pemimpin tertinggi Iran, mengalami kerusakan parah akibat serangan tersebut. Insiden ini menandai eskalasi besar konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu dampak luas, baik di tingkat regional maupun global, serta memicu kekhawatiran akan peningkatan ketegangan geopolitik.

Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada citra satelit dan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat yang dirilis pada 28 Februari 2026, serta laporan dari berbagai kantor berita internasional.